Sebuah Desa Dari Pandangan Burung Punai
SEBUAH DESA DARI PANDANGAN BURUNG PUNAI
Judul buku : Kepak Punai: Kembara Juang Ulayat Rajo Melayu
Penulis : Syafrizaldi Jpang
Tahun terbit : 2018
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 190 halaman
ISBN : 978-602-03-7595-3
Bagian pertama novel ini menceritakan tentang sebuah desa dari sudut pandang burung kepak punai. Burung dengan mata tegas dan bulu hijau dengan campuran kuning di dadanya tersebut mendeskripsikan desa tersebut sebagai desa yang asri karena desa tersebut memiliki kebun sawit, entah milik warga atau perusahaan. Pohon-pohon kelapa sawit ditata sedemikian dan serapi mungkin untuk memudahkan pada pekerja melakukan tugasnya. Kebun sawit tersebut terletak di wilayah dataran rendah dengan suasananya yang khas. Terdapat lubang-lubang di tanah akibat aktifitas truk, genangan-genangan air, serta kubangan yang sering disinggahi babi. Perkebunan sawit dulunya pernah disinggahi oleh gajah, namun para gajah sudah tidak pernah terlihat selama 20 tahun terakhir. Para warga berasumsi para gajah singgah ke tempat lain atau menemukan takdir yang kurang beruntung di tangan pemburu atau menjadi sumber petaka bagi masyarakat yang lahannya didatangi.
Anakan muda karet tumbuh tak beraturan di sela-sela pohon batang, ada juga yang terserak di semah. Entah sengaja atau tidak, namun banyak semak yang terletak sebagai penghias kebun tersebut. Anakan uda juga mudah ditemukan di tanah. Sebagian buah tampak pecah, memperlihatkan bagian dalamnya yang berwarna putih. Mineral dari buah-buah yang pecah ini dimanfaatkan oleh burung punai.
Dekat dengan pangkal batang-batang pohon karet, lelehan getah tampak mengering. Tak ada lelehan getah baru, pertanda petani tidak mengumpulkannya pagi tadi sebab turunnya hujan deras. Menurut petani, jika mereka mengumpulkan getahan dalam keadaan hujan, getah akan larut dengan air hujan dan berakhir akan terbuang. Sehingga ada baiknya untuk menunggu cuara cerah kembali agar tidak terjadi kesia-siaan.
Getah pohon sawit mengalir dari ujung deresan sebelah atas hingga ke batas daun yang terselip di batang yang bisa diraih oleh tangan dan akan menetes sedikit demi sedikit. Di permukaan tanah, petani biasanya menempatkan tempurung kelapa sebagai penampung getah untuk masuk. Petani akan mengecek setiap tempurung secara rutin agar tidak ada tempurung yang terllau penuh hingga membuang getah yang dihasilkan oleh pohon. Jika ada getah yang tumpah, getah tersebut akna tercampur dengan tanah dan akan menjadi kotoran berwarna kehitaman. Terkadang jika warnanya tidak terlalu hitam pekat, petani akan memungutnya dan menyampurnya dengan getah yang putih bersih. Tentunya, hal ini akan memengaruhi kualitas getah serta harganya di pasaran.
Anak-anak petani biasanya disekolahkan di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) untuk melanjutkan pendidikannya ke jejang yang lebih tinggi. Tidak ada yang istimewa dari suasana di siang hari yang terik tersebut. Anak-anak berseragam SD dan SMP melintasi jalan perkebunan dengan motor. Motor merupakan kendaraan lazim yang digunakan oleh warga sekitar, temasuk dengan anak-anaknya. Anak-anak yang belum memiliki SIM dan berbonceng tiga tanpa menggunakan helm ketika mengendarai motor juga dianggap hal yang lazim di desa tersebut. Laju yang mereka gunakan sehari-hari juga tidak lambat dan cenderung menantang maut. Hal ini tidak dipermasalahkan oleh orangtuanya. Rumah-rumah berderet sepanjang jalan merupakan pemandangan yang jarang karena setiap rumah baisanya dijarak sebanyak kurang lebih 10 meter atau bahkan lebih.
Masyarakat di sini beragam budayanya, ada orang Jawa, Melayu, Minangkabau, dan Batak. Kehidupan di desa itu sungguh tentram meskipun terdapat hal-hal yang dianggap tidak lazim oleh orang perkotaan.
Suatu hari di tahun 2017, terdapat dua pria yang beradu mulut karena perbedaan opini tentang penamaan sungai. Sungai yang dimaksud merupakan sungai yang penting karena menghidupi desa tersebut. Mereka berselisih dengan Bahasa Melayu yang khas dengan gerakan tangan mengerucut. Perselisihan tersebut diselesaikan dengan musyawarah warga sekitar.

Novel yang berjudul Kepak Punai : Kembara Juang Ulayat Rajo Melayu karya dari Syafrizaldi Jpang ini menceritakan tentang suasana sebuah desa dari sudut pandang seekor burung bernama Kepak Punai. Dimana burung tersebut mendeskripsikan bahwa desa yang ia tinggali merupakan desa yang asri dengan dipenuhi pemandangan perkebunan kepala sawit. Tidak hanya minyaknya saja yang dimanfaatkan tetapi getah dari kelapa sawit tersebut juga dapat dimanfaatkan. Petani biasanya menempatkan tempurung kelapa sebagai penampung getah untuk masuk. Petani akan mengecek setiap tempurung secara rutin agar tidak ada tempurung yang terlalu penuh hingga membuang getah yang dihasilkan oleh pohon. Selain itu, Burung Kepak Punai tersebut juga menggambarkan bagaimana keseharian dari penduduk desa yang dapat hidup tentram walaupun terdapat keberagaman budaya yang terdiri atas orang Jawa, Melayu, Minangkabau, dan Batak.
BalasHapusPada resensi ini, pengarang dapat gamblang menceritakan detail dari cerita novel tersebut, sehingga pembaca dapat tergambar langsung di kepala apa yang ditulis oleh pengarang. Selain itu, pengarang juga menggunakan kata-kata yang mudah dipahami. Karena itu, pembaca tidak akan ada kesalahan dalam mengartikan setiap kalimatnya. Inilah yang menjadikan kelebihan dari resensi ini.
Resensi ini juga tidak luput dari kekurangan. Dimana dalam resensi ini, tidak terdapat amanat yang bisa diambil karena dalam resensi ini belum ada masalah yang muncul sehingga pembaca tidak mendapatkan nilai moral yang dipelajari dan cepat merasa jenuh dengan isi dari resensi ini.
Agar resensi ini menjadi lebih menarik, sebaiknya pengarang memilih bab yang tepat untuk dirangkum yaitu bab yang sudah terdapat masalah yang muncul. Jika merangkum bab yang sudah ada masalahnya, pembaca akan mendapatkan amanat atau hikmah dari isi resensi tersebut dan resensi akan terasa lebih hidup.
(Azkia Noor Azizah XIIA5 / 06)