Ibnu Sina
Pengarang :Husayn Fattahi
Penerbit :Zaman
ISBN :978-979-024-266-1
Tahun terbit :2011
Jumlah halaman :295 halaman
Ibnu Sina, orang barat mengenalnya dengan Avicenna. Dia adalah seorang filsuf, sekaligus ahli dalam ilmu kedokteran. Pemikiran Ibnu Sina menginspirasi banyak ilmuwan. Bahkan, bukunya yang sangat terkenal Al-Qanun fi at-Thibbi dan As-Syifa masih menjadi salah satu buku referensi yang wajib dibaca oleh mahasiswa kedokteran di Eropa. (Zaman: 2011) menceritakan kronologi kehidupan Ibnu Sina dari kecil hingga kematiannya. Ibnu Sina lahir di Asyfana, ayahnya bernama Abdullah, ibunya bernama Sattrah dan adiknya bernama Mahmud. Ketika Ibnu Sina berusia lima tahun, ayah Ibnu Sina (Abdullah) dan keluarganya pindah dari Ashfana ke Bukhara. Di Bukhara ayahnya mendapatkan pekerjaan terhormat di pemerintahan Nuh Ibnu Mansur as-Samani. Saat dewasa, Ibnu Sina dijuluki Syekh ar-Rais (Syekh tertinggi). Julukan ini menggambarkan bahwa Ibnu Sina memang sangat cerdas dan menguasai begitu banyak ilmu secara mendalam. Sebelum buku dibuka, ada peta pelarian Avicenna. Hal ini menggambarkan bahwa kehidupan Ibnu Sina sangat keras dan penuh cobaan. Dalam setiap larinya, ia selalu berusaha untuk selalu bekerja. Bahkan beberapa bukunya ditulis pada saat ia melarikan diri. Pada usia dini, Ibnu Sina belajar dengan Syekh Nawahi. Suatu ketika Syekh Nahawi mengunjungi rumah Abdullah (ayah Ibu Sina) saat mengunjungi Syekh Nahawi untuk memberitahukan bahwa pekerjaannya sebagai guru bagi Ibnu Sina telah selesai. Karena Ibnu Sina baru berusia sepuluh tahun, ia sudah hafal Al-Qur'an, pernah mempelajari ilmu Nahwu-Shorof, mantiq dan burung beo. Setelah belajar dengan Syekh Nahawi, ayah Ibnu Sina bertemu dengan Syekh Massah, dan meminta Syekh Massah untuk menjadikan Ibnu Sina muridnya. Tidak lama setelah belajar, Syekh Massa menyerah menjadi guru Ibnu Sina, tanpa alasan. Syekh Massah menyerah menjadi guru Ibnu Sina, karena Ibnu Sina telah menyerap semua ilmu yang diajarkannya. Setelah Ibnu Sina berguru kepada Syekh Massah, Ibnu Sina berguru kepada Syekh an-Natili. Di Syekh an-Natili Ibnu Sina belajar filsafat dan kebijaksanaan. Ibnu Sina mampu memecahkan masalah-masalah sulit dalam filsafat, masalah yang belum pernah dipecahkan oleh murid-murid Syekh an-Natili sebelumnya. Setelah selesai berguru pada Syekh an-Natili, Ibnu Sina tidak lagi berguru kepada seorang syekh, namun keseharian Ibnu Sina dihabiskan dengan membaca dan mencari ilmu secara mandiri. Saat itu, Ibnu Sina menjadi tertarik dan mulai belajar kedokteran. Ketika ibunya, Sattarah, jatuh sakit, dokter lain tidak dapat menyembuhkannya.
Nah, saat itulah Ibnu Sina meminta izin ayahnya untuk mengurus ibunya. Ayah Ibnu Sina terkejut dengan permintaan Ibnu Sina. Awalnya sang ayah menolak memperlakukan Ibnu Sina untuk mengobati ibunya, namun Ibnu Sina bersikeras. Ayahnya mengizinkan dia untuk merawat ibunya. Dengan berat hati, ayahnya mengizinkan Ibnu Sina untuk merawat ibunya. Setelah Ibnu Sina merawat ibunya, demam ibunya berangsur-angsur mereda dan akhirnya sembuh. Kabar keberhasilan Ibnu Sina mengobati ibunya mulai ramai dibicarakan oleh para tetangganya, bahkan Ibnu Sina mulai menjadi perbincangan masyarakat hingga pelosok kota. Kitab ini menjadi rujukan otentik dalam dunia kedokteran. Di dalamnya memuat risalah pengobatan sekaligus kontribusi orisinal Ibnu Sina, seperti mengenali asal mula terjadinya penyakit menular hingga menjabarkan anatomi mata berikut perangkat sistem optiknya. Tidak salah jika kitab ini kemudian disebut sebagai "kitab suci kedokteran". Melalui kitab-kitab "raksasa" tersebut, nama Ibnu Sina menjadi masyhur (terkenal atau popular) baik di dunia Timur dan Barat, hingga mungkin banyak orang yang kurang mengetahui bahwa di balik popularitasnya tersebut, Ibnu Sina menyimpan satu sisi kehidupan yang cukup pait. sejak masa kecil di Bukhara hingga ia bersentuhan dengan penguasa, dan hidup dari istana ke istana sebagai dokter pribadi sultan. Harga yang mesti dibayar oleh cendekiawan yang menceburkan diri ke dalam kubangan kekuasaan, Ibnu Sina berhadapan dengan rasa jahat, tipu daya, dendam akibat kedengkian para petinggi istana lantaran perhatian khusus yang diperolehnya dari sultan. Bermusim-musim ia hidup dalam kerajaan Mahmud Ghaznawi seorang penguasa turki yang menjanjikan hadiah berupa 5000 keping emas bagi yang berhasil membekuk as-syaikh ar-rais itu hidup-hidup. Sedangkan di lingkup kedokteran, Ibnu Sina menulis karya seni yang berjudul Qanun fi al-Tibb membuat dia mendapat julukan "Father of Doctor". Kitab ini menjadi rujukan otentik dalam dunia kedokteran. Di dalamnya memuat risalah pengobatan sekaligus kontribusi orisinal Ibnu Sina, seperti mengenali asal mula terjadinya penyakit menular hingga menjabarkan anatomi mata berikut perangkat sistem optiknya. Tidak salah jika kitab ini kemudian disebut sebagai "kitab suci kedokteran". Melalui kitab-kitab "raksasa" tersebut, nama Ibnu Sina menjadi masyhur (terkenal atau popular) baik di dunia Timur dan Barat, hingga mungkin banyak orang yang kurang mengetahui bahwa di balik popularitasnya tersebut, Ibnu Sina menyimpan satu sisi kehidupan yang cukup pait. Novel-Biografi Ibnu Sina Tawanan Benteng Lapis Tujuh di (Zaman, 2011). Tulisan Husayn Fattahi ini mencoba mengungkap sisi tragis di balik popularitas nama Ibnu Sina. Saat usianya memasuki 17 tahun, Ibnu Sina berhasil mengobati penyakit yang di derita oleh Nuh Ibnu Mansur, seorang raja di Bukhara. Hampir mirip dongeng, saat itu semua tabib terkenal yang di undang ke istana angkat tangan tak bisa menyembuhkan, kecuali Ibnu Sina. Keberhasilan Ibnu Sina tersebutlah yang mendorong Raja untuk mengangkat Ibnu Sina menjadi dokter pribadi. Hanya saja, posisi Ibnu Sina tersebut justru mengantarkan Ibnu Sina terjerumus ke dalam lingkungan istana yang membuat Ibnu Sina kejebak dalam lumpur intrik politik istana.
Keberhasilan dan posisi Ibnu Sina membuat dokter-dokter lain menaruh dengki. Dokter-dokter yang dengki tersebut kemudian bersekongkol dengan pihak oposisi kerajaan untuk menyingkirkan Ibnu Sina dari posisi yang telah dirauhnya.. Maka ketika Nuh Ibnu Mansur telah wafat, Ibnu Sina dijadikan musuh bersama. Karena merasa hidupnya dalam ancaman, Ibnu Sina harus melarikan diri menuju tempat yang dirasa aman. . Namun naas, pelarian itu ternyata membawanya ke pelbagai tempat yang juga menghadirkan bahaya serupa. Yaitu saat ia berhasil menjabat menteri di Hamadan. Posisi ini adalah hadiah ia berhasil menyembuhkan Raja Hamadan, Shams al-Daulah, dari penyakit perut kronis. Di saat menjadi menteri, Ibnu Sina membuat berbagai kebijakan yang sama sekali tidak umum dalam pandangan elite kekuasaan. Dari istana Ibnu Ma’mun (Gurani) ia menantang terjangan badai di sahara Khawaran. Abu Sahl, teman sejabat karibnya tewas, hingga ia menggelandang seorang diri. Lepas dari sebuah kesulitan tersebut, Ibnu Sina dihadapkan pada intrik-intrik politik yang jauh lebih menyakitkan. Saat menjabat sebagai perdana mentri dipemerintahan Syams’s ad-Daulah (Hamdan), ia nyaris terbunuh karena lantaran kebijakannya dianggap tidak berpihak pada angkatan bersenjata, dan pada masa kekuasaan ad-Daulah, ia harus mendekam dipenjara berlapis 7. Ibnu Sina, orang barat mengenalnya dengan Avicenna. Dia adalah seorang filosof, dan juga ahli dalam ilmu kedokteran. Pemikiran-pemikiran Ibnu Sina banyak menggilhami ilmuwan-ilmuwan. Selang berjalannya waktu pada saat itu, tetangga Ibnu Sina yang bernama Salwa meminta bantuan Ibnu Sina untuk mengobati suaminya yang sudah lama sakit.
Awalnya Ibnu Sina tidak mau, karena saat itu Ibnu Sina masih belum merasa menjadi dokter, namun karena dorongan ibunya, Ibnu Sina ingin mengobati suami Salwa (Abu al-Husain), karena Abu al-Husain telah mendatangkan beberapa dokter. Namun penyakitnya tidak kunjung sembuh, malah semakin parah. Ibnu Sina mulai mencoba mendiagnosa penyakit Abu al-Husain, kemudian meramu ramuan obat. Setelah obat itu diminum secara teratur oleh Abu al-Husain, Abu al-Husain mulai sembuh. Setelah sukses, Salwa memberi Ibnu Sina kalung kristal biru kecil sebagai hadiah. Ibnu Sina akan menerima pemberian tersebut, dan Ibnu Sina akan selalu menyimpan pemberian tersebut hingga akhir hayatnya. Kabar keberhasilan Ibnu Sina dalam menyembuhkan Abu al-Hasayn yang sudah lama sakit mulai menyebar di kota Bukhara, dan popularitas Avicenna semakin meningkat. Dari kesuksesan tersebut, Ibnu Sina didaulat menjadi dokter di rumah sakit kota Bukhara. Ibnu Sina bersedia menerima tawaran itu. Selama bekerja di rumah sakit kota, Ibnu Sina berteman baik dengan Abu Sahal, persahabatan mereka sangat erat, hingga akhir hayatnya.
Terdengar kabar bahwa Raja Isfahan yakni Raja Nuh II mengalami sakit. Penyakit raja menjadi sangat parah karena dokter pribadi raja salah mendiagnosa penyakit raja. Maka dipanggillah Ibnu Sina ini untuk menyembuhkan raja. Setelah raja sembuh, Ibnu Sina mendapatkan hadiah yang sangat besar, yakni raja memberikan seluruh kekayaan Isfahan, akan tetapi Ibnu Sina menolak hadiah tersebut, karena dinilai hadiah tersebut teralalu besar. Ibnu Sina hanya meminta hadiah dari raja supaya ia diizinkan setiap hari untuk masuk ke perpustakaan kerajaan, perpustakaan Samaniyah. Setelah Raja Nuh II meninggal dan digantikan oleh putranya, Ibnu Sina difitnah oleh salah satu pejabat tinggi istana kerajaan karena mempunyai sifat iri kepada Ibnu Sina yang semakin tersohor. Ibnu Sina terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Dalam pelarian diri tersebut Ibnu Sina ditemani oleh sahabatnya yang sangat setia yakni Abu-Sahal.
Akan tetapi ketika melewati padang Gurun Sahara, Abu Sahal tewas karena tidak kuat dengan terjangan badai gurun padang pasir. Ujian Ibnu Sina tidak berhenti di situ saja. Ketika Ibnu Sina menjabat sebagai perdana mentri di pemerintahan Syams ad-Daulah di kerajaan Hamdan, Ibnu Sina nyaris terbunuh karena kebijakan Ibnu Sina bertentangan dengan angkatan bersenjata.Cobaan Ibnu Sina yang paling berat adalah pada masa kekuasaan Ala-ad-Daulah. Ibnu Sina harus dijebloskan di penjara tujuh lapis karena dianggap merampas budak Taj Malik, yang mana budak tersebut sekarang menjadi istri Ibnu Sina. Namun di dalam penjara yang sangat dingin dan dalam kondisi kekalutan itu, Ibnu Sina berhasil menyelesaikan buku Magnum Opus-nya Al-Qanun fi at-Thibbi dan As-syifa. Setelah Raja Nuh II meninggal dan digantikan oleh putranya, Ibnu Sina difitnah oleh salah satu pejabat istana karena iri dengan Ibnu Sina yang semakin terkenal. Ibnu Sina terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Selama pelariannya, dan Ibnu Sina ditemani oleh sahabatnya yang sangat setia, yaitu Abu-Sahal.
Namun, saat melintasi Gurun Sahara, Abu Sahal meninggal dunia karena tidak kuat diterpa badai gurun. Cobaan Avicenna tidak berhenti di situ. Ketika Ibnu Sina menjabat sebagai perdana menteri dalam pemerintahan Syams ad-Daulah di kerajaan Hamdan, Ibnu Sina nyaris terbunuh karena kebijakan Ibnu Sina yang menentang angkatan bersenjata. Ujian terberat Ibnu Sina terjadi pada masa pemerintahan Ala-ad-Daulah. Ibnu Sina harus dijebloskan ke penjara tujuh lapis karena mencuri budak Taj Malik, yang budaknya kini menjadi istri Ibnu Sina. Namun, dalam penjara yang sangat dingin dan dalam keadaan galau, Ibnu Sina berhasil menyelesaikan Magnum Opus buku Al-Qanun fi at-Thibbi dan As-Syifa. Singkat kisah, Ibnu Sina diberhentikan dari jabatan menteri dan dimasukkan ke penjara benteng Fardajan. Ibnu Sina mendapat kado politik yang berbau sengak, dari yang semula ilmuwan yang menjadi menteri, menjadi tahanan. Ibnu Sina akhirnya mengalami semacam kelelahan mental hebat, dan setelah kembali ke Hamadan, Ibnu Sina meninggal pada 1037 Masehi.
Buku ini adalah sebagai mana novel yang berasal dari daerah timur tengah kurang menampilkan ciri-ciri fisik sang tokoh dalam novel. Sehingga yang membaca novel ini kurang bisa membayangkan secara imajiner sosok Ibnu Sina, meskipun pada sampul buku ini ada ilustrasi sosok Ibnu Sina. Akan tetapi hal tersebut belum cukup mewakili sosok bentuk Ibnu Sina. Cukup menarik membaca buku ini, karena buku ini menceritakan perjuangan seorang ilmuan hebat yang mempunya semangat yang kuat untuk berkarya serta mengambarkan kegigihanya dalam menghadapi berbagai masalah.
Cerpen yang berjudul “Ibnu Sina” karya Husayn Fattahi ini mengangkat kisah tentang biografi Ibnu Sina yang dimana beliau adalah seseorang yang memiliki kepintaran serta kecerdasan diatas rata-rata manusia pada umumnya. Cerita ini bermula pada saat usia ia yang sangat belia. Pada saat itu Ibnu Sina belajar kepada seorang guru. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena guru yang mengajar Ibnu Sina kebanyakan menyerah kepadanya karena kepintaran Ibnu Sina yang tidak masuk akal. Pada akhirnya, ia memilih untuk memperdalam ilmu secara mandiri, dan di saat itulah ia tertarik dengan dunia kedokteran dan mulai mendalaminya. Hal itu ia terapkan pada saat Ibu nya Ibnu Sina sedang sakit, sakit yang dialami oleh ibunya ini tidak mudah disembuhkan. Namun, dengan kecerdasan serta ilmu yang dimiliki oleh Ibnu Sina, ibunya tersebut bisa sembuh dalam kurun beberapa hari.
BalasHapusDari hal itulah Ibnu Sina mulai dikenali oleh banyak orang, bahkan terdapat peguasa negeri yang ingin menjadikannya sebagai dokter pribadi dikarenakan ia bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter pada umumnya. Tetapi hal inilah yang membuat beberapa orang membenci Ibnu Sina, karena seakan-akan ia yang paling dimuliakan oleh penguasa negeri serta pada akhirnya banyak orang yang iri dan ingin menjatuhkan Ibnu Sina.
Kelebihan dari cerpen ini yaitu, cerpen ini memiliki bahasa yang ringan. Penulis juga secara langsung menggambarkan bagaimana runtutan kehidupan Ibnu Sina sewaktu kecil hingga Ibnu Sina menjadi beranjak dewasa. Serta konflik yang digambarkan sangat detail, sehingga pembaca yang membaca sinopsis atau cerpen ini dapat membayangkan kejadian tiap tiap peristiwanya.
Disamping kelebihan pastinya memiliki kekurangan. Sinopsis atau cerpen ini beberapa kata menggunakan kata baku, yang dimana untuk beberapa orang akan awam dengan bahasanya. Sinopsis ini juga mengulangi cerita yang sama dengan paragraf sebelumnya ke paragraf setelahnya, sehingga pembaca yang membaca akan terkesan bingung dan merasa alurnya akan berbelit-belit.
Solusi yang dapat diberikan agar cerita ini menjadi lebih menarik, yakni dengan mengusahakan tidak mendobel cerita yang sudah ditulis di paragraf sebelumnya ke paragraf setelahnya, sehingga pembaca akan lebih nyaman dalam membaca serta alur yang ditangkap menjadi tidak terbelit-belit. Lalu, untuk beberapa kata yang baku setidaknya dikasi penjelasan pengertiannya menggunakan tanda kurung, sehingga pembaca yang awam dengan bahasa baku menjadi lebih mengerti.
GHINA GHINANNAFSA/XII A5/10