Petualangan Mukhlis di Kota Asing

 PETUALANGAN MUKHLIS DI KOTA ASING


Judul Buku      : Petualangan Tiga Hari

Nama Penulis : Dian Dahlia

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit   : 2020

Halaman         : 255

ISBN               : 978-623-253-003-4



         Pada kisah berikutnya, Mukhlis melompat meninggalkan dan melambaikan tangan ke arah kapal Sheila 3, yaitu kapal yang membawanya meninggalkan Pallawa Lipu, dan menuju ke dermaga. Mukhlis yang memakai seragam berwarna pudar sambil menjinjing sepatu hitam miliknya, berjalan di tengah lalu lalang orang-orang yang tidak menghiraukannya. Mukhlis mengamati keadaan sekitar pelabuhan lalu menyadari bahwa pelabuhan itu tidak terlalu besar. Terdapat dua kapal besar di sisi yang lain. Di sisi ia mendarat, terdapat banyak kapal berukuran Sheila 3 atau bahkan lebih kecil, serta terdapat deretan perumahan yang mirip dengan rumah di kampungnya di sisi yang lain. Sesaat kemudian, Mukhlis kelaparan hingga perutnya berbunyi. Jangankan makanan, ia bahkan tidak memiliki air untuk diminum. Ia juga tidak memiliki uang karena ibunya tidak pernah memberi Mukhlis uang jajan. Mukhlis pun menyesal mengapa ia kabur saat ibu mengingatkannya untuk sarapan. Andai ia tadi menuruti perkataan ibunya, ia tidak akan kelaparan. Dalam diamnya, Mukhlis berdoa agar ada orang baik yang memberinya sedikit pengganjal perut untuknya.

           Mukhlis pun berjalan keluar pelabuhan dengan keringat yang mulai membasahi keningnya. Jalan besar yang beraspal itu membuat telapak kakinya terasa panas. Meskipun panas, Mukhlis tidak berniat untuk memakai sepatunya. Sekitar 100 meter dari pelabuhan, ia melihat deretan mobil yang berjajaran di tempat teduh. Ia membaca petunjuk yang bertuliskan parkir roda 2 di bagian kiri dan parkir roda 4 di bagian kanan. Mukhlis merasa senang melihat mobil-mobil itu, karena ia melihat pemandangan yang berbeda dengan kampungnya, Pallawa Lipu. Di sana ia hanya melihat ketinting yang di parkir di setiap garasi rumah. Ketinting adalah perahu yang menggunakan motor luar agar dapat berjalan.  Bentuk ketinting seragam, hanya warna dan ukurannya saja yang berbeda. Sedangkan bentuk mobil beragam. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam yang mengilap di belakangnya menekan tombol klakson. Mukhlis pun buru-buru menepi. Saat sudah di sebelahnya, kaca mobil itu diturunkan dan seseorang berkaca mata hitam menegur Mukhlis agar berhati-hati jika tidak ingin tertabrak. Kaca mobil pun kembali dinaikkan dan mobil itu pun menjauh.  Mukhlis membayangkan kenikmatan berkeliling melihat-lihat kota sembari menumpang mobil hitam itu. Kota ini sangat luas, sehingga ia perlu  berhari-hari untuk menyusuri setiap sudutnya dengan berjalan kaki.

            Rupanya, letak pelabuhan dekat dengan perkotaan dan pasar. Pantaslah banyak mobil dan orang yang berlalu-lalang melewati Mukhlis. Mukhlis pun melewati deretan pertokoan yang baru akan buka. Pemilik dan pegawai toko terlihat sibuk membersihkan dan mempersiapkan dagangan. Terdapat toko yang menjual kaset dan CD lagu dan menyetel musik dengan sangat keras. Meskipun begitu, toko yang berada di sebelahnya tampak tidak terganggu karena sudah terbiasa dengan keadaan itu. Merasa lelah setelah berjalan-jalan melihat toko hingga kakinya melepuh akibat berjalan tanpa alas kaki, Mukhlis duduk di emperan sebuah toko yang belum buka. Ia membaca papan di depan toko yang bertuliskan “Toko Perhiasan Emas Juwita”. Mukhlis pun terheran mengapa toko itu belum buka juga di hari yang siang.

            Mukhlis membuka topinya yang basah karena keringat yang terus mengalir di dahinya. Melihat ada keran di dekatnya, ia membasuh kakinya yang melepuh hingga bersih. Sembari duduk berselonjor menunggu kakinya kering, Mukhlis teringat omelan ibu tentang kaus kaki putihnya yang menghitam setiap pulang sekolah. Ibu berkata bahwa lebih baik membuang kaus kaki yang hitam daripada mencucinya karena harga air ditambah deterjen hampir sama dengan harga kaus kaki. Hal itulah yang menyebabkan Mukhlis malas memakai kaus kaki daripada mendapat omelan panjang dari Ibu. Selain itu, kakinya harus benar-benar kering sebelum memakai kaus kaki agar tidak jamuran. Begitu pesan Bidan Rita yang seminggu sekali datang ke Pallawa Lipu untuk memberi materi kesehatan pada Mukhlis dan teman-temannya. Pada saat seperti ini, Mukhlis jadi teringat semua pesan itu.

            Seorang wanita turun dari mobil putih yang berhenti tepat di ujung deretan pertokoan, lalu berjalan menuju deretan pertokoan. Mobil itu rupanya tidak hendak parkir, hanya bermaksud menurunkan penumpangnya.  Wanita cantik itu berbaju ungu muda dengan keranjang belanjaan besar berwarna ungu. Dandanannya sangat serasi mulai dari baju, keranjang belanja, hingga dompet. Penampilannya agak berbeda dengan pengunjung pasar lain yang tampil seadanya saja. Wanita itu berjalan cepat seperti terburu-buru. Tiba-tiba ia lewat di hadapan Muhlis dan memberinya uang dua ribuan, lalu bergegas melangkah lagi masuk ke pintu pasar dan menghilang di keramaian. Mukhlis kemudian kebingungan sambil melihat lembaran uang dua ribuan di dalam topinya. Perlahan Mukhlis memegang uang itu dan teringat akan doanya tadi. Mungkinkah Allah mendengar doanya dan mengabulkannya? Mata Mukhlis menerawang sekitar dan mencoba mencari wanita yang memberinya uang. Namun, matanya justru menemukan hal lain. Terdapat dompet berwarna ungu tergeletak di tengah jalan. Mukhlis seketika melonjak dari tempatnya duduk ketika menyadari bahwa dompet ungu itu milik wanita yang memberinya uang. Buru-buru ia bangkit dan berjalan ke arah dompet itu tergeletak, lalu memungutnya. Mukhlis pun kmbali ke tempat duduknya tadi. Ia lupa bahwa ia telah mencuci kaki dan mengeringkannya. Kini telapak kakinya kotor lagi. Tanpa mencuci kaki lagi, ia pun segera menggunakan kaus kaki dan sepatu, memasukkan topi dan dompet ungu ke dalam tas, lalu menjinjing tas itu. Uang pemberian wanita itu diselipkannya ke dalam kantong celana. Ia segera bangkit dan bertekad untuk mengembalikan dompet itu ke pemiliknya.

            Mukhlis melangkah ke bagian dalam pasar. Ia langsung bertemu dengan kios ikan dan daging yang sangat ramai dan memiliki bau amis bercampur busuk yang membuat perutnya mual. Merasa tak tahan, ia menjepit hidungnya dengan jari. Beberapa ekor kucing bertubuh gemuk berkeliaran melewati kaki penjual ikan. Setelah berdesak-desakan dan terhimpit saat berjalan, Mukhlis menemukan kios buah sayuran dan buah yang beraroma harum. Melihat anggur dan kelengkeng yang tergantung, liur Mukhlis menetes. Tiba-tiba, seorang penjual pisang memanggil Mukhlis dan memberinya pisang secara gratis. Hal itu membuat Mukhlis sangat senang. Ia pun mengucapkan terima kasih dan mencari tempat yang agak sepi untuk memakan pisang tersebut. Setelah makan pisang dan meneguk sisa air dari botol minuman dalam tas, Mukhlis melanjutkan langkahnya menyusuri kios sayuran dan buah. Di bagian itu, Mukhlis tetap tidak menemukan wanita yang dicarinya meskipun sudah memutari tempat itu dua kali. Mukhlis lalu menaiki tangga menuju lantai dua yang berisi pasar modern yang dipenuhi dengan deretan baju. Terdapat berbagai jenis baju yang dijual, seperti baju koko dan gamis.

Mukhlis naik lagi ke lantai berikutnya yang berisi deretan tas dan sepatu. Sambil berkeliling dan melihat-lihat, Mukhlis membayangkan tas yang cocok dipakai oleh ibunya dan sepatu yang cocok untuk ayahnya. Melihat sepatu seukuran kakinya, Mukhlis pun mencoba sepatu itu. Sadar bahwa ia tak memiliki uang, Mukhlis buru-buru melepas sepatu dan naik ke lantai berikutnya. Sesmpainya di sana, ia disambut dengan lagu anak-anak yang disetel sangat keras. Rupanya, tempat itu adalah tempat permainan anak-anak. Terdapat beberapa jenis permainan seperti flying fox, mandi bola, trampolin, rumah balon, dll. Setiap 30 menit bermain dikenakan ongkos sebesar 20 ribu. Mukhlis kemudian bertekad suatu saat ingin megajak adik-adiknya bermain di sana. Ia ingin menjadi orang kaya dan membahagiakan keluarganya. Gurunya kemarin berkata bahwa untuk meraih cita-cita, ia harus bersekolah dengan pintar. Di kampungnya ada sebuah sekolah dimana ia dan teman-temannya bersekolah disana. Hanya terdapat satu guru saja, yaitu Pak Mansyur. Beliau mengajar kelas 1 sampai kelas 6 dan anak-anak menyukainya. Setelah lulus, biasanya murid laki-laki langsung bekerja dengan berbagai macam pekerjaan seperti melaut, mencari ikan, mencari teripang, dan memelihara rumput laut. Sedangkan murid wanita rata-rata tinggal di rumah menjaga adiknya, membantu memasak, atau membuat camilan. Mukhlis pun meragukan perkataan gurunya itu. Meskipun ia bersekolah dengan rajin dan pintar, ia akan tetap bekerja melaut dan memelihara rumput laut seperti ayahnya. Tetapi melihat pusat pertokoan itu, Mukhlis menyadari bahwa ada juga orang lain yang bisa membuat tas, baju, dan sepatu berbagai model. Ada pula orang yang bisa membangun dan mengelola toko semegah itu, serta membuat mobil yang bermacam-macam bentuknya seperti yang ada di parkiran. Mukhlis bertanya-tanya bagaimana mereka bisa membuat dan memiliki barang-barang itu? Pasti mereka belajar membuatnya di tempat yang ia sendiri belum tahu. Jelas saja sekolah semacam itu belum ada kampungnya.

            Tiba-tiba, hidung Mukhlis mencium bau harum makanan. Rupanya bau itu berasal dari foodcourt, tempat menjual makanan. Beberapa orang duduk di kursi sedang menunggu pesanan makanan. Nama makanan yang dijual terdengar asing bagi Mukhlis, yaitu spagetti, pizza, hamburger, fried chicken, donut, bakery, ramen, sushi. Namun ada juga makanan yang tidak terdengar asing olehnya seperti pecel, gado-gado, gudeg, rawon, dan soto. Setahu Mukhlis itu semua adalah masakan orang jawa, seperti yang diterangkan oleh Pak Masyur tentang ragam kebudayaan Indonesia. Mukhlis jadi teringat Hasna ketika melihat kedai yang menjual roti. Hasna paling senang makan roti. Roti yang dijual di kedai itu sepertinya lebih enak dibandingkan dengan yang dibawa ayahnya kemarin. Andai ia punya uang, ia ingin membelikan oleh-oleh roti untuk Hasna.  Membaca dan melihat berbagai menu makanan itu membuat Mukhlis merasa lapar. Tak terasa, sudah 10 menit ia berdiri dan mengamati setiap menu dan gambar yang terpampang di tiap kedai. Foodcourt itu mulai ramai oleh pengunjung karena jam makan siang telah tiba. Ada yang datang sendirian, ada pula yang datang bersama orang lain.

            Jam dinding berdentang menunjukkan pukul 13.00, mengingatkan para karyawan yang sedang makan untuk kembali bekerja sesuai tugasnya masing-masing. Mukhlis kemudian tersadar bahwa hari sudah siang. Ia bergegas meninggalkan tempat dan turun kembali ke lantai 1. Ia harus cepat-cepat kembali ke pelabuhan, siapa tau ia bisa berjumpa dengan pak RT untuk kembali ke kampungnya, Pallawa Lipu. Kalau ia tidak bertemu dengan pak RT, ia akan mencari nahkoda kapal Sheila 3 untuk menumpang. Orang tuanya pasti marah karena harus membayar biaya sewa kapal yang ia saja tidak tahu harganya. Akan tetapi, hal itu bukan masalah untuk saat ini, yang penting ia bisa pulang kembali ke keluarganya. Sambil berjalan, Mukhlis berandai-andai apa yang akan ia lakukan jika nahkoda kapal menolak mengantarnya. Mungkin saja ia akan mnta izin untuk bekerja di kapal itu. Mukhlis bergegas melangkah keluar pelabuhan disertai rasa lapar, lelah, dan kepanasan akibat terik mentari.

            Bagaimanakah kelanjutan kisah Mukhlis? Apakah ia bisa bertemu dengan pak RT atau nahkoda kapal? Apakah ia bisa pulang ke rumahnya? Baca edisi lengkap buku Petualangan Tiga Hari yang dapat anda temukan di Perpustakaan SMA Al Hikmah Surabaya. 

 

Penulis: Nayla Raissa Azzahra

Pelajar SMA Al Hikmah Surabaya    





Komentar


  1. Pada buku yang telah di review oleh Nayla Raisa ini menceritakan tentang seorang yang bernama Mukhlis sedang memakai seragam berwarna pudar sambil menjinjing sepatu hitam miliknya, berjalan di tengah lalu lalang orang-orang yang tidak menghiraukannya. Mukhlis mengamati keadaan sekitar pelabuhan lalu menyadari bahwa pelabuhan itu tidak terlalu besar. Terdapat dua kapal besar di sisi yang lain. Di sisi ia mendarat, terdapat banyak kapal berukuran Sheila 3 atau bahkan lebih kecil, serta terdapat deretan perumahan yang mirip dengan rumah di kampungnya di sisi yang lain. Sesaat kemudian, Mukhlis kelaparan hingga perutnya berbunyi. Jangankan makanan, ia bahkan tidak memiliki air untuk diminum. Ia juga tidak memiliki uang karena ibunya tidak pernah memberi Mukhlis uang jajan. Mukhlis pun menyesal mengapa ia kabur saat ibu mengingatkannya untuk sarapan. Andai ia tadi menuruti perkataan ibunya, ia tidak akan kelaparan. Dalam diamnya, Mukhlis berdoa agar ada orang baik yang memberinya sedikit pengganjal perut untuknya. Lalu Mukhlis melompat meninggalkan dan melambaikan tangan ke arah kapal Sheila 3, yaitu kapal yang membawanya meninggalkan Pallawa Lipu, dan menuju ke dermaga.

    Ketika Mukhlis melangkah ke bagian dalam pasar. Ia langsung bertemu dengan kios ikan dan daging yang sangat ramai dan memiliki bau amis bercampur busuk yang membuat perutnya mual. Merasa tak tahan, ia menjepit hidungnya dengan jari. Beberapa ekor kucing bertubuh gemuk berkeliaran melewati kaki penjual ikan. Setelah berdesak-desakan dan terhimpit saat berjalan, Mukhlis menemukan kios buah sayuran dan buah yang beraroma harum. Melihat anggur dan kelengkeng yang tergantung, liur Mukhlis menetes. Tiba-tiba, seorang penjual pisang memanggil Mukhlis dan memberinya pisang secara gratis. Hal itu membuat Mukhlis sangat senang. Ia pun mengucapkan terima kasih dan mencari tempat yang agak sepi untuk memakan pisang tersebut. Setelah makan pisang dan meneguk sisa air dari botol minuman dalam tas, Mukhlis melanjutkan langkahnya menyusuri kios sayuran dan buah. Di bagian itu, Mukhlis tetap tidak menemukan wanita yang dicarinya meskipun sudah memutari tempat itu dua kali. Mukhlis lalu menaiki tangga menuju lantai dua yang berisi pasar modern yang dipenuhi dengan deretan baju. Terdapat berbagai jenis baju yang dijual, seperti baju koko dan gamis

    Pada sinopsis diatas ditulis dengan sangat baik dan bagus, memiliki alur cerita yang menarik untuk dibaca. Kisahnnya seru dan membuat jantung berdebar – debar. Ketika membaca sinopsis ini seakan – akan kita berada dalam situasi yang ada seperti berpetualang bersama dengan Mukhlis. Yang paling saya suka dari synopsis ini adalah memiliki ritme yang tidak bertele – tele.

    Menurut saya kekurangan pada synopsis ini menggunakan kata yang repetitive sehingga pembaca merasa cepat jenuh dan bosan. Para pembaca harus bisa memahami apa yang dimaksud sm penulisnya. Memiliki gaya bahasa yang tinggi dan beberapa orang ada yang belom bisa memahami cerita tsb.

    Solusinya yaitu membuat kata yang tidak berulang ulang. Sebisanya gaya bahasanya jjangan terlalu tinggi karena jg tidak semua orang bisa memahami apa yang dimaksud.

    Korektor : Safira Ramadhani Nugraha Putri XII A5/21

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MANOWA DAN PELABUHAN BARUNYA

Hiruk Pikuk Keseharian Lupus