Pondok Baca Sekayu
Pondok Baca Sekayu
Identitas buku:
Judul buku : Pondok Baca Kembali ke Semarang
Nama pengarang : Nh. Dini
Nama penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Alamat penerbit : Kompas Gramedia Building, Blok I,
Lantai 5 Jl. Palmerah Barat 29-37, Jakarta 10270.
Tahun terbit : 2011
Ukuran buku : 13.5 × 20 cm
Ketebalan buku : 1,5 cm
ISBN : 978-979-22-6635-1
Jumlah halaman : 256 halaman
Buku “Pondok Baca Kembali ke Semarang” ini merupakan salah satu karya yang ditulis oleh Nh.Dini. Beliau merupakan seorang sastrawan dan penulis yang telah melahirkan berbagai karya besar, tak terkecuali dengan karya satu ini yang diterbitkan pada tahun 2011 dengan judul “Pondok Baca Kembali ke Semarang”. Buku ini secara garis besar menceritakan tentang kisah tokoh “aku” semasa hidupnya, dengan pondok bacaan yang ia buat di rumah Sekayu. Buku ini terdiri dari beberapa bab yang sangat menarik untuk dibaca. Kali ini, saya akan mengulas di bab pendahuluan dan bab satu. Apabila anda tertarik dan ingin tahu lebih lengkap mengenai buku ini, anda dapat membaca buku “Pondok Baca Kembali ke Semarang” di perpustakaan terdekat atau dapat membelinya secara pribadi.
Pada bab pendahuluan, buku ini bercerita mengenai awal mula dari keinginan tokoh “aku” untuk pulang dan menetap ke tanah lahirnya, Kota Semarang, Indonesia, pada tahun 1980 setelah ibunya meninggal dunia. Sebelumnya, tokoh “aku” menetap di negara Prancis bersama suaminya. Namun, setelah proses perceraian yang mereka berdua alami, keinginan tokoh “aku” semakin besar untuk kembali menetap di Kota Semarang.
Sebelum kepulangannya ke Kota Semarang, tokoh “aku” pergi ke Jakarta terlebih dahulu untuk operasi pengangkatan rahim. Disana, ia menginap di rumah bibinya, Suratmi. Sejujurnya, rumah ini tidak akan cukup apabila harus menampung seluruh orang termasuk Suratmi dan sekeluarga. Oleh karena itu, tokoh “aku” berniat untuk merenovasi bagian belakang rumah yang akan digunakan sebagai tempat hunian untuk dirinya sendiri.
Melalui keputusan hasil perceraian yang ia lakukan dengan suaminya di pengadilan, tokoh “aku” mendapatkan setidaknya sedikit uang, untuk menutupi kebutuhan guna membangun kembali bagian belakang rumah. Meskipun, sebenarnya tokoh “aku” berhak mendapatkan uang lebih dari hasil perceraian dengan mantan suaminya. Hal ini sesuai dengan perjanjian kontrak yang menegaskan apabila terjadi perceraian maka harta akan dibagi dua sama rata. Namun, nahasnya, setelah diputuskan oleh pengadilan sipil di Kota Nante, Prancis, uang yang diberikan kepada tokoh “aku” hanya satu banding tiga puluh dari milik mantan suaminya.
Meskipun begitu, tokoh “aku” tetap mensyukuri hal tersebut dan meminta tolong kepada Bondan Winarno untuk membantunya. Tokoh “aku” juga harus mengurus berbagai hal mengenai kepindahannya dari berkewarnegaraan prancis menjadi berkewarnegaraan Indonesia. Sembari menunggu berbagai surat menyurat selesai, tokoh “aku” berniat terbang ke kota Semarang untuk melihat proses pembangunan bagian belakang rumah. Satu minggu berada di Semarang, dan dua pekan lainnya berada di Jakarta. Masa hidup bolak-balik Jakarta-semarang -Jakarta pun dilakoni oleh tokoh “aku”.
Selang beberapa waktu, rumah sekayu yang berada di bagian pojok belakang pun jadi. Tokoh “aku” pun membuka lembaran baru dengan aktivitasnya sebagai pengarang. Tokoh “aku” merintis karirnya sebagai pengarang dengan perlahan namun pasti. Hingga akhirnya, ia mulai sukses di kampung halamannya. Pada sore hari, di sela-sela hiruk-pikuk kesibukan tokoh “aku” dalam mengetik dan merangkai kisah baru untuk dinikmati berbabagi kalangan, terdengar suara kebisingan dari sisi barat tempat tokoh “aku” tinggal. Suara tersebut berasal dari anak-anak yang sedang tertawa gembira bermain bersama.
Satu pemikrian ide pun muncul dari tokoh “aku” yaitu untuk mengajak anak-anak tersebut ke rumah sekayu yang baru saja ia bangun untuk membaca buku. Keinginan ini berasal dari mimpi tokoh “aku” untuk menerapkan budaya membaca kepada anak-anak. Lantas, tokoh "aku" pun berpikir bahwa ide ini akan sangat menakjubkan apabila terlaksana dengan baik. Ruangan bekerja tokoh "aku" pun terlihat cukup menampung seluruh anak-anak atau para tamu tersebut. Tak berselang lama, tokoh "aku" pun langsung mengurus berbagai keperluan untuk pembangunan pondok baca kecil tersebut.
Hingga akhirnya, dikirimkan beberapa surat perkenalan beserta permohonan bantuan yang biasa disebut proposal kepada beberapa penerbit. Taman bacaan itu pun diberi nama “Pondok Baca Nh. Dini” atau disingkat sebagai “PB”. Namun, memang hukum untuk tak mengharapkan manusia itu benar adanya, beberapa penerbit yang mengirimkan buku hanya memberikan beberapa buku simpanan yang tidak laku. Meskipun begitu, tokoh “aku” pun tak patah semangat karena niatnya yang begitu gigih dalam membantu anak-anak tersebut memiliki budaya gemar membaca.
Demikanlah, isi dari bab pendahuluan pada buku berjudul “Pondok Baca Kembali ke Semarang”. Secara keseluruhan, pada bab ini menceritakan tentang kehidupan awal tokoh “aku” di Kota Semarang. Pada bab ini, diceritakan secara runtut bagaimana perjalan tokoh “aku” yang semula tinggal di Prancis hingga akhirnya membulatkan tekad untuk kembali ke Kota Semarang. Tak terkecuali, pada bab ini juga diceritakan mengenai asal muasal dari ide membuat pondok bacaan.
Sejauh ini, buku “Pondok Baca Kembali ke Semarang” ini menggunakan kata-kata yang masih bisa untuk dipahami meskipun diselipkan beberapa majas atau gaya bahasa didalamnya. Kemudian, entah mengapa, setiap rangkaian atau susunan kalimatnya membuat saya sebagai pembaca menjadi tertarik untuk terus mengetahui kisah selanjutnya. Oleh karena itu, setelah bab pendahuluan selesai dibaca, saya akan melanjutkan review pada bab satu buku ini.
Berbagai buku pun telah didatangkan dari berbagai penerbit. Tokoh “aku” pun tak luput untuk memberi tahu kepada pihak berwajib mengenai pondok baca yang akan dibuka di Kampung Sekayu. Pada masa itu, seluruh kegiatan yang menyentuh kepentingan umum akan terus dipenuhi oleh kecurigaan. Sehingga, tokoh “aku” pun memutuskan untuk ke kantor polisi dalam rangka memaparkan keinginannya untuk membuka pondok bacaan.
Setelah kunjungan ke pihak polisi selesai, tokoh “aku” banyak mendengar bisikan-bisikan tetangga yang mencurigai bahwa pondok bacaan yang dibuat tokoh "aku" tersebut berisi buku bacaan kafir mengingat bahwasannya tokoh “aku” merupakan pindahan dari luar negeri. Pada masa itu sendiri, memang banyak desas-desus buruk tentang orang yang tinggal atau pernah menetap di luar negeri. Namun, tokoh “aku” pun tak menghiraukan hal itu dan tetap mengundang mereka ke pembukaan pondok bacaan.
Pada masa itu, air minum didalam botol masih belum dipasarkan secara luas, sehingga setelah tamu-tamu datang, tokoh “aku” dan lainnya berniat untuk membuat hidangan teh hangat manis dengan pisang goreng. Tak berselang lama, akhirnya, waktu untuk menjelaskan satu persatu mengenai buku yang ada pada pondok bacaan pun tiba. Penjelasan ini dimulai dengan buku-buku yang bertemakan tentang negara Indonesia. Tokoh “aku” menjelaskan dengan runtut satu per satu buku yang ada. Cerita pun berlanjut dengan tokoh “aku” yang menjelaskan segala hal tentang pondok bacaan.
Pondok bacaan pun resmi dibuka pada tanggal 11 maret 1986. Tanggal tersebut memang sengaja dipilih khusus oleh tokoh “aku”. Pada hari pertama itu, 12 anak praremaja dan remaja datang mendaftarkan diri menjadi anggota. Hingga, hari-hari selanjutnya semakin banyak yang mendaftar. Namun, setelah beberapa hari dibuka, tokoh “aku” pun menyadari terjadinya alokasi fungsi dimana yang awalnya pondok bacaan dibuka dengan tujuan sebagai tempat membaca justru digunakan sebagai ruang pertemuan. Anak-anak yang datang tersebut cenderung belum mengetahui bagaimana berperilaku didalam sebuah pondok bacaan.
Contohnya, ketika terdapat seorang anak yang asyik membaca buku didalam pondok bacaan, tiba-tiba datang seorang anak lain yang memukul kepala anak tersebut dengan maksud sebagai sapaan akrab. Hal itu menyebabkan keduanya justru menjadi saling bergurau serta berbincang satu sama lain dengan volume suara yang cukup keras. Tak jarang, tokoh “aku” mengingatkan anak-anak tersebut supaya bisa kembali diam dan tertib.
Selama beberapa hari terakhir ini memang suasana di pondok bacaan sudah tidak kondusif. Tokoh “Aku” pun mengambil simpulan bahwasannya anak-anak yang datang ke pondok bacaan ini masih belum mengerti dengan jelas mengenai fungsi dari sebuah pondok bacaan. Mereka cenderung untuk belum terbiasa meluangkan waktu mereka dalam membaca selama beberapa jam atau bahkan menit untuk membaca buku.
Sehingga, tokoh “aku” pun berniat untuk memberikan semacam penjelasan mengenai peraturan yang ada di pondok bacaan tersebut. Aturan-aturan tersebut ditulis oleh tokoh “aku” diatas selembar kertas yang akan dibagikan ketika pulang nanti. Para anak-anak yang mendapatkan lebih dari tiga kali teguran akan diberi hukuman yaitu tidak boleh datang ke pondok bacaan selama seminggu. Teguran tersebut ternyata berhasil dilakukan. Hal itu terlihat pada hari-hari selanjutnya, anak-anak menjadi lebih tertib dan sopan ketika berada di pondok bacaan.
Pada hari yang sama, ketika tokoh "aku" membacakan peraturan-peraturan tertulis untuk para tamu pondok bacaan, tokoh “aku” juga menyampaikan program baru yang ia buat yaitu “Latihan Bahas” atau “LB” dimana kegiatan tersebut berupa menyampaikan kembali isi buku yang telah dibaca.
Hari-hari berlalu dengan tokoh “aku” yang fokus membangun pondok bacaan supaya semakin banyak dikenal orang. Tokoh “aku” mengelola pondok bacaan dengan maksud tak hanya untuk membuat anak-anak suka membaca tetapi juga untuk mengajarkan bagaimana cara bergaul dan hidup dalam masyarakat. Menurut tokoh "aku” menjadi orang yang pandai saja tidak cukup agar bisa dikatakan sebagai anggota masyarakat yang baik, karena hidup dimulai dari hal-hal kecil yang bahkan mungkin terlihat sepele namun sangat berharga.
Kembali membahas tentang pondok bacaan, pondok bacaan juga memiliki peraturan lain yaitu tidak boleh membawa buku pinjaman pulang. Hal itu dikarenakan menurut tokoh “aku”, buku yang dipinjam kemudian dibawa pulang akan memiliki peluang besar untuk kembali dengan keadaan kotor, rusak, atau bisa saja tidak dikembalikan. Namun, tokoh “aku” akan memberikan penghargaan khusus bagi pengunjung yang berprestasi, mereka akan mendapatkan hadiah untuk dapat meminjam satu buku atau dua majalah untuk dibawa pulang dalam dua pekan. Apabila buku kembali dengan keadaan rusak, maka sang peminjam akan diberikan sanksi.
Sebenarnya, tokoh “aku” pernah memperbolehkan para tamu untuk membawa pulang buku yang dipinjam. Namun, dari 11 buku yang dipinjam, hanya dua buku saja yang kembali dengan utuh dan bersih. Sedangkan, pendapatan tokoh “aku” sebagai pengarang sungguh hanya cukup untuk membiayai hidupnya sehingga tidak memungkinkan baginya untuk terus menerus menggantikan buku yang telah rusak.
Tokoh “aku” mendapatkan sebagian pendapatannya dari hasil menjadi pembicara di suatu seminar. Meskipun, banyak yang mengecap tokoh “aku” sebegai pegarang “pasang tarif” karena dianggap sebagai satu-satunya pengarang yang meminta honor ketika diundang dalam seminar maupun juri dalam perlombaan. Namun, tokoh “aku” tetap tidak malu dibicarakan dengan demikian karena baginya sudah sewajarnya apabila ingin meminta imbalan jasa.
Pernah suatu hari, tokoh “aku” diminta untuk menyajikan suatu makalah pada suatu pertemuan nasional. Tokoh "aku" pun berpikir karena acara tersebut bertaraf nasional, seharusnya panitianya juga cukup banyak. Sehingga, tokoh ”aku” pun mengajukan honor sebesar empat digit setelah sebelumnya ditawarkan tiga digit. Hal itu dikarenakan, tokoh “aku” harus membagi honor tersebut untuk pondok bacaan. Tak disangka, dosen dari sebuah universitas itu justru memandang rendah profesi pengarang tokoh "aku" dan tak menyetujui honor yang diajukan. Namun, tokoh “aku” tetap berusaha berpikir positif. Menurut tokoh “aku”, apabila ia sudah sampai ditahap diundang dalam forum yang berisi banyak orang terpelajar, maka itu merupakan pencapaian yang cukup besar. Sehingga, ia mengikhlaskan kejadian tersebut. Hingga akhirnya, tak terasa selama satu tahun pondok bacaan telah melayani banyak tamu. Menurut tokoh “aku”, tugasnya hanyalah melakukan selurus mungkin apa yang telah diyakini dan digariskan.
Selesai sudah, sinopsis atau mungkin bisa disebut sebagai inti cerita dari bab satu buku ”Pondok Baca Kembali ke Semarang” ini. Secara garis besar, pada bab satu ini, buku ”Pondok Baca Kembali ke Semarang” menjelaskan tentang pondok bacaan yang telah dibangun oleh tokoh “aku” beserta suasana serta latar yang ada pada saat itu. Tak ketinggalan, pada bab satu ini juga menjelaskan berbagai kejadian apa saja yang terjadi di pondok bacaan. Meskipun pada bab satu ini hanya berisi perkenalan mengenai kehidupan tokoh “aku” dengan pondok bacaan, pembaca sudah dapat mengambil sedikit hikmah dari buku ini. Hal ini terlihat dari salah satu kalimatnya yang ada pada bab satu yaitu "menjadi orang yang pandai saja tidak cukup agar bisa dikatakan sebagai anggota masyarakat yang baik, karena hidup dimulai dari hal-hal kecil yang bahkan mungkin terlihat sepele namun sangat berharga."
Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena bercerita mengenai kisah klasik namun memiliki banyak makna. Buku ini akan sangat cocok dengan pembaca yang tidak terlalu menyukai buku dengan bahasa berat dan konflik berbelit-belit. Sejauh ini, melalui review yang saya tulis mengenai bab pendahuluan dan bab satu ini, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Sekian, ulasan dari saya mengenai buku “Pondok Baca Kembali ke Semarang”.
Penulis: Shafa Alysia Torry
Pelajar SMA Al-Hikmah Surabaya

Komentar
Posting Komentar