Kejujuran dan Kasih Sayang
Kejujuran dan Kasih Sayang
Judul buku : Lanteung (Tak Berguna!)
Penulis : Saut Poltak Tambunan
Penerbit : Bestari Buana Murni (BBM)
Tahun terbit : 2004
Halaman : 160
ISBN : 979-9140-92-7
Dolok Marangir, sebuah bukit
yang membatasi kampung Lumban Atas di bagian Selatan dengan kampong Lumban
Toruan di bagian Utara. Bukit yang memiliki arti nama bukit yang berbau anyir
ini diusulkan sebab pernah terjadi perang antara kedua kampong tersebut. Dan
membuat bau anyir darah menyerbak hingga tujuh hari tujuh malam.
Karena kejadian tersebutlah,
seorang kepala desa yang baru saja terpilih berdasar pemilihan umum, ingin
mendamaikan kedua kampong ini. Ia akan menanam pohon beringin sebagai simbol
perdamaian kedua kampung. Merekapun mengadakan pesta yang sangat meriah selama
tiga hari-tiga malam disekitar bukit.
Namun, tanpa disadari telah
terjadi sebuah kesalahan fatal. Dimana panitia salah menanam tanaman. Bukannya
pohon beringin yang menjadi simbol perdamaian kedua kampung, melainkan pohon
manga. Padahal penjual tanaman berkata bahwa ini adalah beringin langka yang
didapat dari pedalaman Kalimatan. Nasi telah menjadi bubur, panitia sudah
dibubarkan serta upacara adat juga sudah dilakukan. Sehingga para tetua kedua
kampung memutuskan untuk tetap memelihara pohon mangga itu.
Pohon perdamaian yang semakin
tinggi itu memiliki batang yang kokoh serta dahan yang rindang. Ditambah dengan
buah yang dihasilkannya sangat lebat dan lezat. Setiap paginya, banyak burung
bertengger dan menyanyikan kicauannya yang merdu. Bahkan burung-burung langka
seperti sipigo dan ambarobapun bertengger padanya. Di siang hari yang terik,
para petani kedua kampung berteduh dibawah dahannya yang rimbun. Mereka saling
bercerita dan tertawa sambi ditemani panasnya kopi hitam dan gorengan.
Semua warga kedua kampung
merasa memiliki pohon manga perdamaian itu, setiap harinya diberi pupuk serta
siraman air dari tangan yang berbeda. Mereka juga tak keberatan dalam
mengeluarkan uang untuk membayar petugas khusus yang ber akan bertanggungjawab
terhadap pohon tersebut.
Si Raja Dolok, sebuah gelar
yang diberikan oleh Pak Kades untuk seorang penduduk yang bertanggungjawab
untuk merawat dan menjaga suasana damai dari pohon manga itu. Si Raja Dolok
mendapat upah bulanan dari urunan warga kedua kampung, bahkan ia dibangunkan
gubuk yang tak jauh dari pohon perdamaian. Selain bertugas dalam merawat pohon,
ia juga ditugaskan untuk mengumpulkan hasil buah manga ke rumah Pak Kades.
Dimana sebagian dibagikan bergilir pada warga kedua kampung, dan sebagian manga
yang lain akan dijual di pasar. Dan keuntungan yang didapat dari penjualan
tersebut akan digunakan untuk memenuhi kepentingan kedua kampung. Begitulah
janji Pak Kades kepada warganya.
Namun masa jabatan lurah tak
bertahanlama karena euphoria reformasi. Sudah tiga kali lurah berganti,
sementara Si Raja Dolok masih setia sebagai penjaga pohon perdamaian itu. Tibalah
saat giliran Pak Kades terakhir yang belum sampai dua bulan ia menduduki kursi
jabatannya, Si Raja Dolok mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas. Hal ini
sangat membuat warga kebingungan, karena Si Raja Dolok adalah sosok yang jujur,
rajin, serta rendah hati. Disamping itu, juga tak sedikit warga yang tergiur
untuk menggantikan posisi Si Raja Dolok.
Pak Kades sendirilah yang akan
memutuskan seorang yang menjadi Si Raja Dolok berikutnya, namun sama seperti Si
Raja Dolok pertama. Tidak ada satupun yang dapat bertahan lama menjadi Si Raja
Dolok. Sehingga pohon perdamaian tersbeut mulai tidak terurus. Rantingnya
terlihat meranggas dan daun terlihat menggulung berulat. Para tetua akhirnya
menyepakati untuk memberi jabatan Si Raja Dolok kepada pemuda yang sedang
menganggur. Tak disangka pemuda ini seorang yang rajin, ia memikul
berember-ember air untuk menyirami pohon perdamaian tiap sorenya.
Pada suatu saat dimana buah
manga yang dihasilkan pohon perdamaian masih kecil dan hanya sebagian yang
lumayan besar. Si Raja Dolok memberikannya kepada ibu-ibu yang sedang mengidam.
Pak Kades yang tau langsung memarahi Si Raja Dolok sambal berkata bahwa hal itu
bukan wewenangnya. Serta memaki Si Raja dolok bahwa ia tidak amanah dan tidak
bisa membedakan antara tugas dan kepentingan pribadi. Pemuda itu terus berusaha
meyakinkan Pak Kades bahwa manga itu juga hak dari semua warga. Namun bukannya
mengerti, Pak Kades malah mengejek Si Raja Dolok itu seorang yang bodoh. Bahkan
ternyata Pak Kades memecat Si Raja Dolok sebelum-sebelumnya juga karena
menganggap mereka semua bodoh.
Setelah kalah dalam perdebatan
itu, Raja Dolok diperintahkan untuk mengumpulkan buah manga dari pohon
tersebut. Pak Kades dengan tanpa malu langsung memakannya dan bertanya kenapa
hanya sendikit buah yang dibawanya. Raja Dolok menjawab bahwa memang hanya itu
buah yang telah jatuh (matang). Pak Kades tiba-tiba bangun dari duduknya dan
berkata dengan kasar tentang buah yang seharusnya jangan ditunggu sampai jatuh,
baginya itu seperti mengemis. Ia memerintahkan Si Raja Dolok untuk
menggoyangkan pohon manga tersebut. Bahkan Pak Kades yang tau tentang efek
samping berupa sakit perut bila memakan buah belum matang tetap menyuruh Si
Raja Dolok melakukannya.
Sejak itu, pohon manga yang
ditanam sebagai pohon perdamaian antara kedua kampung tak lagi melihatkan
kesejukannya. Sudah tak ada lagi petani yang berteduh dan bercengkrama serta
dahan mulai menggeragas yang membuat burung tak lagi menyanyi disana. Kucicanya
yang merdu, sekarang sudah punah.
Pada cerita selanjutnya…
Hari sudah malam, selarut ini di sudut
ruang tunggu ICU Anak yang sepi, aku masih duduk termangu. Isteriku tidur
melingkar beralas tikar di atas lantai. Beberapa menit yang lalu masih kudengar
ia meracau tak jelas, sekarang terlelap. Kubiarkan saja. Lumayan kalau ia
beroleh istirahat barang sejenak.
"Sudah
berapa lama kita di sini, Ma?" bisik hatiku lirih. Seekor nyamuk kuusir
dari pipinya. Tidak tega menepuk, takut membuatnya terganggu
Ini hari kelima anakku dirawat di ruang
ICU Anak. Ini hari kelima anakku harus puasa. Tak makan, tidak minum dan tak
boleh tertidur terlelap. Padahal umurnya baru dua bulan lalu genap empat tahun.
Masih begitu lugu.
Aku pikir, yang terakhir ini paling
menyiksa. Jika ia terlelap barang semenit. detak jantungnya yang terbaca lewat
layar monitor EKG (Elektronik Kardiografi) menurun cepat. ia harus segera
dibangunkan sampai terjaga. Tak boleh dibiarkan terlelap. Bila sudahterjaga.
denyut jantungnya akan segera naik sampai lebih dari seratus enam puluh.
Tadi siang aku sempat marah. Karena Suster
Maya membangunkan Adit bukan dengan tepukan perlahan di pipi. Bukan dengan
usapan lembut di dahi, melainkan berteriak membohongi.
"Adit
mau minum apa nggak?"
Ya.
Tuhan, anakku tersentak bangun dan... kulihat getar bibirnya yang pucat
mengering, tatap matanya yang sendu, desah lemah suaranya yang penuh harap akan
dapat minum.
"Ya,
Tante Suster, Adit pingin minum..."
Takkan ku bayangkan olehku bahwa akan
menghadapi kenyataan pahit yang dialami oleh anakku.Tubuhnya membiru, amat
lemah.Selang infus masih begelayut di pergelangan kakinya. Selang kateter
menyuruk hidungnya yang mungil, tembus hingga ke dalam perut lambungnya.
berebut tempat dengan selang masker oksigen yang terlalu besar untuk ukuran
wajahnya yang mungil. Belum lagi kabel-kabel EKG kusut semrawut di atas dadanya
yang pipih
Padahal minggu yang lalu ia tampak begitu
ceria bahkan nyaris hyperaktif. Aku masih sempat mengajarinya nyanyian nakal
berbahasa daerah asalku di Tapanuli yang masih kuhafal sejak kanak-kanak
"Heh,
kau sudah lihat Adit?"
Aku
geleng kepala perlahan.
"Aku
mau lihat dulu." katanya seraya bangkit, merapikan rambut sekenanya dan
bergegas menuju pintu ruang ICU. Kudengar ia mengetuk pintu, suster membukanya.
Di antara sekian rumah sakit pilihan,
tepat sekali isteriku membawanya ke rumah sakit ini. Menurutku, perawat dan
dokter di sini baik dan rendah hati. Terlalu rendah hati malah, dibandingkan
dengan orang-orang yang biasa kutemui dalam pekerjaan kantorku sehari hari. Aku
rasakan empati mereka larut dalam penderitaan anakku serta ketidakberdayaan
kami sebagai orang tuanya. Semua begitu ramah dan hangat
Si Nomor Dua marah-marah karena sepatunya
menganga minta dilem, jahitannya terbuka semua Kakinya yang gemuk memang boros
sekali "memakan sepatu. Saking kesal. TV yang sedang menyala dimatikannya
padahal si kecil Adit sedang asyik tertawa menonton film komedi si Dono. Kontan
saja si Adit mengamuk.
Aku tak ada di sana. Sebab kulihat aku
masih di kantor menghadapi meja dengan setumpuk map. Atau tengah terseok
bermacet-macet di jalan raya. Lebih baik aku bangkit berdiri, berjinjit ke
belakang tembok ruang isolasi ICU. Dari situ lewat lubang ventilasi aku bisa
mendengar suara isteriku menghibur Adit.
"Ya,
sayang. Mama tahu Adit lapar, Adit haus. Tapi sabarlah, sayang. Pada waktunya
nanti Adit boleh makan. Boleh minum. Boleh es krim. Boleh semua."
"Adit
mau semangka, Mama."
"Ya,
sayang”
Adit menyebutkan makanan kesukaannya yang
sekarang dia inginkan,isteriku hanya mengiyakan dengan senyuman untuk
menenangkan Adit bahwa nanti ada satnya dia bisa menikmati makanan kesukaanya
itu semua.
Sesungguhnya ada yang kurahasiakan pada
isteriku. Sudah seminggu ini aku bawa sebilah golok dalam tasku. Bahkan
terkadang sudah terbayang Lantrung seorang terkapar mati di hadapanku.
Seseorang entah siapa. Aku lantas ditangkap, digiring diinterogasi lalu aku
boleh bicara, boleh ungkapkan mengapa, mengapa dan mengapa. Lain kali aku
merasa tidak sungguh-sungguh ingin membunuh Hanya ingin mengancam, atau melukai
sekedarnya, tidak perlu mematikan. Sebab aku hanya ingin membuat keributan
secukupnya
"Pa."
katanya tiba-tiba.
"Aku
ingin kau berdoa."
"Heh?
Bagaimana keadaan Adit?" tanyaku.
"Suster
Rika yang menunggui sebentar," sahut isteriku.
"Ayo,
kau berdoa untuk kita semua. Untuk Adit. Untuk anak-anak kita yang lagi
morat-marit di rumah. Untuk masalahmu...!"
"Masalahku?"
"Tak
usah disembunyikan, aku tahu semuanya. Aku sudah bicara lewat telepon dengan
teman sekantormu."
Aku terdiam. Ternyata tanpaku sadari
banyak yang terjadi pada diriku.Sementara aku belum tahu harus berbuat apa.
tahu-tahu ada pula yang memberitahukannya kepada istenku. Padahal aku sengaja
belum memberitahukannya kepada isteriku agar tidak menambah susah hatinya yang
sedang gundah.
"Papa.
Tuhan tidak akan pernah benar-benar memadamkan sumbu yang sedang redup. Tuhan
tidak akan pernah mematahkan buluh yang terkulai lemah Percayalah, kita tidak
akan pernah kehilangan segalanya," katanya lirih, sendu menatapku.
Dari balik kaca ruang isolasi, samar-samar
kulihat isteriku duduk di sisi tempat tidur. Adit masih puasa. tetapi aku
bersyukur sebab masker oksigen dan selang yang menyuruk hidungnya sudah
dilepas.
"Adit
mau semangka, Mama.”
“Ya,sayang”
Lagi-lagi Adit meminta makanan kesukaannya,ia menyebutkan bakmi, pizza,teh manis,coca-cola dan banyak lagi. Aku senang mendengar Adit napsu makan seperti ini rasanya inginku kabulkan semuanya sekarang juga tapi kata dokter masih ada makanan yang belum ia boleh konsumsi akibat penyakitnya. Terima kasih Tuhan, aku tahu Engkau akan kembalikan anakku pulang ke rumah.
Bagaimana dengan kisah-kisah
unik lainnya? Kalian dapat membaca buku “Lanteung (Tak Berguna!)” yang bisa dipinjam
dari Perpustakaan SMA Al Hikmah Surabaya.

Cerita pendek berjudul Lanteung (Tak Berguna!) merupakan novel karangan Saut Poltak Tambunan, novel ini di pulikasikan pada tahun 2004 oleb Bestari Buana Murni (BBM) dengan jumlah halaman 160 dan ISBN 979-9140-92-7. Novel ini menceritakan tentang perkambungan yang pernah berperang yang menyebabkan pertumpahan darah dan orang orang disana merasakan bau anyir darah selama tujuh hari tujuh malam, lalu karena kejadian tersebut terpilihlah seorang kepala desa dan mereka pun membuat pesta meriah selama tiga hari tiga malam di sekitar bukit, mereka menanam satu pohon beringin sebagai simbol kedamaian dan tanpa disadari telah terjadi sebuah kesalahan fatal. panitia salah menanan pohon dan dari situlah mulai beberapa konflik di cerita tersebut.
BalasHapustokoh pak kades digambarkan sebagai tokoh yang sangat keras kepala, konfil dalam cerita ini banyak disebabkan oleh pak kades.
sinopsis ini sedikit sulit di pahami banyak mengandung kata kata yang tidak biasa terdengar di kehidupan sehari-hari. kalimat-kalimat yang disampaikan juga sedikit sulit dipamahi dan masih terbelit-belit jadi sangat susah untuk dibaca oleh saya yang tidak mengetahui banyak kata-kata asing di indonesia
Kesimpulannya cerita ini seru dan mengandung banyak konflik-konflik yang tak terduga tetapi banyak kata-kata yang sulit dipahami.