Merasa Terhina di Tengah Keramaian
Merasa Terhina di Tengah Keramaian
Judul Buku : Rahasia Sang Maestro Cilik (Bab 1)
Nama Penulis : Hendra Surya
Penerbit : PT Elex Media
Komputindo
Tahun Terbit : 2009
Halaman :138
ISBN : 978-979-27-5768-2
Novel
Rahasia Sang Maestro Cilik yang ditulis oleh Hendra Surya merupakan novel
cerita berlanjut yang menceritakan kisah seorang anak yatim, Hendi, yang hidup
dalam kemiskinan dan menderita gagap sejak kecil. Karena gagapnya itu, dia
selalu menjadi bahan ejekan oleh teman-teman sekolahnya. Cibiran, olokan, dan
makian sudah menjadi makanan sehari-hari Hendi di sekolahnya, SDN 120 Medan. Setiap
hari Hendi hanya bisa memandang iri teman-temannya yang bermain bersama di
lapangan sekolah. Kondisi ini membuatnya semakin rendah diri dan selalu menyendiri.
Apalagi dengan hadirnya Hartono, anak seorang bintara TNI yang senang
mempengaruhi kawan-kawannya untuk merundung Hendi membuat Hendi semakin hilang
semangat dan motivasi untuk sekolah. Hartono sering mengajak murid-murid kelas
5 SDN 120 Medan untuk bergerombol mengitari Hendi, sambil mengejeknya dengan
sebutan “si gagap”. Hendi yang setiap hari diperlakukan seperti itu tidak
sanggup menahan amarahnya. Sempat terlintas di pikirannya untuk menghajar
Hartono agar teman-temannya tidak memperlakukan dia semena-mena lagi. Namun
Hendi sadar, kondisi fisiknya tak memungkinkan untuk beradu dengan tubuh
Hartono yang bongsor dan besar. Hendi pun mengurungkan niatnya dan memutuskan
menuju kelas. Tetapi langkahnya terhenti ketika Hartono dan teman-teman
menghadang gerak langkahnya, lantas mencibir Hendi seraya menertawakannya
karena tidak bisa membela. Mereka selalu saja memiliki siasat untuk membuat
Hendi kesal dan marah. Kini, kesabaran Hendi telah habis. Amarahnya tak
terbendung, tangan Hendi mengepal dan siap meluncur ke wajah Hartono. Namun
tindakannya terhenti ketika Ibu Erika, guru kelas mereka datang seraya menjewer
telinga Hendi dan Hartono. Ibu Erika menasehati Hartono untuk tidak berperilaku
semena-mena terhadap Hendi meskipun Hendi memiliki kekurangan dalam
berkomunikasi. Keributan diakhiri dengan Hendi dan Hartono yang saling berjabat
tangan meminta maaf, tentu saja hal ini adalah permintaan dari Ibu Erika yang
harus dilakukan. Teman-teman yang melihatnya bertepuk tangan riuh. Hartono yang
mendengarnya merasa seperti dipermalukan. Ia merasa terhina dan semakin dendam
kepada Hendi karena merasa Hendi telah menjatuhkan harga dirinya. Tangan
Hartono mengepal kepada Hendi sebagai tanda dia mengancam dan akan membalasnya
suatu saat nanti. Hendi hanya bisa pasrah, matanya berkaca-kaca dan hatinya
pedih. Hatinya seolah menjerit. Dia merasa tidak pernah menjahili
teman-temannya, namun mengapa dia selalu diperlakukan tidak adil dan dikucilkan
hanya karena gagap?
Salah
satu momen Hendi dipermalukan adalah ketika pelajaran bahasa Indonesia di
kelasnya. Saat itu, ia diminta untuk membacakan teks yang ada di buku
pelajarannya. Hendi terperanjat kaget. Apalagi yang diminta membaca teks
sebelumnya adalah Hartono, murid yang penuh percaya diri dan memiliki suara
lantang. Hendi gelagapan ketika Ibu Erika menyuruh dirinya untuk melanjutkan
bacaan. Gagapnya menjadi sumber masalah ketakutan Hendi. Setelah mencoba
menenangkan dirinya, dia pun berusaha membaca teks tersebut dengan terbata-bata
dan sangat lama. Seluruh teman yang mendengar kegagapan Hendi lantas mencibir
dan menertawakannya. Hendi sangat sedih melihat teman-teman yang memandangnya
dengan tatapan sinis dan mengejek. Timbul gejolak dalam hatinya untuk segera
berlari meninggalkan kelas. Karena tak kuat menahan malu, Hendi segera berdiri
dari tempat duduknya, namun gerakannya terhenti karena tertahan oleh tangan
yang melarangnya untuk pergi. Hendi menoleh ke belakang, ternyata Ibu Erika
yang mencegahnya untuk pergi dari kelas. Sorot mata keibuan yang menenangkan
itu membuat Hendi mengurungkan niat untuk kabur dari pembelajaran kelas. Ibu
Erika mengelus lembut kepalanya, menghibur Hendi seraya mengajak Hendi untuk
menemui Ibu Erika ketika istirahat nanti.
Ketika
waktu istirahat kedua tiba, sesuai janjinya Hendi pergi ke ruang guru untuk
menemui Ibu Erika. Sampai disana, Hendi menundukkan kepala tak berani menatap
wajah Ibu gurunya itu. Dia hanya bisa pasrah jika akan diberikan hukuman karena telah
membuat keributan di kelas. Ibu Erika yang melihatnya merasa prihatin dengan
sikap dan tingkah laku Hendi selama ini. Sebagai wali kelas Hendi, dia tahu
betul bagaimana sifat dan perilaku Hendi di sekolah. Karena gagapnya, dia
tumbuh menjadi sosok yang tidak percaya diri dan selalu memandang buruk dirinya
sendiri. Hal ini menjadi kekhawatiran bagi Ibu Erika, karena jika tidak segera
ditangani perasaan minder Hendi bisa berakibat buruk pada kelanjutan hidup dan
masa depannya. Ibu Erika merasa bahwa kecerdasan Hendi tak ada masalah. Hanya
kemampuan bicaranya yang tidak normal, sehingga Ibu Erika menyayangkan jika
Hendi menarik diri dari bangku sekolah. Maka dari itu, tujuan Ibu Erika
mengajak Hendi menemuinya adalah untuk memotivasi dan mencari strategi untuk
membangkitkan rasa percaya diri Hendi agar mampu mengatasi masalah yang
dihadapinya. Ibu Erika memanggil lembut Hendi, tersenyum manis kepadanya lantas
menyodorkan teh dan berbagai kue enak kepada Hendi untuk dimakan bersama-sama.
Hendi sumringah, ekspektasinya tentang hukuman yang akan diberikan ternyata
tidak benar. Dia merasa tidak percaya diberikan jamuan istimewa oleh Ibu Erika.
Ibu Erika memperhatikan Hendi dengan tersenyum, ia merasa senang melihat anak
didiknya menikmati kue buatannya dengan bahagia.
Kini
wajah Hendi tidak lagi muram dan kusam seperti biasanya. Kepedulian Ibu Erika
membuat hatinya berbunga-bunga. Waktu ini menjadi waktu terbaik Hendi karena
dia tidak menjadi bulanan teman-temannya, justru Hendi mendapatkan ‘hadiah
istimewa’ dari Ibu Erika . Ibu Erika turut gembira melihat perubahan wajah
Hendi yang tidak lagi murung dan kusam. Dia merasa ini saat yang tepat untuk
mengajak Hendi berdialog dari hati ke hati, untuk memberikan motivasi dan
bimbingan kepadanya. Ibu Erika meminta Hendi untuk menjadi murid kebanggaan Ibu
Erika, dengan belajar lebih giat agar tidak mengecewakannya. Dorongan moril itu
menumbuhkan gejolak semangat dalam dada Hendi. Dengan serius dia memandang ibu
gurunya. Dia senang karena ternyata masih ada yang menganggap dirinya berharga
dan berguna. Hendi pun segera menjawab permintaan Ibu Erika dengan
sungguh-sungguh. Dalam hatinya dia bertekad untuk berubah menjadi lebih baik.
Namun, Hendi masih bingung dengan satu masalah yang mengganjal pikirannya. Ibu
Erika bertanya dengan heran ketika melihat Hendi seperti sedang memikirkan
sesuatu. Hendi pun mengeluh kepada Ibu Erika tentang tingkah laku Hartono dan
teman-teman yang selalu menganggu dirinya dan membuat Hendi kehilangan semangat
belajar di sekolah. Ibu Erika mengangguk, mengerti apa yang dirasakan Hendi
selama ini. Ibu Erika mengelus lembut bahu Hendi dan memberikan nasihat, bahwa Hendi harus dapat
menerima kekurangan dirinya, kemudian mempelajari dan berusaha memperbaiki
sebisa mungkin. Hendi tidak boleh patah semangat karena ejekan teman-temannya.
Justru cibiran tersebut bisa dijadikan Hendi sebagai pemacu semangatnya untuk
membuktikan bahwa dibalik kekurangannya dia memiliki kelebihan yang tidak
dimiliki oleh teman-temannya. Ibu Erika melarang Hendi untuk membalas ejekan
teman-temannya dengan tindakan kekerasan seperti kejadian ketika dia hendak
menghajar Hartono, karena hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah justru
membuatnya semakin dibenci dan terkucilkan. Ibu Erika memberikan nasihat perumpamaan
seperti pohon nyiur. Meski setiap hari pohon nyiur diempas angin dan badai,
pohon tersebut tetap berdiri kuat dan tidak roboh. Sebab batangnya cukup lentur
beradaptasi dengan lingkungan. Hendi bisa mencontoh dari filosofi pohon nyiur
yang mengajarkan arti kekuatan dan kesabaran. Ucapan Ibu Erika membuat semangat
hidup Hendi mulai bangkit. Hendi bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya mampu
berbuat sesuatu yang berguna dan menghilangkan kegagapannya. Meski durasi
pertemuan Hendi dengan Ibu Erika cukup singkat, hal tersebut memberikan banyak
perubahan pada Hendi. Sebagai anak yang hidup dalam kekurangan kasih sayang,
dukungan dari Ibu Erika cukup menenangkan hatinya. Dia merasa memiliki sosok
ibu baru di sekolah yang dapat memberi kasih sayang dan perlindungan kepadanya.
Rasa rendah diri dan apatis yang menjadikan dirinya hanyut dalam kesedihan mulai
pudar. Di akhir pertemuan, Ibu Erika berpesan kepada Hendi agar banyak latihan
membaca dan olah vokal untuk mengasah kemampuannya. Dan yang tak kalah penting
adalah Ibu Erika berpesan kepada Hendi agar sering mengamati alam dan lingkungan
sekitar untuk mencari potensi dan minat yang dimiliki oleh Hendi, sehingga bisa
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan mempunyai nilai tambah. Selesai salim
dan berpamitan dengan Ibu Erika, Hendi pun berdiri untuk kembali menuju kelasnya.
Motivasi serta dukungan dari Ibu Erika sangat berarti dan membekas dalam hati
dan hidup Hendi pada hari-hari mendatang. Hendi kembali menuju kelas dengan
perasaan gembira. Kepalanya tidak lagi menunduk, rasa percaya dirinya mulai
muncul. Ia sudah bisa berjalan dengan kepala tegak memandang ke depan. Petuah
dari Ibu Erika membuat Hendi merasa menjadi orang yang berharga dan memiliki
makna dalam hidup.
Berbeda
dengan Hendi yang saat ini berbahagia , Hartono beserta kawan-kawannya merasa
jengkel dan iri melihat Hendi dijamu istimewa oleh Ibu Erika. Diam-diam semenjak
tadi mereka memperhatikan keduanya dibalik jendela bening ruang guru. Hartono
dan teman-temannya merasa tak terima dengan perlakuan Ibu Erika terhadap Hendi.
Mereka merasa terancam karena kehilangan sumber objek permainannya. Jika Ibu
Erika saat ini menjadi pelindung dan pembela Hendi, itu artinya mereka tidak
dapat berlaku semena-mena lagi kepada Hendi. Hartono dan kawan-kawannya
terbakar emosi, dan akhirnya mereka memutuskan pergi ke bawah pohon akasia
payung untuk merundingkan rencana selanjutnya. Mereka berpikir keras mencari
berbagai cara untuk mempertahankan Hendi sebagai objek permainannya. Memang
lebih sulit untuk mengganggu Hendi sekaranag karena dia mendapatkan
perlindungan dari Ibu Erika. Namun, Hartono berpendapat bahwa masih ada cara
yang dapat dilakukan karena tidak selamanya Ibu Erika mampu mengawasi dan
memberi perlindungan kepada Hendi. Maka dari itu, Hartono memberi ide kepada
teman-temannya untuk mengganti waktu mengganggu Hendi ketika pulang sekolah.
Hal ini dilakukan karena Ibu Erika hanya mengawasi Hendi secara terbatas di
sekolah. Ketika Hendi keluar dari gerbang sekolah tentu akan luput dari
pengawasan. Maka dari itu, Hartono dan gengnya sepakat untuk mengganti strategi
baru dalam menganggu Hendi. Rencananya mereka akan mulai melakukan aksi ketika nanti
pulang sekolah. Bab pertama novel Rahasia Sang Maestro Cilik pun berakhir disini,
tentu pada bab-bab selanjutnya akan diceritakan segmen yang semakin menarik dan
menegangkan. Bagaimana kelanjutan kisah Hendi si anak gagap? Baca buku ini
untuk kisah selengkapnya! Novel Rahasia Sang Maestro Cilik dapat dipinjam di
perpustakaan SMA Al-Hikmah Surabaya.
Penulis : Khansa
Shaniadisha Aulia Bestari
Pelajar SMA Al-Hikmah
Surabaya

Novel Rahasia Sang Maestro Cilik yang ditulis oleh Hendra Surya merupakan novel cerita berlanjut yang menceritakan kisah seorang anak yatim, Hendi, yang hidup dalam kemiskinan dan menderita gagap sejak kecil. Karena gagapnya itu, dia selalu menjadi bahan ejekan oleh teman-teman sekolahnya. Cibiran, olokan, dan makian sudah menjadi makanan sehari-hari Hendi di sekolahnya, SDN 120 Medan. Setiap hari Hendi hanya bisa memandang iri teman-temannya yang bermain bersama di lapangan sekolah. Kondisi ini membuatnya semakin rendah diri dan selalu menyendiri. Apalagi dengan hadirnya Hartono, anak seorang bintara TNI yang senang mempengaruhi kawan-kawannya untuk merundung Hendi membuat Hendi semakin hilang semangat dan motivasi untuk sekolah. Hartono sering mengajak murid-murid kelas 5 SDN 120 Medan untuk bergerombol mengitari Hendi, sambil mengejeknya dengan sebutan “si gagap”.
BalasHapusSalah satu momen Hendi dipermalukan adalah ketika pelajaran bahasa Indonesia di kelasnya. Saat itu, ia diminta untuk membacakan teks yang ada di buku pelajarannya. Hendi terperanjat kaget. Apalagi yang diminta membaca teks sebelumnya adalah Hartono, murid yang penuh percaya diri dan memiliki suara lantang. Hendi gelagapan ketika Ibu Erika menyuruh dirinya untuk melanjutkan bacaan. Gagapnya menjadi sumber masalah ketakutan Hendi.
Seluruh teman yang mendengar kegagapan Hendi lantas mencibir dan menertawakannya. Hendi sangat sedih melihat teman-teman yang memandangnya dengan tatapan sinis dan mengejek. Timbul gejolak dalam hatinya untuk segera berlari meninggalkan kelas. Karena tak kuat menahan malu, Hendi segera berdiri dari tempat duduknya, namun gerakannya terhenti karena tertahan oleh tangan yang melarangnya untuk pergi. Hendi menoleh ke belakang, ternyata Ibu Erika yang mencegahnya untuk pergi dari kelas.
Ketika waktu istirahat kedua tiba, sesuai janjinya Hendi pergi ke ruang guru untuk menemui Ibu Erika. Tujuan Ibu Erika mengajak Hendi menemuinya adalah untuk memotivasi dan mencari strategi untuk membangkitkan rasa percaya diri Hendi agar mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Ibu Erika memanggil lembut Hendi, tersenyum manis kepadanya lantas menyodorkan teh dan berbagai kue enak kepada Hendi untuk dimakan bersama-sama. Hendi sumringah, ekspektasinya tentang hukuman yang akan diberikan ternyata tidak benar. Dia merasa tidak percaya diberikan jamuan istimewa oleh Ibu Erika. Ibu Erika memperhatikan Hendi dengan tersenyum, ia merasa senang melihat anak didiknya menikmati kue buatannya dengan bahagia. Kini wajah Hendi tidak lagi muram dan kusam seperti biasanya.
Kelebihan buku: sangat menarik untuk dibaca
Kekurangan: bahasa nya agak susah untuk dimengerti
(Naura Rahma XII A5 / 14)