Keajaiban Doa
Keajaiban
Doa
Judul buku :
Catatan Hati di Setiap Doaku
Pengarang :
Asma Nadia, dkk
Penerbit :
AsmaNadia Publishing House
Tahun Terbit :
2012
Jumlah Halaman : 268 halaman
ISBN : 978 – 602 – 9055 –
09 – 2
Novel
ini menceritakan tentang adanya keajaiban di setiap doa yang kita panjatkan.
Tengah malam, Beby terbangun karena mendengar adanya bunyi SMS yang masuk ke
ponselnya. Ia tidak menghiraukan SMS itu dan kembali terlelap. Pagi hari saat
terbangun, Ia benar-benar lupa dengan SMS tersebut. Ia sibuk meyiapkan kebutuhan suami dan putranya yang akan
berangkat ke sekolah. SMS itu baru Ia baca siang hari dan ternyata SMS itu
berisikan pesan dari seorang adiknya yang mengabarkan bahwa Bapak sedang masuk
rumah sakit. Dengan kondisi yang sekarat dan kata-kata yang tidak jelas, Bapak
meminta untuk dihubungkan dengan Ibu mertuanya. Ia ingin meminta maaf atas
segala kesalahan yang pernah dibuatnya.
Sudah
sekitar 8 tahun terakhir ini, Bapak sering sakit. Penyakit darah tinggi yang
dideritanyaa telah dua kali menyebabkan pembuluh darah pevah. Hal itu
memengaruhi kondisi kesehatannya. Tetapi Alhamdulillah, meskipun sempat
kehilangan banyak darah, nyawa Bapak masih terl=tolong oleh penanganan yang
cepat dan tepat.
Beby
merasa bersalah karena keadaan dirinya yang harus tinggal di luar negeri dan
jauh dari keluarga. Mendengar SMS tersebut, perasaan Beby semakin kacau.
Ditambah ketika Ia menelpon Ibunya yang sedang berada di rumah sakit, Ia
mendengar suara-suara orang mengumandangkan surat Yasin. Dalam telepon itu, Ibu
mengatakan bahwa Bapak sedang koma. Ibu segera menutup telepon tersebut karena
takut jika Bapak sudah pergi tidak ada yang membimbingnya untuk membaca
syahadat. Beby hanya bisa diam terpaku dengan tangan yang masih menggenggam
telepon. Ia merenung dan memikirkan apakah bisa dalam detik itu juga dengan
jarak yang terbentang begitu jauh, Ia berada di hadapan Bapak.
Dengan
segala kepercayaan yang ada dalam hatinya, Ia menguatkan dirinya sendiri dan
meyakini bahwa Bapak tidak akan pergi meninggalkannya. Ia bukan berniat untuk
tidak ikhlas atas takdir yang telah digariskan oleh Yang Mahakuasa, tetapi Ia
berharap ketika Bapak akan tutup usia, Ia berada di dekatnya. Ia juga
berangan-angan untuk bisa diberi kesempatan membisikkan Yasin di telinganya,
menuntun mengucapkan syahadat, dan memuji Sang Khalik sebelum beliau
menemui-Nya, bahkan menemanainya menghadap sakaratul maut yang mungkin akan
membuatnya sangat kesakitan.
Dalam
keresahannya yang amat sangat, Ia terus menunggu kapan waktu yang tepat untuk
Ia dapat menghubungi Ibu kembali. Mengingat perkataan Ibu yang tidak ingin
Bapak menghembuskan napas terakhir ketika dirinya sedang berbicara dengan Beby.
Ia berusaha menahan diri untuk tidak menggangu ketenangan keluarga di rumah
sakit. Tepat tengah malam, tiba-tiba Ibu mengirimkan SMS yang meminta Beby
untuk meneleponnya. Dalam telepon tersebut, Makcik mengatakan bahwa Bapak tidak
sadar lagi. Makcik juga mengatakan bahwa Bapak sudah tidak punya harapan lagi,
badannya sudah dingin dan menghitam. Beby diminta untuk segara pulang jika
masih ingin bertemu dengan Bapak untuk yang terakhir kalinya. Beby bertanya
tentang sakit yang dialami Bapak, Makcik mengatakan bahwa kata dokter gula
darah Bapak tinggi. Beby pun terheran-heran, karena sepengetahuannya, Bapak
mengidap darah tinggi, bukan diabetes.
Mendengar
hal tersebut, Keinginan Beby untuk bertemu Bapak semakin kuat, tetapi Ia merasa
bahwa hal tersebut tidak mungkin. Suami Beby terikat kontrak di Australia yang
tidak bisa cuti seenaknya. Putranya juga baru beberapa hari masuk sekolah,
kalaupun harus membolos sekian lama, Ia khawatir dengan pelajarannya, apalagi
dia masih bearada dalam kelas penyesuaian berbahasa inggris. Tetapi di lain
sisi, untuk mendapatkan tiket murah dalam keadaan yang mepet juga jelas sulit. Sedangkan
untuk tiket yang lebih mahal, Keuangan mereka tidak memungkinkan. Tabungan
mereka juga kosong apalagi setelah mendapatkan kabar bahwa Bapak masuk rumah
sakit, yang membuatnya harus segera mentransfer sejumlah uang ke Indonesia
untuk keperluan Bapak.
Dengan
segala keterbatasan yang ada, impian Beby untuk pulang ke Indonesia sudah tidak
mungkin. Ia merasa putus asa dengan semua ini. Setelah selesai menunaikan
shalah Subuh, Ia membacakan surat Yasin untuk Bapak. Ia sadar, bahwa tidak ada
yang bisa Ia lakukan lagi selain mengirimkan doa untuk Bapak. Dalam doa
tersebut, Beby berdoa jika memang Allah akan memanggil Bapak, mudahkanlah dia
menghadapi sakaratul maut, ampunilah segala dosa-dosa yang telah diperbuatnya,
tetapi jika belum tiba saatnya Bapak pergi, kurangilah rasa sakitnya dan
sembuhkanlah penyakitnya serta izinkan dirinya bisa bertemu dengan Bapak. Beby
sampai tidak sadar sudah berapa lama Ia tenggelam dalam pintanya pada Sang
Khalik. Ia baru berhenti setelah kakinya terasa kebas akibat duduk terlalu
lama, tetapi Ia merasa lega karena telah mengeluarkan unek-unek pada-Nya.
Kemudian
Ia beranjak keluar kamar dengan niat menelepon Ibu untuk menanyakan keadaan
Bapak. Pada saat itu, Ia sudah pasrah sekaligus siap dengan apapun yang akan Ia
dengar tentang Bapak. Belum sempat Ia mengangkat gagang telepon, tiba-tiba
ponselnya berbunyi. Ternyata ada SMS yang masuk dari Ibu dan membuatnya ingin
menjerit sekeras-kerasnya. Dalam SMS tersebut, Ibu mengatakan bahwa Bapak sedang
tidak sadar, Ibu meminta Beby untuk membisikkan ayat-ayat di telinganya. Yang
semulanya Ia merasa sudah siap dengan segalanya, mendapat kabar tersebut
kembali membuat Ia sedih lagi.
Beby
mencoba menguatkan diri dan memencet nomor ponsel Ibu. Ponsel itu segera Ibu
tempelkan ke tellinga Bapak. Beby mengatakan kepada Bapak bahwa dia adalah
Beby. Tak disangka, tiba-tiba Bapak langsung menyahut dan memanggil Beby dengan
suara yang lirih. Beby sangat terkejut mendengar Bapak yang kembali sadar,
demikian pula dengan Ibu dan keluarga yang menemai di rumah sakit. Menurut Ibu,
Bapak sudah koma selama 2 jam dan tubuhnya sudah dingin. Bahkan tadinya Ibu
malah sudah berniat untuk mengabari pembantu di rumah agar bersiap-siap
menerima tamu yang akan datang melayat, tetapi tidak jadi karena pulsanya habis
dan tidak menemukan wartel dekat rumah sakit. Karena khawatir terjadi apa-apa
juga pada Bapak, akhirnya Ibu buru-buru kembali lagi dan tidak jadi menelpon.
Mendengar
suara Bapak, Beby jadi panik tetapi gembira juga, campur aduk rasanya.
Sampai-sampai Ia tidak tahu lagi harus membacakan ayat apa untuk Bapak. Yang
ada di otaknya hanyalah ayat kursi. Secara perlahan, Ia mulai mengajak Bapak
untuk membaca ayat kursi bersama. Alhamdulillah, Bapak bisa mengikuti meskipun tersendat-sendat
dan tidak sampai habisa karena lidahnya kaku. Lalu Beby mengatakan kepada Bapak
bahwa dirinya akan segera pulang dan akan bertemu. Beby ingin Bapak untuk bisa
kuat dan tidak perlu takut karena kita semua akan kembali kepada-Nya. Beby juga
menghibur bahwa semua akan baik-baik saja jika Bapak tetap dekat dengan Allah.
Selama Beby berbicara dengan Bapak, Bapak menyahut “Ya” beberapa kali.
Setelah
menelpon dan mendapati kabar bahwa Bapak sudah kembali sadar, Beby merasa lega
luaar biasa. Tetapi di lain sisi, Ia tetap khawatir denga keadaan Bapak, mengingat Bapak sudah koma
berkali-kali. Bisa saja setelah ini Bapak kembali tidak sadar. Siang hari itu,
suami Beby pulang ke rumah dengan membawa kabar baik. Dia berhasil mendapatkan
tiket murah, hanya tersisa 3 tiket untuk 3 orang. Karena itu, mereka memutuskan
hanya Beby dan putri bungsunya saja yang pulang ke Indonesia. Sedangkan suami
dan putranya tetap tinggal di Australia.
Betapa
gembiranya Beby, terlebih lagi ada SMS yang masuk dari Ibu mengatakan bahwa
Bapak sudah tidak koma lagi. Beby mengucapkan syukur Alhamdulillah
berkali-kali. Lusanya, Ia terbang ke Indonesia dan dari bandara langsung menuju
rumah sakit. Begitu senangnya Ia ketika melihat Bapak sedang duduk di tempat
tidurnya. Meskipun keadaannya masih lemah dengan tubuh yang sangat kurus dan
menguning, tetapi senyum yang ada di wajahnya menandakan bahwa semangat hidup
yang ada dalam diri Bapak tumbuh kembali.
Beby
sangat menyesali terjadinya kesalahan diagnosis Bapak yang sebenarnya menderita
Thypus, tetapi malah divonis sakit diabetes. Saat itu, dokter langsung
memberikan obat untuk menurunkan kadar gula darahnya. Hal itu yang menyebabkan keadaan
Bapak langsung drop dan membuatnya koma berkali-kali. Itu sebabnya begitu kadar
gula darah Bapak sudah stabil, Beby dan keluarganya segera membawa Bapak pulang
ke rumah. Seminggu kemudian, Bapak menjalani medical check up total di
laboratorium yang lebih lengkap di kota Medan. Setelah itu, baru menjalani
rawat jalan untuk mengobati penyakit Thypus-nya. Dan ketika tiba saatnya Beby
kembali ke Australia, Bapak sudah bisa berjalan dan melakukan
aktivitas-aktivitas ringan sendiri.
Mahakuasa
Allah yang begitu luar biasa, membuat Beby sangat takjub. Disaat Ia telah putus
asa dengan keadaan Bapak, dengan kekuasaan-Nya, Allah melepaskan Beby daroi
kesulitan yang ada, dan membuat impian Beby menjadi sebuah kenyataan. Dengan
adanya kejadian ini, membuatnya semakin percaya akan keajaiban doa. Beby semakin
yakin bahwa tidak ada yang tak mungkin bagi Allah swt. Jika kita selalu memohon
pinta kita pada-Nya dengan khusyu dan pasrah, Insya Allah, permohonan kita akan
dikabulkan oleh-Nya. Karena Dia-lah Allah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang
pada hamba-Nya. Sungguh, Allah swt Maha Pengasih dan Penyayang.
Dari
kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa keajaiban dari doa yang kita
panjatkan itu sangatlah terbukti adanya. Jika kita bisa selalu mengingat adanya
bantuan dari Allah, maka kita akan percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin
bagi Allah. Kita hanya perlu berdoa dengan khusyu dan tawakkal kepada Allah swt.

Komentar
Posting Komentar