Pengembala Merapi

 

                                                            Pengembala Merapi

 

 Judul Buku      : Anak-Anak Merapi 2

Penulis            : Bambang Joko Susilo

Penerbit           : Republika Penerbit

Tahun Terbit   : 2011

Tebal Halaman : 227 Halaman

ISBN                : 978-6232-790-544

 


            Novel ini menceritakan mengenai seorang anak yang bernama Yudhistira yang kehilangan sesosok ayah pada saat bencana alam “gunung merapi meletus”. Perasaan Yudhistira pada saat kehilangan sesosok ayah yang merupakan panutan serta pelindung bagi Yudhistira dan adik-adiknya bercampur aduk, antara sedih dan marah bercampur aduk menjadi satu. Tetapi hal yang sudah terjadi tidak dapat terulang kembali, dan hal itu juga sudah menjadi takdir yang tidak bisa diubah bahwa mereka memang harus berpisah pada saat bencana alam “gunung merapi meletus” tersebut.

Pada awal kejadian, di tengah malam yang gemerlap. Gunung berapi yang terlihat menjulang tinggi serta terlihat gagah sedang menunjukkan keperkasaannya, kabut yang menutupi sekeliling tubuhnya membuat ia tampak lebih dingin serta penuh misteri. Tiba- tiba gunung yang semula tampak tenang mulai terdengar suara bergemuruh membuat orang yang tinggal disekeliling gunung tersebut keluar dan mencari tahu penyebab suara tersebut berasal. Tidak disangka sangka keluar asap yang tebal, yang membuat siapapun yang melihatnya menjadi ketakutan.

Setelah melihat hal tersebut, warga disana langsung lari kesana kemari untuk menyelamatkan diri. Kepanikan serta jeritan warga terdengar dimana-mana. Suara kentongan yang biasa terdapat di pos penjaga malam pun dibunyikan. Suara gemuruh semakin membludak dan ricuh. Suasana dikawasan itu tampak kacau, mobil dan motor yang semula tidak digunakan tiba-tiba dinyalakannya demi menyelamatkan hidup masing-masing.

“Lariii, lariii!!! Ayoo lariii…!!, suara tersebut dikumandangkan dimana mana, ratusan tapak kaki warga pun terdengar. Banyak warga yang tertindih, bertabrakan, namun mereka bangkit lagi untuk menyelamatkan diri. Mobil motor mulai melaju dan membawa ke tempat yang paling aman, antar klakson satu dengan klakson lain saling bersahutan. Layaknya di perlombaan yang dikejar oleh waktu, sebisa dan secepat mungkin warga menjauhi area yang berbahaya itu. Waktu pada saat ini adalah momen yang berharga serta  menentukan mereka sempat atau tidaknya keluar dari zona berbahaya.

            Yudhistira bersama ibu serta adik- adiknya juga tidak kalah panik. Mereka memilih untuk menaiki truk dan berdesak desakan dengan para warga lainnya yang memilih untuk tidak naik mobil atau motor. Di dalam truk tersebut terdengar suara tangisan dimana- mana, jeritan anak gadis, warga yang ketakutan, serta ada pula warga yang selalu mengucapkan kalimat istighfar berulang kalinya untuk memohon ampun kepada Allah SWT.

Berbeda dengan bapak Yudhistira pada saat itu, walaupun dalam selang kepanikan bapak tersebut masih menyempatkan dirinya untuk menolong ibu- ibu, anank- anak, serta nenek -nenek untuk naik ke atas truk. Padahal di posisi tersebut suasana sudah sangat genting.

Pada saat truk sudah mulai sesak dan tidak muat lagi untuk dimasuki oleh orang, Yudhistira melihat bapak menghidupkan mesin serta meniaki motor dan bersiap mengendarainya. Pada saat itu Yudhistira dan bapak saling bertatapan sejenak dan hal tersebut merupakan momen terpenting dalam hidup Yudhistira, karena tatapan tersebut seperti sudah mengisyaratkan bahwa mereka akan berpisah untuk selama-lamanya.

Perasaan sedih, pilu, dan duka mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Firasat itu menjadi sebuah kebenaran pada saat Bapak Yudhistira membelokkan setirnya ke arah yang berlawanan dan kembali ke desa Kepuharjo. Lalu tiba-tiba terdengar suara  letusan yang dahsyat bak bom nuklir yang dijatuhkan. Lava mulai menyembur dari mulut gunung itu membuat langit terlihat terang sesaat. Semburan wedhus gembel itulan yang ditakuti warga selama ini yang tinggal disekitar gunung tersebut.

Di dalam wedhus gembel tersebut terdapat debu, lumpur, abu vulkanik, pasir, serta kerikil panas yang suhunya dapat mencapai hingga 600 derajat celcius dan dapat mengenai siapa saja yang berada di kawasan gunung tersebut, karena semburan tersebut bersifat acak.

Pada saat Juno yakni adik dari Yudhistira menyadari hal itu, ia langsung meneriaki bapaknya, “Jangan naik ke atas pak’e ! Jangan naik ke atas !! Berbahayaa!!. Namun, suara tersebut tak dihiraukan oleh bapaknya. Bapak tetap melaju kencang ke arah desa tersebut. Yudhistira pada saat itu sangat cemas dan khawatir kepada bapaknya. Ibu hanya bisa menangis pada saat itu, dan Bimo linglung tidak tau apa yang terjadi. Yudhistira pun teriak sekuat-kuatnya untuk menyuruh bapak agar putar balik dan membatalkan niatnya menjemput mbah kakung dan mbah putri dan mulai  mengikuti truk penumpang yang  ke pengungsian.

Motor bapak terus melaju dengan kencang, melewati kebun-kebun penduduk, hutan, sungai, rumah rumah di pinggir jalan, serta di jembatan. Namun, belum tiba ke sebrang jembatan, tiba-tiba wedhus gembel tersebut menyembur ke jembatan itu dan menelan tubuh bapak. Yudhistira yang melihat hal itu langsung berteriak “Pak’eee”.

Teriakan dari Yudhistira itu hingga membangunkan Bimo yang sedang tidur disampingnya. Sontak Bimo langsung menggoyang-goyangkan tubuh Kak Yudhistira untuk mebangunkannya. Yudhistira yang tau itu sebuah mimpi langsung terbangun. Napas Yudhistira pada saat itu sudah tidak karuan, mengingat mimpi yang barusan ia alami. “Hah, dimana ini?, ada apa denganku?.” Ia tampak seprti orang yang linglung dan bingung dengan apa yang ia mimpikan barusan. Keringat membasahi sekujur tubuh Yudhistira.

Saat ia mulai tenang, ia melihat sekeliling. Ia meilihat ratusan pengungsi maish tertidur di barak pengungsian lantai dua Stadion Maguwoharjo. Ia tersadar bahwa yang barusan adalah mimpi. Sejenak dia menghela napas dan mengucapkan “Astagfirullah”, kalimat tersebut ia ucapkan beberapa kali sembari mengusap wajahnya. Setalh diingat kembali mimpi itu, Yudhistira tampak sedih dan menyebut “Pak’ee.” Tubunya sangat lemas. Melihat hal itu Bimo sangat heran dan bingung dengan sikap kakaknya dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan kakaknya itu.

Lalu si Yudhistira mengatakan, “ Aku telah mimpi buruk Bimo”Ujarnya kepada Bimo. Kemudian Bimo bertanya, “emang mimpi apa kang?”, lalu Yudhistira menjawab “Pak’e terperangkap wdhus gembel dan tubuh pak’e lenyap di jembatan bersama motornya.” Mendengar hal itu Bimo diam sejenak. Yudhistira percaya bahwa bapaknya tewas ditempat hal itu karena tidak mungkin selamat mengingat dahsyartnya terjangan dari Wedhus gembel. Lalu si Bimo bilang “ Jangan terlalu percaya dengan mimpi, kang.” Mungkin kangmas lupa tidak baca do’a sebelum tidur atau karena pikiran kita selalu tertuju pada pak’e yang membuat mimpi itu muncul” ujar Bimo.

Mendengar perkataan Bimo itu, sebenarnya Yudhistira masih belum percaya. Lalu Yudhistira mengatakan “Tapi mimpi itu tetlihat sungguhan Bim, aku merasa pernah melewati jembatan itu.” Lalu Bimo membalas “Sudahlah kang, jangan terlalu dipikirkan, bisa saja mimpi itu bukan kenyataan dan tidak menjadi kenyataan, kita berdoa saja semoga pak’e masih selamat” Ujar Bimo.

Mendengar perkataan Bimo Yudhistira terdiam sejenak, ia menghela napas nya sedalam-dalamnya dan membayangkan kembali mimpi itu. Namun, mimpi itu membuat Yudhistira mengucapkan kalimat”Astaghfirullah” kembali. Yudhistira termenung dan tiba tiba ia teringat akan adiknya Juno, ia melihat ke samping dan dilihatnya adik bungsunya itu masih tertidur sangat nyenyak dan terlelap. Ia teringat saat di mimpinya itu Juno berteriak- teriak memanggil bapak. Yudhistira pun segera mendekati adiknya itu dan membetulkan selimutnya agar bisa menutupi seluruh tubuh Juno agar ia tidak kedinginan.

Yudhistira yang masih terbayang dengan mimpi tersebut tiba-tiba mulai ketakutan. “Ah tidak, hal itu tidak mungkin terjadi bukan.” Yudhistira masih mencoba membantah mimpi tersebut walaupun ia masih terbayang-bayang dengan mimpi tersebut. Yudhistira ingat akan perkataan Bimo, dan yang dikatakan oleh Bimo juga mungkin ada benarnya karena ia belum membaca doa sebelum tidur menjadi penyebab mimpi datang. Mengingat hal itu Yudhistira menjadi kembali tenang, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Yudhistira tampak gelisah kembali. Ia berpikir “Bagaimana jika mimpi tersebut merupakan petunjuk akan keberadaan bapak?”, keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhnya kembali.

Melihat hal itu Bimo masih mencoba menennagkan kakanya yang masih terlihat gelisah itu. “ Sudahlah kang, mimpi buruk itu datangnya dari setan, kita berdoa saja semoga pak’e masih hidup.” Kata Bimo untuk kesekialn kalinya. Yudhistira pun mulai menuruti apa kata adiknya, ia pun mengangguk. Ia berpikir semoga saja apa yang dikatakan oleh Bimo itu memang benar, semoga saja mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Setan memang sangat pandai dalam membuat manusia menjadi gelisah agar imannya goyah. Namun Yudhistia tidak ingin seperti itu, ia mau menjadi anak yang imannya tetap kokoh walaupun terdapat godaan yang besar.

Yudhistira pun kembali melihat sekeliling pandangannya kepada warga warga yang sedang mengungsi. Keadaan di barak saat ini memang sangat memprihatinkan. Banyak warga yang ia lihat yidak memakai bantal ataupun selimut saat tidur. Suara dengkur mereka terdengar. Di tikar yang terletak paling tengah, terlihat Keluarga Rukmi, yakni gadis ingusan yang terkenal akan kecantikannya sedesa itu tampak tertidur sangat pulas di samping ayang dan ibunya dan berselimut kain jarik. Ayah dari Rukmi ini adalah sahabat dekat dengan bapaknya Yudhistira. Pak Marsudi bisa selamat karena ia langsung berboncengan bersama anak dan istrinya ketika bencana tersebut datang. Mereka sekeluarga selamat tetapi tidak untuk harta mereka. Semua habis ditelan oleh wedhus gembel.

Tiba-tiba saja terdengar orang yang sedang batuk-batuk , suara tersebut berasal dari seorang kakek-kakek yang tertidur di pojokan paling belakang. Ia sudah lama batuk-batuk seperti itu dan emmang penyekaitnya agak parah. Seorang gadis yang tidur di sebelah kakaek tersebut pun bangun dan segera meminumkan obat untuknya agar baruknya tidak semakin parah. Setekah kakek itu meminumkan obatnya, batuknya pun mulai mereda. Yudhistira merasa iba dengan kakek itu, ia melihat tampaknya kakek tersebut tampak lebih tua jika dibandingkan kakenya sendiri.

Lalu ia melihat sekeliling lagi, ia melihat terdapat seorang bayi yang menangis karena mengompol. Setelah ibunya mengganti popoknya, tetapi bayi tersebut tetap menangis. Suara tersebut sangat menganggu para pengubgsi lainnya dan membuat pengungsi lainnya mengeluh akan tangisan dari bayi itu. Para pengungsi pun sebenernya meras kasihan pada ibu tersebut, dan kasihan pula kepada bayinya karena harus ikut merasakan bencana yang seharusnya tidak dirasakan oleh mereka.

Lalu bagaimanakah kelanjutan kisah mereka? Apakah mereka dapat bertemu kembali dengan ayahnya? Atau kejadian yang ada di mimpi Yudhistira justru menjadi kenyataan? Baca buku ini untuk kisah selengkapnya! Novel Anak-Anak Merapi 2 dapat dipinjam di perpustakaan SMA Al-Hikmah Surabaya.

 

Penulis : Ghina Ghinannafsa

Pelajar SMA Al-Hikmah Surabaya

 

 

 

Komentar

  1. Cerpen yang berjudul “ Anak Anak Merapi 2” karya Bambang Joko Susilo ini mengangkat kisah mengenai seorang anak yang bernama Yudhistira yang kehilangan sesosok ayah pada saat bencana alam “gunung merapi meletus”. Perasaan Yudhistira pada saat kehilangan sesosok ayah yang merupakan panutan serta pelindung bagi Yudhistira dan adik-adiknya bercampur aduk, antara sedih dan marah bercampur aduk menjadi satu. Tetapi hal yang sudah terjadi tidak dapat terulang kembali, dan hal itu juga sudah menjadi takdir yang tidak bisa diubah bahwa mereka memang harus berpisah pada saat bencana alam “gunung merapi meletus” tersebut.

    Dalam cerpen ini pengarang menggambarkan tokoh yudhistira yang bermimpi bahwa terjadi letusan gunung berapi. Gunung yang semulanya tapak tenang, setika mulai terdengar suara bergemuruh yang membuat semua orang yang tinggal di sekeliling gunung tersebut keluar dan mencari tahu penyebab suara tersebut berasal. Tidak disangka keluar asap yang tebal yang membuat seluruh waga merasa ketakutan dan kemudian para warga disana berlarian kesana kemari untuk menyelamatkan diri. Akibat dri kepanikan tersebut, banyak warga yang tertindih. Yudhistira bersama ibu dan adiknya pun ikut panik dan kemudian memilih untuk menaiki menaiki truk bersama para warga lainnya. Akan di lain waktu Yudhistira melihat bapak menghidupkan mesin serta meniaki motor dan bersiap mengendarainya. Ia sempat bertatapan dengan sang bapak dan berfikir bahwa itu merupakan isyarat bahwa mereka akan beerpisah. Adik dari Yudhistira meneriaki bapaknya agar tidak naik ke atas, akan tetapi suara itu dihiraukan oleh bapaknya. Motor bapak terus melaju dengan kencang dan saat sang bapak melewati jembatan,  tiba-tiba wedhus gembel tersebut menyembur ke jembatan itu dan menelan tubuh bapak. Yudhistira pun berteriak hingga membangunkan bimo yang sedang tidur. Dan ternyata hal tadi merupakan mimpi dan yudhistira suda berada di dalam truk dalam keadaan selamat.

    Cerpen ini ada menggunakan kata konotasi yang mungkin tidak semua orang mengerti. Selain itu kata kata yang digunakan tidak baku. Alur dalam cerita sangat mudah dipahami dan membuat para pembaca merasa penasaran tenatng kelanjutan dari cerita ini. Inilah salah satu kelebihan dari cerpen berjudul “Anak Anak Merapi 2”.

    Pengkritik : sheila XIIA5/23

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MANOWA DAN PELABUHAN BARUNYA

Hiruk Pikuk Keseharian Lupus