CINTA SUDAH TINGGAL DEBU
Identitas Buku
Judul: Debu Cinta Bertebaran
Pengarang: Achdiat K. Mihardja
Penerbit: PT Balai Pustaka
Tebal Buku: 394 halaman
Tahun Terbit: 1973
ISBN: 979-690-121-8
Pada kali ini saya akan menceritakan isi dari buku yang berjudul Debu Cinta Bertebaran. Buku ini memiliki 50 sub bab judul. Dari 50 sub bab judul tersebut, saya akan menceritakan 5 sub bab judul. Buku Debu Cinta Bertebaran diterbitkan pertama kali pada tahun 1973 oleh National Library, Singapura. Cetak ulang kedua pada tahun 1976. Yang sekarang beredar lagi adalah cetakan terbaru yang telah direvisi di beberapa bagian. Penerbit kali ini adalah Balai Pustaka. Di tengah maraknya novel chick lit dan teen lit, upaya Balai Pustaka patut diapresiasi. Dan di antara membanjirnya karya novel pop, Dust of Love Scattered terasa 'klasik'. Pengantar dalam buku ini, penulis mengatakan bahwa jika Ateisme adalah novel ide, maka Debu Cinta Tersebar adalah novel kaleidoskop. Memang, jika saya membandingkan dua novel "lama", jelas bahwa Debu Cinta Tersebar penuh dengan banyak hal untuk disampaikan. Ide, pandangan, dan pemikiran penulis hadir dalam kerumunan. Sementara di Ateisme hanya ada satu paham komunisme, di Debu Cinta yang Tersebar, banyak masalah yang muncul. Dari komunisme, nasionalisme, feminisme, homoseksualitas, agama/ketuhanan, politik, sastra hingga cinta. Tidak ada ide yang menonjol dengan sendirinya.
Berlatar tahun 1960-an pada masa Demokrasi Terpimpin, kisah ini mengambil setting di Sydney, Australia, dengan tokoh utama Rivai, seorang jurnalis lepas yang mendapat beasiswa dari Rockefeller Foundation untuk memperdalam ilmu jurnalistik di negeri Kanguru itu selama satu tahun. Melalui Rivai, kita kemudian diajak untuk mengenal tokoh-tokoh lain yang masing-masing merupakan perwakilan dari setiap isu yang diangkat. Ada Janet yang merangkul kebebasan dalam cinta. Baginya cinta tidak perlu diikat dalam tali pernikahan, karena cinta itu sendiri adalah pengikat sejati. Kemudian, Deanne, seorang mahasiswi yang cerdas dan cantik dengan trauma seksual masa kecil. Deanne adalah perwakilan dari kelompok humanis yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan nilai-nilai moral kehidupan. Keduanya adalah orang yang mendapatkan cukup banyak peran di samping Rivai. Segala sesuatu yang lain hanyalah tambahan. Selama enam bulan Rivai di Sydney, ia berkenalan dengan banyak orang, baik dari sesama warga Indonesia maupun Australia. Ia juga sering menghadiri undangan seminar di sana. Hingga suatu malam musim panas, ia bertemu dan berkenalan dengan Deanne, seorang mahasiswa calon Magister Antropologi yang sedang menulis skripsi tentang suku-suku di Irian Jaya. Deanne yang cantik dan cerdas langsung merebut hati pria Rivai yang jauh dari istri dan keluarganya. Ya, Rivai sudah menikah. Fatimah, namanya, ditinggal Rivai dalam kondisi sakit jiwa entah kenapa di kampung halamannya, Bandung. Rivai dan Deanne dengan cepat menjadi teman. Deanne beberapa kali mengundang Rivai untuk makan malam dilanjutkan dengan jalan-jalan. Rivai semakin mengagumi gadis bule itu. Pendapatnya tentang seks, cinta, komunisme, rasisme, dan kemanusiaan membuat Rivai semakin tenggelam dalam perasaan cintanya. Dia adalah wanita idaman setiap pria. Rivai sangat ingin menjadikannya kekasihnya, tapi bagaimana dengan Fatimah yang malang?. Sebelum bertemu Deanne, Rivai lebih dulu dekat dengan Janet. Rivai tahu bahwa Janet adalah kekasih Peter. Namun hal itu tidak menyurutkan Janet untuk menjalin hubungan intim dengan pria lain, termasuk Rivai. Dia dan Peter tidak menikah secara resmi. Mereka hidup bersama tanpa ikatan perkawinan dan sepakat bahwa masing-masing tidak boleh posesif.
Hubungan Rivai dan Janet bisa dibilang lebih dari sekedar teman. Mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk jalan-jalan, melukis atau sekedar minum kopi sampai akhirnya dia bertemu dan jatuh cinta dengan Deanne. Yang pertama berjudul Tujuan Tidak Menghalalkan Sembarang Cara. Pada bagian ini menceritakanRivai yang tinggal di Sydney. Sydney adalah kota metropolitan yang meriah ruah, salah satu dari sekian banyaknya kota besar yang menonjolkan pusat kebudayaan dunia modern yang berserakan di seluruh muka bumi. Pada sore itu Rivai turun dari bis kota, lalu terbungkuk-bungkuk karena angin keras mengayunkan langkahnya ke hotelnya. Rivai masih belum tenang jiwanya karena dia baru saja bertengkar dan baku hantam dengan seorang laki-laki kukuh besar di sebuah bar kopi di Kings Cross. Kronologinya yaitu, ketika dia sedang bersenang-senang duduk minum kopi di sebuah bar. Tiba-tiba dia dimaki-maki oleh seorang laki-laki jangkung gede yang mabuk. Karena dia kesal dengan laki-laki itu, tidak segan dia menyerang, dan mengamankan si mukut kasar itu dengan gerakan pencak silat.
Rivai teringat dengan ajaran Raden Maoluddin yang mewanti-wanti agar rasa benci terhadap sesama umat manusia jangan sampai timbul dan menguasai diri kita.Rivai ingat akan kisah Sayidina Ali as. yang sering kali diceritakan oleh gurunya dalam kaitan dengan rasa benci dan kesucian jiwa rohani manusia sebagai makhluk Ilahi. Ceritanya yaitu, dalam suatu pertempuran membela Islam, Sayidina Ali telah bergulat satu lawan satu dengan seorang musuh yang telah dapat dia tundukkan. Si musuh sudah tanpa daya. Tinggal memenggal batang lehernya saja. Tapi, tiba-tiba ludah tersembur dari mulut si bedebah ke dalam wajah Sayidina Ali. Maka, sambil menyapu ludah dari wajahnya, meledaklah rasa benci dalam hati sang khalifal yang kesohor akan kegagahan dan keberaniannya itu. Pedang yang sudah hendak diayun, lepaslah dari tangannya.
Tidak jadi si musuh ditebang lehernya. Sang musuh kaget, terpesona, kagum terharu, silau-Dia bersujud, mencium kaki Baginda Ali, tersedu, mohon masuk Islam. Raden Mao, guru pencak silat yang sufi itu selalu menegaskan, bahwa perang suci harus dilaksanakan dengan jiwa yang suci pula. Kebencian adalah kotor. Tidak boleh menodai jiwa suci sang pejuang yang membela agama yang suci.
Pada sub bab ke 2 yang berjudul Veteran Perang yang Anti Perang, menceritakan ketika Rivai sudah sampai di kamar hotelnya pada jam 2 malam. Dia meletakkan dirinya di atas tempat tidur, dan terhanyut pada lamunan. Rivai sudah enam bulan meninggalkan tanah air, karena Rivai merupakan wartawan freelance yang tugasnya mengirim berita ke berbagai surat kabar dan majalah di luar negri. Karena dia punya nama baik sebagai wartawan yang demokratis, dia dapat beasiswa dari Rocfkfeller Foundation untuk memperdalam pengetahuannya tentang jurnalistik selama satu tahun di Sydney. Selain itu Rivai adalah seorang yang memiliki ambisi tinggi, dia ingin menjadi pengarang dan kritikus sasta, serta mengikuti kuliah-kuliah non degree di universitas tentang teknik mengarang dan kritik sastra.
Pada suatu malam Rivai diundang untuk pembukaan Summer School yang diadakan di Newport. Begitu masuk lobi di tempat acara, Rivai melihat kolonel pensiunan itu lagi bersantai-santai minum bir di sebuah sudut lobi. Kolonel pensiunan itu bernama Bull Rivai pun bergabung dan segera pesan bir pula dari bar hotel. Mereka pun berbincang-bincang dan sesekali Rivai bertanya pertanyaan agak tolol terhadap veteran perang. Intinya dahulu ketika Bull menjadi tawanan perang yang disiksa oleh jepang, dia tidak mengingat mengingat tuhan. Yang dirasakan oleh Bull seolah-olah seluruh keadaan fisik, jiwa, dan rohaninya dikuasai seutuhnya oleh penderitaan dan kesakitan yang nyata. Bahkan Bull sendiri tidak ingat lagi dan tak sanggu merasakan bagaimana rasa bahagia, rasa senang, rasa kasih sayang, dan rasa cinta. Rivai paham dan turur sedih dengan trauma yang dialami oleh Bull. Bull berpikir mengapa tuhan membiarkan umatnya berbuat keji, buas, dan kejam terhadap sesama hidupnya. Kenapa semua dibiarkan ketika manusia saling bantai, saling membelih, saling menghancurkan. Namun Bull tetap percaya bahwa tuhan itu ada dan sifatnya maha pengasih dan maha kuasa. Nyatanya, seorang pemuda perantauan Indonesia bernama Rivai, sedang dalam perjalanan panjang untuk memahami apa arti cinta sebenarnya. Australia baginya adalah tempat terbaik untuk pemenuhan rasa penasarannya. Bertepatan dengan masa Demokrasi Terpimpin di Indonesia — sekitar tahun 1960-an — di mana perdebatan tentang peradaban barat dan pemahaman modernnya tidak ada habisnya, Rivai berkesempatan membahas hal ini dengan tokoh-tokoh terkemuka — baik akademisi, pengamat politik, atau hanya orang biasa.
Meskipun di sini Rivai tampaknya mengagumi pemikiran peradaban modern, tetapi dia tidak sepenuhnya setuju dengan itu, dan di sini dia juga mencapai kedewasaan dan kejelasan dalam melihat beberapa konflik dan masalah. Mungkin pertemuan antara pengalaman budaya Indonesia yang kuat dan pemahaman tentang barat yang memperkuat perspektif Rivai. Misalnya, menurut Rivai, kebebasan individu tidak selalu berakhir baik jika tidak dibarengi dengan rasa simpati terhadap kebebasan individu lainnya. Karena itulah ia kecewa pada Janet, temannya yang merupakan warga negara Australia, dalam upaya membebaskan dirinya dengan mendekati pria lain, tanpa memikirkan perasaan suaminya, Thomas Peter, yang notabene adalah seorang psikiater. Kedua, berkaitan erat dengan inti dari novel ini sendiri, yaitu cinta. Dalam beberapa bab terakhir pembaca akan dihadapkan pada perdebatan kritis tentang bagaimana pengaruh peradaban modern terhadap interpretasi cinta berdasarkan hubungan seksual. Berawal dari Thomas Peter—suami Janet tadi—bahwa pada dasarnya hubungan seksual hanya sebatas olahraga untuk menyalurkan kebutuhan biologis manusia.
Jadi, menurut dia, sah-sah saja jika seseorang melakukan hubungan seksual di luar nikah, karena nikah formal hanya sebatas apa itu cinta itu sendiri. Selama suami istri benar-benar merasakan getaran cinta satu sama lain, selama mereka memahami kebutuhan masing-masing akan cinta, maka tidak ada salahnya berhubungan seks.
Untuk memperkuat argumentasi ini, Thomas Peter memaparkan kemajuan peradaban Yunani Kuno yang membebaskan hingar bingar dunia, sehingga selangkah lebih maju dari negara-negara lain. Pernyataannya juga diperkuat oleh seorang dokter filsuf wanita, bahwa bagaimanapun juga yang membatasi wanita untuk 'mengendalikan keperawanannya' adalah opini liar masyarakat. Jadi, ketika wanita menolak ide ini, maka mereka sebenarnya melawan keinginan terpendam mereka.
Bola liar ini menggelinding ke kutub yang berlawanan. Seorang pendeta dan kritikus sosial mengkritik pendapat Thomas Peter. Pendeta berpikir bahwa cinta sejati ada ketika seorang pria dan seorang wanita menikah, dan hubungan seksual dilakukan atas nama cinta kepada Tuhan. Dengan begitu, menurut dia, cinta murni tidak mungkin hanya untuk memenuhi nafsu, tetapi sebagai bentuk pengabdian pada peradaban. Sedangkan kritik sosial di satu sisi mengatakan bahwa pemikiran Thomas Peter melanggar hak asasi individu orang lain dan bahkan berpotensi membahayakan negara. Sebab, pertama, seorang individu akan sewenang-wenang melakukan hubungan seksual atas nama nafsu tanpa memikirkan dampak jangka panjang dari perilakunya. Hal ini membuat demografi mengalami pertumbuhan yang signifikan, dan menyulitkan pemerintah untuk mengontrol apalagi menanganinya. Selanjutnya, kemajuan peradaban Yuan Kuno yang dikatakan Thomas Peter tidak benar. Sebab, peradaban ini terbukti baru berusia dua abad dan telah membawa Yunani Kuno ke jurang kehancuran.
Terakhir, tentang kisah cinta antara karakter utama kita dan idolanya, Deanne. Intinya, beberapa pertemuan Rivai dengan tokoh-tokoh lain membantu memperkuat pemahaman Rivai tentang apa itu ideologi, cinta, dan demokrasi sehingga ia berhasil membawa pertemuannya ke Deanne. Sebagaimana pemahaman umum bahwa kecocokan orang dapat dilihat dari minat yang sama, baik Rivai maupun Deanne, terus berkesempatan membicarakan tiga hal ini secara panjang lebar. Hingga akhirnya keduanya menyadari bahwa mereka telah saling jatuh cinta, meski sudah hampir terlambat, karena telah dipisahkan oleh ruang. Yang lain telah menyerah karena merasa harga dirinya telah terluka, memilih untuk menjalani cerita baru tanpa cinta di dalamnya. Untuk cerita selengkapnya bisa membaca buku Debu Cinta Bertebaran
Penulis: Desvina Rahmalia
Pelajar SMA Al Hikmah Surabaya
BalasHapusBuku berjudul Debu Cinta Bertebaran ini mengangkat kisah perjalanan Rivai, seorang jurnalis lepas yang mendapat beasiswa dari Rockefeller Foundation untuk memperdalam ilmu jurnalistik di Sydney, Australia selama satu tahun. Buku ini terdiri 50 sub bab judul dan penulis dalam sinopsisnya menceritakan 5 sub bab judul. Novel berlatar tahun 1960-an pada masa Demokrasi Terpimpin tersebut mengajak pembaca untuk tenggelam dalam cerita pertemuan Rivai dengan tokoh-tokoh lain yang mengubah pandangan Rivai tentang apa itu ideologi, cinta, dan demokrasi. Ada tokoh Janet yang menganut kebebasan dalam cinta. Baginya cinta tidak perlu diikat dalam tali pernikahan, karena cinta itu sendiri adalah pengikat sejati. Kemudian ada Deanne, seorang mahasiswi cerdas dan cantik yang memiliki trauma seksual pada masa kecil. Deanne merupakan perwakilan dari kelompok humanisme yang menjunjung hak asasi manusia dan nilai-nilai moral kehidupan. Selama enam bulan di Sydney, Rivai berkenalan dengan banyak orang, baik dari sesama warga Indonesia maupun Australia. Beberapa perjalanan dan pertemuan Rivai dengan tokoh-tokoh lain berhasil membuat Rivai jatuh hati kepada kepada Deanne. Hingga akhirnya keduanya menyadari bahwa mereka telah saling jatuh cinta, meski sudah hampir terlambat, karena telah dipisahkan oleh ruang.
Dalam sinopsis, penulis menggambarkan watak tokoh Rivai sebagai tokoh yang mudah bergaul dan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan sinopsis “Rivai melihat kolonel pensiunan itu lagi bersantai-santai minum bir di sebuah sudut lobi. Kolonel pensiunan itu bernama Bull. Rivai pun bergabung dan segera pesan bir pula dari bar hotel. Mereka pun berbincang-bincang dan sesekali Rivai bertanya pertanyaan agak tolol terhadap veteran perang”.
Sinopsis novel diceritakan secara runtut dan urut mulai dari sub bab judul pertama hingga sub bab judul kelima. Penulis menceritakan secara detail cerita setiap sub bab, sehingga pembaca dapat memahami apa yang diceritakan pada tiap sub bab. Penulis juga menyisipkan nilai moral dalam novel yaitu kisah Sayyidina Ali tentang bagaimana dia mengontrol rasa benci kepada lawan perangnya sehingga lawannya justru menjadi takjub kepada kesabaran Sayyidina Ali.
Sayangnya, di dalam sinopsis ini ada beberapa kalimat yang sulit dipahami, terutama pada paragraf awal seperti dalam kutipan sinopsis “Pengantar dalam buku ini, penulis mengatakan bahwa jika Ateisme adalah novel ide, maka Debu Cinta Tersebar adalah novel kaleidoskop. Pembaca awam akan sulit menafsirkan apa arti kalimat tersebut.
Kesimpulannya, sinopsis ini berhasil menjelaskan 5 sub bab judul novel secara runtut, namun ada kalimat yang kurang efektif sehingga pembaca kesulitan memahami beberapa bagian cerita.
Agar sinopsis lebih menarik, ada baiknya cerita diceritakan secara to the point dan memilih penggunaan bahasa yang mudah dipahami agar pemahaman pembaca terhadap kisah novel tersebut semakin baik.
-Khansa Shaniadisha Aulia Bestari/XII A5/11-