Bunda.. Aku Kembali

 

Judul : Bunda… Aku Kembali

Penulis : Lalu Mohammad Zaenudin

Penerbit : Republika

Cetakan : I, Desember 2008

Tebal : vi + 296 hlm; 20,5 x 13,5 cm



    bpi tiba-tiba ia mengingat bahwa ada telaga kecil milik petani di dekat situ, ia pun berlari menuju telaga itu dan membasuhkan baju dan sepatu nya yang kotor, saat bajunya bersih, ia pun bergegas menuju ke sekolahnya.

perjalanannya untuk sampai sekolah samgatlah jauh sampai puluhan kilometer karena tak ada jalan penghubung yang bisa menyatukan kampungnya ke sekolah yang ia tuju, sehingga ia harus berjalan memutarin kampungnya yang berjarak puluhan kilometer.

namanya adalah Muhammad Cholis Ilham yang biasa dipanggil ilham. semu orang mengira bahwa ia adalah keturunan tionghoa, karena matanya yang sipit. meskipun dia menggunakan baju yang kumal seperti anak kampung lainnya tapi Ilham memiliki kulit yang putih dan bersih. Ilham tidak memiliki sahabat, karena anak-anak lain menganggap dirinya tidak berasal dari Indonesia, tetapi dia semakin tau bahwa dirinya berbeda juga dia semakin ingin dipanggil sebagai anak Indonesia.

Ilham dan orang tuanya tinggal di rumah bambu yang tua, seperti warga kampung yang lainnya, mereka berjuang hidup di dalam kesederhanaan. Ilham tumbung seperti anak-anak lainnya, walaupun ia masih anak-anak, ia mengerti tentang keterbatasan ekonomi orang tua nya. ia tak pernah mengeluh,menuntut,meminta uang,atau bersifat manja kepada orang tuanya. Ilham selalu bersyukur karna ia merasa telah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya yang sempurna. karena ketegaran Ilham, ayah dan ibunya menjadi lebih besar hati menghadapi kenyataan hidup.

Ayah Ilham asli orang Tionghoa, tetapi memakai nama islam "Muhammad Ikhsan" semenjak kakeknyanmenjadi pemuka dan penyebar agama islam di Tiongkok, Fu Jian. Ibunya pun keturunan Tionghoa, ibunya memiliki nama Catherine Kwan tapi nama itu dipakai sebelum kakek dari ibunya masuk islam. tapi neneknya Ilham "Halimah" pribumi asli dari lombok, dan kakeknya "Chow Tow" nerasal adari Tionghoa. semenjak Chow Tow masuk islam dan mengikuti istrimys ia mengganti namanya menjadi Taufikurrahman Abdullah. Sedangkan Catherine kwan, berganti nama menjadi Fatimatuz Zahra. mereka berganti nama untuk memudahkan masyarakat mengingat nama mereka. selain itu, dalam kepercayaan China, nama-nama mereka memiliki arti buruk. misalnya Chow Tow, ternyata memiliki arti "kepala yang bau busuk" karena menurut tradisi mereka, pemberian nama buruk itu adalah bentuk kasih sayang orang tua. karena nama yang bermakna buruk dapat menghalau dari segala gangguan roh jahat. dan setelah masuk islam, cara pandang kehidupan pun berubah. nama yang harus mereka pakai harus bermakna doa bukan arti yang buruk.

Dulu, di masa pergolakan mempertahankan negeri ini, Chow Tow, adalah pejuang gigih membelah tanah air. Ia bergabung dengan para pejuang pribumi, memegang senjata, dan mengusir para penjajah. Chow Tow adalah pelopor di daerahnya. Ia membentuk pasukan Tionghoa pembela tanah air. Mereka bertemu dan bersatu dengan pejuang pribumi melawan tentara nda, dan Jepang. Cintanya menyamai rakyat pr yang siap mengorbankan jiwa dan raganya demi kejayaan

merah putih, di negeri ini. Di saat para pejuang pribumi mengalami keputusasaan menghadapi medan berat, ia justru hadir memberikan semangat. Chow Tow, seperti api kecil yang tak pernah padam. la memang bukan orang Indonesia. Tetapi, ia menjadi terluka dan marah, bila tanah negeri ini dicederai.


Ilham telah sampai di sekolahnya. Pakaiannya masih basah. Wajahnya berubah kusut, ketika ia melihat, Pak Akhmad penjaga sekolah menutup rapat pintu gerbang. Ia terlambat. Bagaimana kalau aku melompati pagar itu? Pikirnya. Akh! Pasti ketahuan Pak Akhmat! Jawabnya kepada dirinya sendiri. Dari luar gerbang sekolah, ia melihat semua teman- temannya berbaris rapi, mengitari tiang bendera merah putih. Di sana, terlihat pula, Ardi, teman sekelasnya- kelas enam - menjadi komandan upacara. Di sebelah kiri lapangan tampak Ilfa sebagai protokol upacara, dan Selsa sebagai pemimpin paduan suara. Tepat di depan bangunan sekolah, tampak Pak salim - kepala sekolah SDN Mekarsari - sebagai pemimpin upacara. la berdiri dengan sikap sempurna, pandangannya lurus ke depan, ke arah murid-muridnya. Sedangkan Joko berdiri tepat di belakang Pak Salim. Ia membawa teks pidato yang akan dibaca oleh Pak Salim. Barisan kelas satu sampai kelas enam telah tertata rapi. Mereka menghadap ke arah barat, dimana tempat tiang bendera berdiri kokoh. Sementara itu, di sebelah utara, guru-guru dan karyawan SDN Mekarsari berdiri menghadap selatan.

Hari ini, tanggal 17 Agustus 1998. Di seluruh tanah air Indonesia secara bersamaan, mengadakan upacara peringatan kemerdekaan. Sementara itu, Iham masih berdiridiluargerbangsekolahselmapacrabean la tak sendiri. Beberapa anak yang datang terlambat, ikut berdiri disampingnya. Berbeda dengan IIham yang berdiri resah karena tak bisa mengikuti upacara, anak-anak yang lain justru berwajah cerah memilih pulang, Bukankah hari ini, hari besar? Pasti tidak ada pelajaran! Pikir mereka. "Ilham...! Ayo pulang!" ajak seorang temannya. Ilham menggeleng. "Aku mau ikutan upacara," jawab Ilham singkat. Ia membusungkan dadanya dalam sikap

sempurna. "Upacara? Kita kan berada di luar?" "Aku ikut upacara dari sini." "Oh..." Melihat sikap ilham yang serius, beberapa temannya pun tertarik mengikuti upacara di luar gerbang. Ia segera ambil posisi, berdiri dengan sikap sempurna, di samping kiri Ilham. "Hormat Graaaakkk..!!"teriak komandan upacara. Seketika itu pula, seluruh peserta upacara mengangkat tangan kanan setinggi alis, memberi hormat kepada bendera merah putih. Dan, beberapa anak di luar gerbang sekolah itu pun melakukan hal yang sama. Seiring dengan naiknya Sang Saka Merah Putih, semua peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tak terkecuali, beberapa anak di luar gerbang sekolah itu.

untuk mengetahui cerita selanjutnya kamu bisa mebacanya dan mendapatkan bukunya di perpustakaan sekolah SMA Al Hikmah Surabaya


Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Cerita ini dipublikasikan pada tahun 2008 dengan judul Bunda… Aku Kembali merupakan karangan Lalu Mohammad Zaenudin

    Berdasarkan sinopsis diatas menyatakan bahwa menceritakan seorang anak bernama Ilham yang memiliki keturunan tionghoa, ayah dan ibunya orang tionghoa namun baru masuk islam, ia juga dijauhi oleh temabnya karena dianggap berbeda, namun justru karena ini Ilham malah semangat untuk dipanggil sebagai anak Indonesia.
    Ia juga memiliki jiwa nasionalis yang lumayan tinggi, disaat teman-temannya ingin pulang karena dianggap terlambat, ia justu ikut upacara hingga akhir

    Kelebihan sinopsis ini adalah menceritakan tentang semangat juang dan kesederhanaan dari keluarga Ilham

    Kekurangan sinopsis ini bahwa sinopsis ini tak memiliki data buku yang lengkap dan juga sedikit tidak padu dengan cerita kakeknya

    Jadi kesimpulannya buku ini cocok untuk orang-orang yang mau memotivasi diirinya untuk terus berjuang dan juga meningkatkan jiwa nasionalisnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MANOWA DAN PELABUHAN BARUNYA

Hiruk Pikuk Keseharian Lupus