Hiruk Pikuk Keseharian Lupus
HIRUK PIKUK KESEHARIAN LUPUS
Judul Buku : Lupus Kecil Klasik
Nama Penulis : Hilman & Boim
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2013
Jumlah Halaman : 376 Halaman
ISBN : 978-979-22-9679-2
Suara ayam yang berkokok dengan lantang dan nyanyian burung – burung mulai terdengar, girang menyambut terbitnya matahari. Ayam–ayam itu terus berbunyi, enggan berhenti bila belum ada tanda – tanda kehidupan. Tiba – tiba, sebuah kepala mungil muncul melongok dari jendela suatu rumah, menyapa pagi dengan senyum yang manis. Lupus namanya. Anak yang bisa dibilang masih kecil, usianya masih 7 tahun. Tapi, sudah cukup besar untuk masuk Sekolah Dasar. Keren, bukan?
Matahari berangsur–angsur menghilangkan rasa malunya, dan sinarnya memancar terang menyinari bumi. Lupus cepat–cepat pergi ke kamar mandi. Entah ia yang terlalu bersemangat atau pintu kamar mandi miliknya yang terlalu lemah, tetapi engsel pintunya jatuh dan menimpa kepalanya. Ia tak menghiraukannya dan langsung masuk ke kamar mandi. Tapi, apa yang terjadi? Teriakan Lupus terdengar dari dalam, “Adaaaooo…kepala saya, sakiiit!!”. Usut punya usut, ia berpura–pura karena malu akan ditertawakan adiknya. Ada – ada saja.
Sekarang, si kepala mungil dengan benjol sudah siap dengan seragamnya. Seragam merah putih yang menunjukkan identitasnya sebagai murid 1 SD. Ingat kan? Lupus berumur 7 tahun, ia wajib masuk sekolah. Lupus berangkat menuju sekolah dengan adiknya, Lulu, yang walau sudah berusia 6 tahun tetapi masih cadel. Lebih tepatnya, masih dicadel – cadelkan. Lulu masih ingin dimanja oleh Ibu.
Di sekolah, Lupus adalah anak yang banyak disukai karena kepribadiannya yang periang dan tidak cengeng. Lupus paling berani bila disuruh Ibu Guru maju dan menyanyi. Lagu kesukaannya adalah Gundul Pacul. Ketika ia diminta untuk menyanyikan lagu yang lain, Halo-halo Bandung, Lupus malah menyanyikannya dengan nada lagu favoritnya.
“Halo-halo Bandung dung
Gembelengan
Halo-halo Bandung dung
Gembelengan…”
Anak-anak pun sontak tertawa terbahak-bahak. Masa lagu Halo-halo Bandung di nyayikan dengan nada Gundul Pacul? Ibu Guru hanya pasrah melihat kelakuan Lupus.
Lupus juga suka mendengarkan radio di rumah. Biasanya di sore hari, ketika stasiun radio menyetel lagu anak–anak. Tapi tak hanya lagunya, Lupus juga suka mendengarkan warta berita. Bapak membelikan radio merah kecil untuk Lupus. Bentuknya begitu indah. Lupus begitu menyukai pemberian Bapak. Tiap hari, radio merah itu ia setel, bahkan ia bawa untuk tidur bersamanya. Ibu yang menegur Lupus karena khawatir radio tersebut rusak, malah dibuat bingung dengan jawaban Lupus.
“Malahan, radio ini selalu Lupus selimuti biar hangat. Biar tidurnya nyenyak. Sampai-sampai dia ngorok terus. Kresek, kresek…begitu, Bu.”
Berbeda dengan Lulu yang penurut, Lupus memang cenderung keras kepala. Dia selalu yakin apa yang dikatakannya benar. Ia pernah ditanya, hewan apa yang paling kecil di dunia? Lupus menjawab gajah. Aneh, kan? Tapi dia tak mau tahu. Apa yang ia katakan itu benar. Kalau ia salah, berarti tinggal diganti saja pertanyaannya agar jawaban Lupus benar. Yah, begitulah Lupus. Yang selalu ceria, tetapi kadang keras kepala.
Suatu hari, Lupus meminta kamar sendiri kepada orangtuanya. Ia merasa sudah besar, tak ingin lagi sekamar dengan Bapak dan Ibu. Tak lagi bersebelahan dengan ranjang Lulu yang bentuknya mirip dengan rumah boneka. Itu bagus, kata Bapak. Seorang anak, apalagi laki – laki, memang harus tidur terpisah dari orangtua. Belajar mandiri, menata dan mengatur kamar pribadi. Lupus kegirangan bukan main. Bagaimana tidak? Keinginannya dikabulkan oleh kedua orangtua nya. Lupus terus menerus meledek Lulu, yang juga ingin memiliki kamar sendiri, tetapi tidak diizinkan oleh Ibu lantaran masih terlalu kecil. Lulu hanya diam saja ketika dicibiri Lupus.
Maka, seharian itu Lupus habiskan menata kamar barunya. Rak buku yang baru dibelikan oleh Bapak dan Ibu, tampaknya menjadi pusat perhatian Lupus. Sebab, koleksi buku cerita Lupus begitu banyak. Belum lagi mobil–mobilan dan robot–robotan miliknya. Mau ditaruh di mana? Mereka belum kebagian tempat. Lupus bingung harus memilih yang mana.
Setelah menimbang–nimbang, Lupus memutuskan untuk memilih semuanya. Baik buku, mobil, dan robot, semua sama pentingnya. Lagi pula, bila tidak ada Lupus, robot – robotnya pasti kesepian. Mereka bisa membaca buku Lupus bila merasa bosan.
Maka, setelah urusan rak buku selesai, Lupus Kembali sibuk mengatur perabotan lainnya. Tempat tidur, letak kipas angin, letak meja belajar, dan lemari pakaian, semua ia tata sedemikian rupa. Bagaimana agar semua barang kesayangannya bisa masuk, dan terpajang manis di kamarnya.
Pemindahan Lupus dibantu oleh Mang Unang, yang suka membantu memotong rumput di rumahnya. Lupus begitu asyik menata kamarnya, sampai – sampai ia lupa waktu makan siang. Untung Ibu mengingatkan Lupus, Ibu memang orang yang baik hati. Tapi menurut Lupus, ibunya itu termasuk Ibu yang lucu juga, walau kalau lagi marah tampangnya begitu galak.
Ibu Lupus Bersama ibu – ibu tetangga lainnya, suka mengikuti kegiatan semacam Dharma Wanita. Lupus kurang paham nama kegiatan itu sebenarnya apa. Pokoknya, mereka suka mengadakan kumpul – kumpul, seminar, atau sekadar mengobrol. Kegiatan rutin para ibu itu biasanya dilakukan di balai pertemuan, dekat lapangan tenis. Lupus suka mengintip Ibu - nya saat ada seminar, ketika ia menemani Bapak bermain tenis.
Pernah Lupus mendengar ada suatu pertanyaan yang diajukan oleh ibu pembina, “Ibu-ibu sekalian, apa yang harus Ibu-ibu lakukan bila mengetahui anak Ibu secara teratur mencuri uang dari anggaran rumah tangga?”
Sejenak, ruangan balai pertemuan hening. Tidak ada yang angkat suara. Tapi tiba-tiba Ibu Lupus menjawab dengan lantang, “Kita curi lagi uang jajannya!”
Ibu pembina pun terheran-heran, sedangkan Lupus tertawa terpingkal-pingkal di luar. Tapi Lupus merasa, ada keuntungan tersendiri bila juga Ibu mengikuti perkumpulan seperti itu. Paling tidak, Lupus pernah mendengar pesan yang disampaikan kepada para ibu-ibu: harus memberi kebebasan bermain bagi sang anak. Bahwa bermain-main bukanlah hal yang “mewah”, melainkan keharusan yang mutlak bagi anak – anak.
Itulah mengapa Ibu Lupus selalu memberi peluang lebar–lebar baginya untuk bermain. Lupus pun tak segan memanfaatkan kebaikan Ibu-nya. Tak jarang ia pulang terlalu sore ke rumah. Saking penasarannya, suatu waktu Ibu Lupus bertanya kepada Lupus, “Sebetulnya kamu itu main apa sih sampai sore begini baru pulang?”
“Main yang jauuuuhhhh sekali…,” jawab Lupus sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi. Hihihi, dia takut terkena jewer dan amukan ibu tercintanya. Tapi itulah. Pada dasarnya, Ibu Lupus memang ibu yang baik. Tiap sore, masih menyempatkan diri minum teh dan kue bersama Bapak, Lupus, dan si kecil Lulu. Sore hari biasanya dimanfaatkan oleh keluarga Lupus untuk saling menceritakan keseharian mereka.
Biasanya mulai dari Lulu yang dengan semangat menceritakan pengalamannya, tak lupa dengan kecadelannya yang dibuat – buat. “Bu, Kak Luputs celalu kalah dong kalo main halma cama Lulu.”
“O ya? Memangnya kamu sudah bisa melangkahkan biji-biji halma itu?”
“Bica, Bu. Kalo Kak Luputs cudah memulai langkahnya, keltats halma itu langsung Lulu balik aja. Jadinya Kak Luputs kalah, kan, Bu?
Ibunya tertawa, sambil menguap lebar. Uaah, hari yang melelahkan.
Bapak Lupus juga orang yang baik hati, seperti Ibu Lupus. Satu hal yang tidak ia sukai, Bapak orangnya pelit sekali. Jarang mau beroyal-ria memberi uang jajan kepada Lupus. Pernah Lupus mau ikut acara piknik di sekolahnya, dan ia meminta uang tambahan kepada Bapak, sambil sebelumnya memijit kaki Bapak. Tapi, setelah capek memijit, Lupus hanya diberi tambahan oleh Bapak sebanyak 100 perak.
“Tambahan jajan? Seratus perak cukup kan?” ucap Bapak begitu entengnya. Idih, Bapak. Seratus perak sih buat beli jajan juga pas–pasan. Bagaimana bisa Lupus membelikan oleh – oleh untuk keluarganya, belum lagi jajan es krim, beli kue, wah…macam – macam deh. Tapi Bapak tetap tak memberi. Alasannya, jangan jajan sembarangan, nanti sakit perut. Bawa saja bekal dari rumah. Lupus ngambek mendengar jawaban Bapak. Ia mogok memijit kaki Bapak seminggu penuh. Tapi sore ini, Lupus berbaikan lagi dengan Bapak karena sudah diberikan kamar baru.
Sore itu dihabiskan dengan celotehan-celotehan Lulu, “Bu, Lulu tadi abis dali luma Lita, dong. Dicana, main lompat-lompatan. U, celu deh. Lita sampe jatoh, kakinya beldalah, teluts dikacih obat merah. Tapi Lita main lagi. Lulu juga dikacih bubul kacang ijo sama maminya Lita. Enak lho, Bu. Manits. Anak-anak pada belebutan. E, Loni mukanya kena bubul, Bu. Dia nangits, semua diomelin mami Lita. Iiih, maca Iu tidul, cih? Lulu cebel…cebel….cebel…”
Ternyata oh ternyata, Bapak, Ibu, dan Lupus kelelahan. Mereka tertidur, bahkan suara dengkur mereka bersahutan menciptakan harmoni tersendiri.
Dan sekarang, hari sudah mulai gelap. Meski acara televisi masih berjalan, tetapi sudah dimatikan sedari tadi. Ternyata hari ini semua merasa letih. Merasa ingin lebih awal masuk dan terlelap di tempat tidur.
Lupus pun kini sudah berada di kamar barunya. Ini malam pertama ia tidur sendirian. Mula – mula, biasa – biasa saja. Tidak ada rasa khawatir atau takut pada hati Lupus. Tapi lama – lama, suara gesekan daun di luar yang tertiup angin, mengusik Lupus yang tak kunjung dapat memejamkan mata. Suara itu terdengar mengerikan sekarang.
Untuk sekadar mengusir rasa takut, Lupus pun memandangi koleksi robot–robotannya yang bertengger manis di rak buku yang sudah ia tata siang tadi. Satu demi satu, ia tatap lekat – lekat. Tapi, robot–robot yang biasanya nampak bersahabat itu, kini tidak. Sorot matanya tajam. Apalagi boneka E.T.- nya. Jarinya yang merah seakan menyala – nyala. Bergerak – gerak.
Bulu roma Lupus mulai berdiri satu–satu. Ia semakin menenggelamkan diri di balutan selimutnya. Ah, tapi apa ini? Seperti ada yang menggelitik telapak kaki Lupus.
“Hiyaaa…!!!” dan Lupus pun melonjak kaget ketika salah satu robotnya jatuh dari atas rak. Ia langsung terbirit – birit berlari keluar kamar. Lalu dengan mengendap – endap, Lupus masuk ke kamar Bapak dan Ibu yang tak terkunci. Pelan–pelan, ia naik ke atas tempat tidur Lulu yang mungil, dan tidur melingkar di bawah kaki Lulu. Lulu yang ternyata masih terbangun, tak kuasa menahan cekikikannya. Ia pun tertawa cekikikan. Hihihi…makanya kalo penakut jangan sok tau…
Penasaran dengan lanjutan keseharian Lupus? Baca edisi lengkap Lupus Kecil Klasik karya Hilman & Boim yang bisa anda temukan di Perpustakan SMA Al Hikmah Surabaya.
Penulis: Alya Shaina Noerhudha
Pelajar SMA Al Hikmah Surabaya

Buku ini menceritakan keseharian bocah bernama Lupus yang memiliki tingkah yang lucu dan tingkah keras kepalanya. Diawali dengan pada pagi hari karena terlalu semangat ia pun tertimpa engsel pintu yang menyebabkan ia ditertawakan oleh adiknya, lulu. Lalu di sekolah ia menyanyikan lagu Halo Bandung dengan nada Gundul Pacul. Dilanjutkan oleh tingkah keras kepalanya yang mengatakan bahwa hewan terkecil adalah gajah. Nah, jika jawabannya salah maka ganti saja pertanyaannya. Suatu hari Lupus ingin kamar sendiri dengan alasan ia sudah besar. Ketika sudah mendapatkan kamar baru, bapaknya membelikan Lupus rak yang menjadi pusat perhatian nya di kamar barunya. Ia pun bingun ingin menaruh apa dalam rak itu. Hingga akhirnya ia memilih robot-robotnya ditaruh dalam rak itu. Dan ia menata kembali kamarnya hingga seluruh barang kesayangannya bisa terlihat. Ibunya pun yang sangat baik hati selalu memberikan kebebasan Lupus untuk bermain, karena itu adalah suatu keharusan sebagai anak. Suatu hari ketika ia minta uang jajan ke bapaknya, ia hanya diberikan 100 perak yang hanya cukup untuk membeli jajan. Karena perlakuan bapaknya tersebut ia ngambek dengan bapaknya. Dan sorenya dihabiskan oleh Lulu yang menceritakan pengalaman mainnya kepada ibu. Tak lama ternyata hanya terdengar dengkuran bapak, ibu, dan Lupus. Lupus yang sudah tidur di kamar nya sendiri awalnya biasa- biasa saja, hingga akhirnya robotnya jatuh dan Lupus pun lari ke kamar orang tuanya dan tidur di kasur Lulu yang mungil.
BalasHapusSinopsis ini mudah dipahami karena menggunakan kata-kata sehari-hari yang walaupun baku masih tetap bisa dipahami. Ceritanya ringan, menceritakan tingkah jenaka sang bocah, Lupus. Kalimat-kalimat yang disampaikan juga mudah untuk dicermati karena rasanya seperti mendengarkan cerita seseorang dan bukan membaca suatu esai membosankan.
Sayangnya, terkadang tiap paragraf seperti memiliki loncatan yang jauh. Yang awalnya menceritakan Lupus yang menata kamar barunya, tiba-tiba pindah ke tentang ibunya dan kebaikan ibunya. Tetapi selain hal itu, tidak ada hal yang mengganggu.
Dengan itu dapat disimpulkan bahwa sinopsis dari cerpen Lupus Kecil Klasik merupakan bacaan yang ringan yang mengisahkan keseharian Lupus tanpa konflik berat. Buku ini cocok untuk dibaca semua umur, baik anak kecil untuk bacaan sehari-hari, sampai orang dewasa yang ingin membaca buku-buku yang ringan dibaca. Namu ada baiknya penulis membaca kembali tulisannya dan memperbaiki kalimat tiap paragraf nya agar tidak terdapat lompatan jauh pada tiap paragrafnya.
Pengkritik: Nazla (17)