Sahabat Dunia Akhirat
Sahabat Dunia Akhirat
Identitas
buku
Ø Judul
buku : Queennora, A Bestfriend Reminds You To Allah (Bab 3 dan 4)
Ø Penulis
: Uniessy
Ø Penerbit
: Mizan Media Utama
Ø Tahun
terbit : 2017
Ø Jumlah
halaman : 335 halaman
Ø ISBN : 978-602-61273-4-1
Uninessy
adalah pengarang dari buku yang berjudul Queennora, A Bestfriend Reminds You To
Allah . Beliau mencintai dunia literasi sejak masih duduk di bangku sekolah.
Kini, begitu telah bekerja untuk beribadah di bumi Allah, ia memilih menulis
untuk menjadi lahan penyebarluasan dakwah sederhana dalam hidupnya. Seperti buku
ini yang merupakan karya kesekian yang sudah dihasilkan olehnya.
Buku berjudul Queennora,
A Bestfriend Reminds You To Allah menceritakan
tentang kisah dua orang gadis bernama Queen dan Nora, dimana mereka berdua merupakan
sepasang sahabat yang saling mengingatkan akan ibadah dan nilai-nilai
keagamaan. Dalam buku ini, Queen
diceritakan sebagai seseorang yang tergolong awam dengan hal keagamaan namun ia
sedang berada dalam proses untuk menjadi seseorang yang beriman dan bertaqwa,
seperti Nora. Dimana Nora dalam buku ini diceritakan sebagai perempuan
yang sempurna sekali karena dia memiliki
akhlak yang mulia, selalu bahagia saat beribadah, ikhlas dalam menghadapi
cobaan, dimana pada intinya hidupnya sangat ikhlas hanyalah untuk beribadah
kepada Allah. Hal ini bisa dilihat dari saat dia makan, berbicara, menyikapi sebuah
masalah, dan semua hal yang biasa dikira remeh temeh pun dapat dimaknai sebagai
ibadah di mata Nora dan dilakukannya dengan ikhlas sesuai syariah.
Dalam bab tiga yang
memiliki judul Siapakah idolamu ?, mengajarkan bahwa hijab yang merupakan
sesuatu yang wajib dikenakan dan merupakan jati diri dari seorang muslimah
sehingga hijab bukanlah suatu batasan yang menyebabkan diri ini tidak
berkembang namun hijab justru menjadikan para muslimah lebih terjaga.
Berawal dari kagumnya
Queen pada kecantikan seorang sahabatnya yakni Nora yang sedang tidak memakai
hijab. Terlalu penasaran dengan apa yang
ia pikirkan, Queen langsung bertanya pada sahabatnya tersebut mengenai awal
mula bagaimana Nora bisa istiqomah memakai hijabnya tersebut. Mendengar
pertanyaan tersebut, Nora mulai menjelaskan bahwa ia sudah berhijab mulai sejak
kecil dan orang tuanya lah yang menyuruhnya untuk memakai hijab.
Queen terheran mendengar
penuturan dari sahabatnya tersebut karena alasan ia masih ragu menggunakan
hijab adalah ia merasa bahwa hijab membuatnya panas, kepalanya menjadi gatal, dan
terkesan kuno. Tidak hanya itu, Queen juga belum siap jika dirinya jadi
terbatasi melakukan aktivitas karena menggunakan hijab. Menanggapi keluhan dari
Queen, Nora mengajak berdiskusi mengenai hijab bersama sahabatnya tersebut. Diskusi
ini Nora awali dengan bertanya balik kepada Queen tentang apa alasan sebenarnya
Queen berhijab sekarang. Dengan terbata-bata dan kebingungan, Queen menjawab bahwa
dirinya berhijab karena perintah Allah. Nora mencoba menjelaskan dengan sabar kepada
sahabatnya, berhijab itu memang jati diri gadis muslim dan tentu perintah Allah.
Akan tetapi rasa panas, kepala gatal, dan sebagainya itu hanyalah perkara
tentang bagaimana cara merawat kepala saja. Nora juga menambahkan bahwa hijab
juga tidak ada urusannya dengan kelakuan karena justru hijab itulah yang menjaga
kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Saat mendengarkan nasihat dari Nora,
Queen baru tersadar semenjak ia berhijab ia mulai mengurangi kecentilannya
dengan beberapa lawan jenis. Dimana yang biasanya Queen manja dengan siapapun. Sekarang
ia lebih manja dengan teman-teman perempunnya saja. Dan sekarang jika marah, Queen
membiasakan diri untuk beristighfar seperti yang dianjurkan oleh Nora.
Sedangkan pada bab empat
yang berjudul Dalam Batas Doa, diceritakan bahwa Queen sedang merasa capek.
Awalnya Nora menganggap sahabatnya itu hanya capek karena sehabis berjalan kaki
jauh ketika pulang dari kampus. Ternyata anggapannya tersebut salah, Queen
capek dengan beberapa keinginannya yang belum terkabul hingga sekarang. Nora menatapnya
dengan penuh selidik. Queen pun menyesal dengan apa yang baru ia katakan karena
ia tersadar bahwa mengeluh dihadapan
Nora adalah suatu hal yang bodoh. Dimana Nora pasti punya sejuta cara untuk
membuat keluhannya terdengar seperti angin yang lalu. Nora merasa penasaran
dengan keinginan apa yang dimaksud sahabatnya tersebut, ia langsung menggapinya
dengan pertanyaan. Dan Queen menjawab bahwa setiap manusia pasti mempunyai
keinginan. Pantang menyerah, Nora tetap membalasnya dengan pertanyaan mengenai
seberapa banyak keinginan sahabatnya tersebut yang belum tercapai. Queen hanya
mencibir sambil memikirkan ulang sebelum menjawab. Queen menyahut sahabatnya
tersebut dengan jawaban “Beberapa.” Nora tidak lantas bertanya apa saja
keinginan Queen karena ia tipe seseorang yang suka memancing, dimana lawan
bicaranya harus ekstra hati-hati dalam melontarkan uacapan.
Kali ini Nora menolehkan
kepalanya ke arah Queen sambil menanyakan seberapa besar perbandingan antara keinginan
yang belum terkabul tersebut dengan kebaikan yang sudah Queen terima selama
ini. Padahal kebaikan tersebut tidak pernah dimintanya dalam doa. Queen
menghela nafas, kali ini lebih panjang dan sedikit kesal. Lalu ia
membanding-bandingkan dengan Rose, yang mana Rose baru saja jalan-jalan ke
Jepang bulan kemarin. Padahal Queen yang berdoa siang malam agar diberi
kesempatan ke Jepang, belum juga diberi kesempatan. Tidak hanya dengan Rose,
Queen juga membandingkan dirinya dengan Vega yang bisa menonton konser dimana
saja yang ia mau dan selalu mempunyai gadget keluaran terbaru. Queen
seketika menghentikan kalimatnya dan baru tersadar bahwa ia bodoh sekali
membahas gadget dihadapan Nora. Dimana Nora akan sukses menceramahinya
bahwa gadget tidak menunjukkan apa pun pada diri seseorang. Queen pun
menjelaskan inti kekesalannya yaitu pada Rose maupun Vega itu buruk dalam
beribadah. Mereka berdua tidak pernah terlihat shalat dhuhur, tidak pernah
sedekah karena bagi mereka itu hanya membuat orang-orang miskin menjadi manja. Dan
juga mereka tidak berhijab. Terus mengeluarkan segala kekesalannya sampai Queen
berkata, “Tapi lihatlah, Allah memberikan mereka hal-hal baik. Sedangkan aku ?
Aku berdoa terus siang dan malam, meminta ini, itu, dan hal lain. Tapi mana,
Nora ? Katamu-.“
Berusaha menenangkan
Queen, Nora menasihatimya dengan lembut. Ia menjelaskan pada Queen bahwa kita
tidak bisa menghakimi Rose dan Vega begitu saja. Mendengar pembelaan yang dilontarkan
Nora, Queen merasa tidak terima dan marah karena baginya memang kenyataannya seperti
itu, baik Rose maupun Vega bukanlah ahli ibadah. Mereka tidak berdoa, tidak
mengaji, tapi Allah memberikan hal-hal baik untuk mereka. Disaat itu Queen juga
mulai ragu apakah Nora memang sahabat sejatinya karena Nora tidak bisa mengerti
perasaan Queen dan selalu menjadi jaksa dalam setiap curhatan-curhatannya
kepada Nora.
Lalu Nora mulai membuka
suara, “Jika nikmat diukur tentang siapa yang pergi jalan-jalan ke luar negeri,
maka makna nikmat itu menjadi berkurang jauh. Dan jika nikmat diukur tentang
seberapa keren gadget yang kita miliki, maka esensi nikmat itu
menghilang.” Seketika Queen terdiam. Rasanya ia sudah kehabisan kata untuk
mendebat. Tidak diam disitu, Nora mulai mempertanyakan ibadah-ibadah yang
biasanya Queen istiqomah kerjakan. Disambung dengan sebuah pertanyaan yang
membuat Queen tersentak, “Lalu, apa yang kau irikan ?” Masih bingung dengan
pertanyaan Nora tersebut, Queen hanya bisa menunduk.
Nora mengingatkannya
kembali bahwa semua rezeki itu sudah diatur oleh Allah. Mau diambil seperti apa
pun caranya, jumlahnya akan tetap sama. Yang membedakan hanya pada berkahnya.
Sementara nikmat iman melalui pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut dan tidak
semua orang mendapatkannya. Kita tidak perlu melihat Rose dan Vega untuk
melihat kenikmatan Allah. Tidak perlu menghitung hal menghitung hal baik yang
diberikan Allah kepada orang lain karena kita tidak tahu apa keburukan yang mereka
terima. Kita melihat mereka bahagia padahal mereka lalai dalam beribadah kepada
Allah. Sementara kita yang berusaha mendekat pada Allah masih belum merasa bahagia.
Maka bisa jadi itu berarti ada yang salah dalam pendekatan kita kepada Allah.
Nora terus menambahkan
bahwa kita tidak pernah tahu. Mungkin Allah telah mencabut nikmat beribadah
dari diri mereka sehingga mereka terlena dengan gemerlap dunia. Dimana mereka
berlibur ke sana ke sini, mengabaikan panggilan adzan, melupakan sedekah, tapi
mereka terlihat seolah bahagia. Padahal Allah mematikan hati mereka. Perlu juga
diingat bahwa setiap manusia sudah ada rezekinya. Dan orang yang tidak punya
rezeki, maka otomatis menjadi orang mati. Sementara orang yang hatinya mati, mereka
tetap hidup mendapat rezeki dari Allah, tapi nikmat imannya dicabut oleh Allah.
Jika melihat mereka
tidak pernah berdoa, tapi Allah memberikan kesenangan dunia. Sementara kita
sudah berdoa, tetapi Allah belum mengabulkannya. Hal tersebut ada beberapa
kemungkinan, antara lain Allah menunda memberikannya padamu karena Dia senang
sekali mendengar rayuanmu kepada-Nya, atau Allah tidak mengabulkan doamu secara
langsung karena Dia lebih tau apa yang baik untuk hamba-Nya. Hal tersebut bisa
terjadi jika kita sombong, merasa hebat jika setiap doa selalu dikabulkan
sekejapan. Maka dari itu, kit akita tidak pernah tahu apa penilaian Allah
terhadap kita. Sebagai hamba-Nya, kita hanya ditugaskan untuk selalu berdoa.
Seperti yang diutarakan Umar bin Khattab tentang doa, bahwa beliau tidak
khawatir apakah doanya dikabulkan atau tidak, melainkan yang beliau khawatirkan
adalah jika beliau tidak berdoa. Allah selalu berseru, “Berdoalah pada-Ku
niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” Tapi Allah tidak pernah berfirman bahwa do
aitu akan diperkenankan dalam hitungan apa, baik jam, menit, bulan, tahun. Kita
semua tidak ada yang tahu. Tugas kita hanya berdoa dan yakin bahwa Allah Maha
Baik terhadap hamba-Nya.
Queen mengangguk, lalu
mendongak. Matanya basah menatap wajah Nora yang dipenuhi senyuman. Queen selalu
merasa dirinya bodoh jika curhat kepada sahabatnya tersebut. Lalu Nora mengusap-usap
punggung Queen sambil berkata, “Kita sama-sama belajar, Queen. Curhatanmu
selalu jadi pengingatku kok. Penguat keyakinan juga. Bahwa masih banyak yang
belum paham cara menikmati nimat dari Allah. Banyak yang lalai, termasuk juga aku.
Kalau sedang mengalami seperti kamu sekarang, aku melarikan diri dengan
istghfar.” Queen pun beristighfar dan memohon ampun kepada Allah atas buruk
sangka yang telah dipikirkannya.
Nikmat yang diberikan
Allah atas Queen adalah memiliki teman seperti Nora yang selalu mengingatkan,
yang meluruskan, dan yang mengajaknya pada kebaikan. Nora tidak pernah jenuh
mengajaknya hadir ke kajian, mengingatkannya untuk puasa sunnah, memintanya
untuk bersedekah. Kehadiran Nora ini membuat hati Queen tidak akan pernah terasa
mati. Semoga kita juga dapat bersehabat dengan seseorang selamanya hingga ke
surga.

Review buku berjudul “Sahabat Dunia Akhirat” ini menceritakan dua bab dari buku yang berjudul Queennora, A Bestfriend Reminds You To Allah. review ini mengangkat kisah mengangkat cerita tentang kisah dua orang sahabat, yaitu Queen dan Nora. Di review tersebut menceritakan bahwa Queen dan Nora memiliki kepribadian yang hampir sempurna. walaupun mereka termasuk golongan yang masih dalam proses untuk menjadi seseorang yang beriman dan bertaqwa, mereka sempurna dalam menjalankan ibadah. Mereka selalu memiliki perasaan bahagia dan senang ketika ibadah. bahkan dilihat dari saat mereka makan, berbicara, menyikapi sebuah masalah, dan semua hal yang biasa dikira remeh temeh pun dapat dimaknai sebagai ibadah di mata mereka dan dilakukannya dengan ikhlas sesuai syariah. Mereka adalah sahabat yang saling mengingtakan dalam kebaikan satu sama lain. baik dari penggunaan hijab, dan belum terkabulnya doa.
BalasHapusPada review buku ini, penulis menceritakan secara detail di setiap kejadian. Penulis juga berhasil menggambarkan chemistry antara karakter yang diceritakan pada novel tersebut. review novel ini memberi banyak nilai moral dan nilai agama yang tersaji secara gamblang bagi para pembaca. sehingga pesan-pesan yang terkandung dalam novel tersebut dapat tersampaikan dan bermanfaat bagi pembaca
Selain kelebihan, review buku ini juga tidak luput dari berbagai kekurangan.
kekurangan review buku ini adalah, ada beberapa kalimat dan penceritaan ulang yang sulit dipahami. Sehingga pembaca tidak paham siapa subjek yang diceritakan, dan dideskripsikan. sehingga cerita menjadi bertele-tele dan pembaca sulit untuk memahmi pesan di dalam cerita tesebut. Bukti ada dalam kutipan tersebut
“Queen terheran mendengar penuturan dari sahabatnya tersebut karena alasan ia masih ragu menggunakan hijab adalah ia merasa bahwa hijab membuatnya panas, kepalanya menjadi gatal, dan terkesan kuno. Tidak hanya itu, Queen juga belum siap jika dirinya jadi terbatasi melakukan aktivitas karena menggunakan hijab. Menanggapi keluhan dari Queen, Nora mengajak berdiskusi mengenai hijab bersama sahabatnya tersebut.”
Bisa disimpulkan bahwa pada review ini, penulis terlalu memberi skala penjelasan yang sangat luas dan lebar ke pembaca. agar review buku ini lebih menarik dan sempurna, sebaiknya penulis menceritakan isi cerita tidak bertele-tele, langsung ke intinya saja. Selain itu menggunakan kosa kata dan kalimat yang mudah dipahami agar pembaca lebih paham dan dapat pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh penulis
(Desvina/07)