Persahabatan 3 Mimpi
Persahabatan 3 Mimpi
Judul : Orbit Tiaga Mimpi
Pengarang : Miranda Malonka
Kategori : Buku Fiksi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2017
Dimensi buku : 20 cm
Halaman : 317 hlm
Rating : 4 dari 5
ISBN : 978-602-03-3204-8
Buku ini merupakan buku karya Miranda Malonka. Miranda Malonka lahir pada 14 Desember 1991, memiliki akun twitter dan akun Instagram dengan nama @mirandamaloka, Miranda Malonka merupakan pecinta kucing yang menghabiskan waktunya dengan mengamati berbagai hal sambal mendengarkan music country nonstop, ia memiliki cita-cita untuk membangun animal shelter dan pergi ke mars. Miranda Malonka juga merupakan penulis dari buku Utuh sebagai Jiwa, Buku Harian Juliana, Awan-awan diatas kepala kita, Sylvia Letter, Surat-surat yang tidak pernah dikirim. Selain itu Miranda Malonka merupakan pernah menulis sebuah puisi yang berjudul Nursery Rhymes for Twenty-Somethings and Other Poems (TBD) dan Overrated Virtues (or 25 Years of Memories) pada tahun 2019.
Buku ini menceritakan 3 orang asing yang berbeda yaitu Ale, Aster dan Kara yang dipertemukan oleh kelompok belajar. Buku ini terdiri dari pada 38 bab. Buku ini memiliki cover yang menarik dengan tema luar angkasa dan orbit-orbit sesuai dengan judulnya yaitu “Orbit Tiaga Mimpi”. Buku ini juga memiliki rating 4,11 dari keseluruhan pembaca. Secara keseluruhan buku ini bagus. Buku ini cocok dibaca untuk dijadikan inspirasi dalam persahabatan dan cocok dibaca untuk anak-anak jenjang sma - jenjang kuliah. Buku ini sangat bagus karena memiliki makna dalam pengartian persahabatan yang memiliki mimpi yang berbeda, masalah cinta, benci, dan rahasia yang selama ini dipendam, dan menyelesaikan kerumitan dari 3 hati. Buku ini memberikan pembaca suatu masalah dari pandangan yang berbeda-beda.
Prolog buku ini diawali dengan seorang Aster. Aster merupakan seorang murid yang sedang pusing memikirkan udisi band-nya. Kisah Aster dimulai saat dia beranjka kelas 11 dimana ia bertemu Ale dan Kara. Aster pertama kali menyadari sadar tentang betapa fantastisnya bumi dilihat dari luar angkasa sana saat bertemu dengan Ale. Diantara banyaknya manusia yang pernah Aster temui Kara merupakan orang yang sangat ngotot dalam masalah filosofi, disaat oranglain bertanya sebab-sebab dari suatu hal, Kara dan Ale tetap berdiri tegap dengan hal yang berbeda. Ale dan Kara membuka mata Aster dari sikap ketidakpeduliannya. Tanpa Ale dan Kara, Aster tidak bisa merasakan lompatan mental yang dapat membuat dia mengapung di luar angkasa sambal melihat kearah bumi yang bulat. Ia merasa sangat beruntung mengenal dan bisa bersahabat dengan Kara dan Ale, sebelum dia pergi meninggalkan bumi selama-lamanya.
Pada bab 1 buku ini menceritakan tentang seorang pemuda bermnama Ale, Ale mememiliki orangtua yang mempunyai sifat yang berkebalikan, mama Ale merupakan orang yang santai, sedangkan ayahnya Ale merupakan orang yang super-workaholic. Ale mempunyai adek yang Bernama Alan dan juga memiliki kucing Bernama Kuro. Saat kecil Ale sering memberi makan Kuro saat kecil, sampai akhirnya Alan mengklaim bahwa majikan Kuro adalah Ale. Ale tidak masalah untuk merawat Kuro karena Ale dan adeknya Alan menyukai kucing walaupun Alan alergi terhadap bulu kucing tetapi Ale tidak mengizinkan Kuro untuk masuk ke kamarnya Ale merupakan orang yang sangat menjaga kebersihan kamarnya
Pada hari pertama Ale menginjak kelas 11 harinya diawalii dengan tidak damai, karen pada hari itu Ale telat bangun 8 menit, ia bersegera untuk mandi dan membereskan barang – barang yang harus dibawanya kesekolah.Pada pagi itu Ale mendengar suara yang berasal dari kamarnya, dengan cepat Ale berlari ke kamarnya dan melihat apa barang yang telah jatuh tersebut, Ale panik saat ia melihat teleskop refraktor kesayangannya telah jatuh ke lantai, tutup lensanya lepas, ujung tripodnya reatk, dan eyepiece nya menghilang, Alan yang berada disitu berkata bahwa bukan dia yang menjatuhkan teleskop tersebut, Alan berkata bahwa ia melihat Kuro masuk ke kamar, jadi mungkin saja kuro yang menjatuhkan teleskop tersebut.
Ale sampai disekolah pada jam tujuh kurang empat belas, disekolah ia berteman baik dengan semua orang, walaupun disekolahnya masih ada anak yang suka membully siswa lainnya. Ale sudah mengejar nilainya mulai dari kelas 10 agas bisa masuk jurusan IPA dia terdengar seperti kutubuku , tetapi Ale merasa bahwa anak dikelasnya lebih kutubuku dari dirinya. Ada Ester yang akan jadi the next Michio Kaku, seorang fisikawan Amerika-Jepang, Tjandara yang mengusai instrument music dan lulus kelas akselerasi, tetapi tetap memilih untuk masuk kelas regular karena tidak ingin terlalu cepat lulus SMA. Wali kelas Ale merupakan guru biologi yang bernama Bu Lunar.
Pada hari itu kelas Bu Lunar membagi kelas Ale menjadi 10 kelompok yang dimana 1 kelompok terdiri dari 3 orang dan dibagi berdasarkan absensi. Ale berada di kelompok 2 dan sekelompok dengan Angkara dan Asterion. Ale selalu memuja nama Asterion sejak kecil sampai Ale beringin saat punya ana ia akan memberikan nama anaknya Asterion untuk laki – laki, dan Asterionita untuk perempuan. Termenung dengan lamunannya sendiri sampai lamunanya terbuyar karena pertanyaan dari Angkara yang bertanya apakah Ale suka astronomi, Ale pun menjawab bahwa ia menyukai astronomi dan sering melakukan stargazing setiap malam.
Pada bab 2 menceritakan seorang Kara yang merupakan teman dari Ale. Orang – orang selalu kageet mendengar namanya karena Kara melambangkan kemurkaan dan amarah, tetapi Kara sangat menyukai namanya sendiri, karena Angkara sendiri memiliki arti keterpusatan pada diri, teguh berprinsip tentang diri sendiri. Kara tidak merasa bahwa dirinya merupakan anak teladan, tapi karena nilainya yang lumayan bagus sehingga ia bisa masuk ke jurusan IPA. Bagi Kara sekolah memaksa orang – orang untuk mempelajri sesuatu yang tidak sesuai dengan kapasitasnya sehingga sekolah itu bersifat memaksa, dimana hal tersebut menyebabkan hal yang dipelajari akan hilang dalan satu-dua tahun. Kara menyukai pelajaran fisika karena menurutnya fisika menjelaskan hal yang paling mendasar tentang alam semesta dan Kaea selalu menyukai filosofi tentang hal-hal tersebut. Setelah membentuk kelompok dengan Aster dan Ale.
Kara dapat meilhat bahwa Aster merupakan orang yang penceria dan selalu tersenyum dan tertawa, dan Aster terkadang bisa membaca pikiran Kara dan bakat yang dimiliki Aster yaitu dapat membuat orang nyaman dan merasa dimengerti saat bersamanya. Aster memuji kekreatifan Kara atas puisi yang dibuatnya. Puisi Kara mengkisahkan tentang keluarga komet, “ anak-anak bintang berekor berputar bermain di langit, berharap menyentuh pucuk-pucuk asteroid, barang segigit, walau sedikit” ini merupakan salah satu kalimat dari isi puisi yang Kara buat. Aster sangat kagum terhadap Kara hingga Aster terus menerus memuji Kara dengan puisi karangannya tersebut. Puisi yang Kara tulis biasnya akan ditempel dimading, dan semua puisi yang Kara buat dimading jika dikumpulkan dapat dijadikan 1 buku penuh dengan puisi karangan Kara. Ale yang mendengar hal-hal tersebut hanya melamun saja, Kara sangat suka menkhayal. Kara tidak terlalu suka jika orang-orang bertanya tentang dari mana ia mendapatkan ide membuat puisi, karena Kara yakin orang-orang akan berpikir bahwa jalan pikirnya tidak normal dan aneh. Kara sering menulis puisi untuk mading sekolah, semua orang menyukai puisnya karena bernuansa dongeng, fantasi dan filosofi. Ale menunjukkan ekspresi aneh saat mengetahui bahwa Kara sering menulis puisi tentang benda-benda langit. Ale bertanya pada Kara apakah ia membaca Skytale, Kara terkejut dengan hal tersebut karena ia belum pernah bertemu orang yang membaca Skytale sebelumnya, karena hal itu ia dan Ale ngobrol lama pada saat istirahat.
Kara, Ale dan Aster berkumpul untuk membagi tugas biologi. Diskusi ini dipimpin oleh Ale karena Aster dan Kara tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ale hanya peduli pada biologi saja, pada pelajaran matematika Ale banyak bertanya pada Kara untuk menjelaskan hal ini dan itu, mungkin Ale tidak mahir dalam hal perhitungan tapi dalam memahami suatu mekanisme dan klafikasi. Tapi bagaimana Ale akan mengikuti olimpiade astronomi jika soal diferensiasi daar yang dipelajari kelas 11 saja Ale kesulitan, begitu pikir Kara. Tapi Kara tidak terlalu memikirkannya karena pasti Ale sudah merencanakannya secara matang-matang. Sejak tadi Aster memohon untuk diberi tugas yang paling sedikit karena dia sibuk pada sore hari karena dia harus ikut audisi band, awalnya Ale dan Kara merasa kesal karena Aster menjadi anggita yang paling pasif dan tidak terlalu peduli pada tugas itu, tapi akhirnya luluh melihat wajah Aster dan akhirnya setengah tugas Aster akan dikerjakan oleh Ale dan Kara.
Isi dari buku mengajarkan banyak nilai positif, menyadarkan kita betapa pentingnya persahabatan yang kita jalin, betapa pentingnya keputusan yang diambil saat usia muda harus dipikirkan secara matang, berkepala dingin, dan tidak tersulut emosi, dan dari buku ini pula anak usia muda sudah harus mengetahui jati dirinya sendiri, mulai dari kekurangan, kelebihan dan potensi yang dimilikinya, sudah mempersiapkan diri dengan semua rintangan yang akan dilalui dalam kehidupan, masalah pertemanan, masalah cinta, masalah keegoisan, dan masalah mengikhlaskan kepergian. Belajar bagaimana pentingnya seseorang dalam hidup kita, tidak berburuk sangka terhadap orang lain, menghargai kerja keras orang lain, kehidupan orang lain.
Hmm kira-kira bagaimana kelanjutan kisah Ale, Aster, dan Kara? Apakah kamu semua penasaran kelanjutannya ? menurut mu apakah kisah ini akan berakhir bahagia atau menjadi akhir yang sedih ? Jika kamu penasaran, kamu bisa membaca kelanjutan kisah persahabatan Ale, Kara dan Aster di buku Orbit Tiaga Mimpi karya Miranda Malonka. Buku ini dapat kamu pinjam di perpustakaan SMA Al Hikmah Surabaya.
Penulis: Fairuz Nabila Daniputri
Pelajar SMA Al Hikmah Surabaya

Cerita pendek berjudul "Persahabatan 3 Mimpi" ini bercerita tentang tiga seorang sahabat yang dipertemukan dalam sebuah kelompok belajar di sekolah mereka. Cerita pendek ini diawali dengan pendahuluan yang menceritakan tentang perkenalan tokoh Aster, Ale, dan Kara dimulai dari hobi hingga latar keluarga masing-masing tokoh. Pertemuan Aster dengan tokoh lain yaitu Ale dan Kara dimulai pada saat mereka menginjak kelas 11. Ale sangatlah menyukai hal-hal berbau astronomi. Sedangkan, disisi lain, tokoh bernama Kara tersebut sangat menentang akan suatu filosofi. Ibarat api dan air, Kara dan Ale sangat sulit Bersatu. Kisah terus berlanjut ketika mereka, Ale, Kara, dan Aster ditakdirkan berada dalam satu kelompok di pelajaran biologi. Lantas, apa yang terjadi setelah takdir pertemuan tersebut? Apakah mereka akan menjadi dekat satu sama lain?
BalasHapusCerita pendek ini disajikan dengan bentuk bahasa yang ringan (informal) dan santai sehingga membuat pembaca dapat lebih mudah memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis dalam cerita pendek ini. Sang penulis, juga mampu memberikan gambaran mengenai kehidupan tiap pribadi tokohnya dengan rinci dan jelas. Contohnya seperti pada paragraf empat yang menceritakan kehidupan keluarga pada tokoh "Ale" dengan detail. Selanjutnya, buku ini juga banyak menggunakan penggambaran indra seperti mendengar, melihat dan meraba untuk mendeskripsikan tiap kegiatannya. Contohnya seperti melamun, tertawa, tersenyum, dan sebagainya. Buku ini juga mampu menyajikan kisah remaja yang tidak terlalu memiliki banyak konflik.
Dibalik berbagai kelebihan tersebut, cerita pendek ini juga memiliki berbagai kekurangan. Pada cerita pendek ini, masih banyak ejaan yang belum diperbaiki sehingga membuat pembaca sedikit sulit untuk memahami makna dari kata tersebut. Contohnya kata sambil namun ditulis menjadi sambal. Meskipun hanya berbeda satu kata, namun itu dapat menghancurkan imajinasi pembaca yang awalnya sudah tersusun rapi di otak menjadi pecah karena adanya kesalahan kata yang dapat menimbulkan makna lain. Kemudian, banyak susunan kata yang tidak diberi tanda baca membuat kita sebagai pembaca menjadi sulit memahaminya. Selanjutnya, karena buku ini hanya membahas tentang kisah remaja klasik, maka memiliki peluang besar beberapa pembaca akan menjadi bosan ditengah jalan. Cerita pendek ini juga terlalu cepat berpindah topik tanpa diberi konjungsi, sehingga pada saat awal membaca kurang bisa memahami pada bagian ini topik apa yang sedang dibahas. Contohnya seperti di paragraf pertama ketika sedang membahas tokoh Ale kemudian langsung membahas tokoh Kara tanpa diberi konjungsi satupun. Sehingga pada bagian ini terasa seperti dalam satu topik padahal keduanya seharusnya memiliki topik yang berbeda.
Cerita pendek ini dapat menjadi lebih baik lagi dengan memeriksa kembali tiap kata yang ada hingga peluang adanya kesalahan kata sangatlah sedikit. Kemudian, penulis juga dapat menambahkan konjungsi apabila ingin berpindah topik. Penulis juga dapat menambahkan beberapa tanda baca seperti koma supaya cerita pendek ini dapat lebih enak dibaca. Yang terakhir, mungkin penulis dapat memberikan beberapa tambahan cerita supaya cerita pendek ini terus terasa menarik dan membuat penasaran tiap halamannya. Namun, secara keseluruhan cerita pendek ini cukup bagus untuk dibaca, hanya beberapa poin saja dibenarkan akan membuat buku ini terlihat lebih baik lagi. Sekian kritik dan saran yang dapat diberikan, semoga segalanya dapat membangun cerita ini menjadi lebih baik lagi.
Shafa Alysia Torry/22/XIIA5