Suara Menggemparkan

 SUARA MENGGEMPARKAN

 

Judul Buku      : Memburu Muhammad

Pengarang       : Feby Indirani              

Kategori          : Buku Fiksi    

ISBN               : 978-602-291-745-8

Dimensi Buku : 20,5 cm

Halaman         : 210 hlm

Harga              : Rp 69.000

Tahun Terbit   : 2020

 


Dalam novel kedua dari trilogi Islamisme Magis karya Feby Indirani, seorang pemuda mengalami kejadian tidak mengenakkan yang menggetarkan isi hatinya.

Seorang protagonis yang tidak disebutkan namanya baru saja mencoba mengadu nasib di ibu kota untuk menyambung kehidupan. Uangnya yang pas-pas an membuat dia harus mengikhlaskan diri untuk menjadikan sebuah rumah petak sebagai tempat tinggal barunya. Rumah itu terletak di suatu gang sempit dengan suasana yang hangat dan berisik. Seolah tidak berdinding, rumah-rumah petak tersebut nyaris selalu bertukar cerita setiap harinya. Suara bising yang dihasilkan dari sebuah bengkel motor, suara bayi yang selalu menangis tiada henti, suara anak kecil yang berlarian setiap sore, bahkan suara sinetron televisi yang diputar dari rumah sebelah. Suara-suara itu seolah menjadi media yang dijadikan ajang perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling “hidup” di gang tersebut.

Tidak hanya itu, bagi sang protagonis, tinggal di gang sempit juga membuat ia seolah-olah menghadiri parade bau setiap harinya. Pagi hari adalah aroma kolonye murah orang-orang yang berangkat bekerja, lalu ketika hari mulai terik seketika akan bau cabai, bawang merah, kecap, dan aneka bumbu masakan yang kerap memerihkan mata dan menusuk indera penciuman. Masuk petang hari menjelang malam, terkadang mulai tercium bau sampah yang menunggu untuk diangkat dan diangkut ke tempat pembuangan terakhir. Bau sampah ini seringkali bercampur dengan bau keringat para penghuni yang kembali dari tempat mereka bertarung dengan pekerjaan masing-masing.

Hampir setiap sore, tercium juga bau “itu”. Bau minyak kayu putih yang bercampur dengan aroma lemari kayu dari pakaian Bu Halidah yang terhidu olehku, setiap kali ia hendak berpamitan sebelum pergi mengaji. Bu Halidah berperawakan pendek kecil, dengan tubuh yang membungkuk digerogoti masa. Ia tetap rutin mengenakan kerudung meski helaian rambutnya seringkali seperti berlomba mengintip bertemu matahari. Ketika ia tertawa, kerutan di wajahnya akan semakin tampak, menciptakan pola seperti ukiran yang menunjukkan pertambahan masa pada usianya, setia menemani bercak-bercak hitam yang menyebar di sekujur pipinya.

Bu Halidah memiliki seorang putri, yang kini menjadi ibu tunggal. Kadang, putrinya datang berkunjung bersama dengan anak lelakinya. Siti, itulah nama anak Bu Halidah yang menurut penuturan beliau bekerja di sebuah minimarket 24 jam, dengan shift kerja yang panjang meski gajinya tidak seberapa. Jika mereka datang, sang protagonis akan merasa senang, karena ia pasti akan kecipratan sedikit rezeki makanan dari Bu Halidah.

“Saya masak banyak hari ini. Cucu saya datang,” ujarnya, seperti biasa dengan senyum lebar yang mempertontonkan gigi ompongnya. “Anak si Siti, sudah setinggi ini.” Tangannya terangkat setinggi kepalanya.

Ada kalanya sang protagonis membalas jasa Bu Halidah dengan berbaik hati menjadi bengkel payung dadakan, payung Bu Halidah yang lebih sering dijadikannya tongkat ketika mengaji, terkadang macet tidak bisa dipakai. Di usia Bu Halidah yang nampaknya sudah 70 tahun, pergi ke mushalla dan mengaji adalah satu-satunya kegiatan yang ia lakukan sehari-hari.

“Ibu sehat Bu?” sapa sang protagonis ketika sosok Bu Halidah dengan punggung melengkung nampak tertatih-tatih keluar dari rumah, sembari membawa payung yang sudah seperti sahabatnya itu. Cuaca pada hari itu sebenarnya sangat cerah, namun sepertinya Bu Halidah membutuhkan pelindung dari teriknya sinar sang surya yang terasa semakin menyengat di kulit tuanya itu.

“Sudah lama ya, tidak hujan.” Ungkap beliau dengan senyum lebarnya yang tidak pernah pudar, dengan suara yang lantang sambil menengadahkan wajahnya, memastikan bahwa langit tidak sedang menggugurkan butiran air hasil kondensasi beragam cairan di muka bumi ini. Sang protagonis hanya menanggapi dengan mengangguk hormat, menyadari bahwa sepertinya Bu Halidah tidak mendengar pertanyaannya barusan. Ia memaklumi itu, terkadang telinga orang-orang tua memang tidak seramah senyuman yang seringkali terpancar di wajah mereka.

“Hati-hati di jalan Bu ...” pesan sang protagonis sebelum Bu Halidah melambaikan tangannya yang tidak memegang payung. Tubuhnya yang pendek, ringkih, dan tertatih-tatih mulai berjalan menjauh. Karena cuaca memang sedang bersahabat, ia memindahkan payungnya untuk digunakan sebagai tumpuan tubuhnya yang sudah rentan itu. Tubuhnya semakin menjauh dan hilang di ujung gang sempit ini, namun aroma minyak kayu putih dan jejak lemari kayu masih senantiasa menari-nari di dalam saraf pernapasan sang protagonis. Baginya, Bu Halidah adalah sosok “penanda” bagi kampung ini, kepergiannya ke mushalla seolah menjadi penanda waktu.

Akan tetapi, di gang yang sibuk ini waktu memang begitu mudah terlupakan. Setiap orang akan sibuk terbenam di dalam pikiran dan urusannya masing-masing, di tengah deru dan bingar di sekelilingnya. Sampai suatu hari, ada bau busuk yang terlalu menyengat hingga mau tak mau memaksa setiap orang di kampung itu untuk mengambil jeda, menyadari waktu.

Awalnya semua orang mengira aroma tidak mengenakkan itu berasal dari sampah menumpuk yang belum sempat dibersihkan, termasuk sang protagonis, ia juga sempat berpikiran hal yang serupa. Namun, Pak Mukimin yang merupakan seorang pedagang sayur keliling menyimpulkan bahwa bau itu berasal dari rumah Bu Halidah. Maka, ia dan warga lain pun bergotong royong nekat mendobrak pintu rumah tersebut.

Alamak, betapa menyedihkannya pemandangan yang tampak di netra mereka semua. Bu Halidah, sosok “penanda” bagi kampung mereka, terlihat tertelungkup di lantai. Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya, selain kondisi jenazahnya yang sudah mulai rusah digerogoti oleh bakteri pembusuk. Betapa terkejutnya mereka semua setelah mengetahui bahwa Bu Halidah telah tiada dan tidak ada yang menyadari hingga memasuki hari keempat. Setelah dihubungi warga, anaknya pun memutuskan untuk langsung memakamkan jasad ibunya, tanpa memandikannya terlebih dahulu.

Perasaan bersalah menggerogoti hati sang protagonis. Bagaimana bisa ia tak sadar ketika Bu Halidah meregang nyawa tepat beberapa langkah dari rumahnya. Tidak merasakan, mendengar, dan melihat pergerakan malaikat maut menjemputnya. 

Pada Hari Minggu ketika jenazah Bu Halidah ditemukan. Topik Bu Halidah menjadi bahan pembicaraan di gang itu. Bagaimana Pak Mukimin membongkar pintu rumahnya, jenazahnya ditemukan, lalu kemudian dimakamkan. Dan semua hal lainnya yang kini menjadi pembicaraan hangat.

Akan tetapi, kampung yang sibuk dan serba cepat itu dengan mudahnya melupakan kejadian yang membuat nyeri ulu hati ini. Topik yang hangat sudah mulai bergeser menjadi topik-topik lainnya. Sementara itu, sang protagonis juga sibuk menyambung hidup dari hari ke hari. Sampai akhirnya, ia mulai mendengar suara-suara itu.

Dimandiin dong .... dimandiin ....

Dimandiin dong .... dimandiin ....

Dimandiin dong .... dimandiin ....

Saat itulah ia mulai mendengarnya, suara yang entah datangnya darimana. Sang protagonis yang sedang membantu memperbaiki motor tetangga segera berdiri, menengok ke kanan dan ke kiri. Suara itu terdengar dengan jelas, suara yang parau, berasal dari pita suara yang sudah digerogoti usia.

Sang protagonis beranggapan bahwa itu hanyalah khayalannya semata, akibat dari menenggak anggur murah semalaman. Namun ketika ia melanjutkan pekerjaannya, suara itu kembali terdengar. Dan, sepertinya berasal dari rumah almarhumah yang kini sudah tak berpenghuni.

Suara itu kian bernada memohon dan mengiba. Bulu kuduknya pun berdiri, teringat cerita bahwa jenazah Bu Halidah tidak dimandikan dan langsung dikuburkan begitu saja. Ia semakin bertanya-tanya, berusaha mencari penjelasan atas kejadian yang baru saja ia alami. Apakah itu suara Bu Halidah dari alam lain? Ataukah itu suara malaikat? Atau bahkan setan? Sang protagonis yang mulai merasa panik pun akhirnya menghubungi guru mengaji, Pak RT, dan para tetangga. Awalnya ia hanya dianggap mengigau, dan kegelisahannya diabaikan begitu saja. Namun keesokan harinya, tukang sayur juga mendengarkan suara yang sama. Permohonan yang sama.

Dimandiin dong .... dimandiin ....

Kini, semakin banyak warga yang bersaksi telah mendengarkan suara itu. Sampai akhirnya seorang guru mengaji berceletuk. 

"Kampung ini bisa terkutuk."

"Ketika ada jenazah yang gagal untuk diurus dengan baik, maka semua orang di kampung itu akan kena dosanya." Ujar beliau.

"Apa boleh buat, mungkin harus dibongkar makamnya ...." kali ini seorang warga ikut mengutarakan pendapatnya.

Semua warga termasuk Pak Ustadz pun terdiam. Biaya untuk membayar tukang gali kubur, siapa yang hendak menanggung lagi setelah biaya pemakaman yang sudah ditanggung oleh seorang warga. 

"Kasian Bu Halidah, semasa hidupnya ia adalah seorang yang taat. Namun ketika meninggal, jenazahnya bahkan tidak dimandikan. Langsung dikuburkan begitu saja." Seorang warga lainnya kembali berpendapat.

Kepala-kepala warga pun tertunduk lesu, suasana menjadi senyap, kata-kata yang hendak terlontar kembali tertelan lagi ke pusaran hati. Setiap kali mendengar namanya disebut, rasa bersalah semakin menghujam perasaan sang protagonis. Bagaimana ia tertawa, bagaimana kerutan wajahnya menjadi temannya di usia tua, dan bagaimana suaranya yang keras dan ramah tidak pernah lelah menyapanya setiap hari.

Keesokan harinya ia memutuskan untuk menziarahi makam Bu Halidah, entah kenapa, ia merasa terpanggil karena tidak sempat bertemu dengannya di masa-masa terakhir ia hidup. Makam itu terlihat baru dan bersih. Tertulis namanya pada nisan, sang protagonis membacakan Al-Fatihah dengan syahdu. Ia jarang berdoa, tapi kali ini ia melakukannya dengan sepenuh hati.

Ia terpejam, terus berdoa, hingga terdengar suara langkah kaki mendekat. Lalu duduk beberapa meter darinya. Siti, putri Bu Halidah yang ternyata duduk di seberangnya. Menaburkan bunga di atas makamnya, lalu menuangkan air dari botol. Satu botol habis, lalu ia tuangkan air dari botol kedua. Lalu berulang lagi hingga botol ketiga. Tanah makam Bu Halidah menjadi basah, gembur setelah dituangkan air oleh anaknya. 

"Kenapa kamu tega-teganya tidak memandikan jenazah ibumu sendiri?" Sang protagonis bertanya dengan nada yang tegas. Namun, perasaan sedih itu masih sangat kentara, terdengar dari bagaimana suaranya sedikit bergetar. Mencoba menahan tangis karena amarah yang memuncak.

Ia sudah hendak meninggalkan makam tersebut, ketika suara tangis seorang perempuan terdengar. 

"Aku ... sudah tidak sanggup ... melihat jasadnya yang ... sudah terlanjur membusuk ..." kalimatnya tersendat di sela tangisnya yang deras. 

Siti pecah seperti bendungan yang bobol.

"Suara itu ... aku juga dengar ..." ucap Siti melemah. Dia meringkuk di pinggiran makam, dan sang protagonis hanya bisa diam membisu.

Dimandiin dong .... dimandiin ....

Sang protagonis melihat sosok Bu Halidah yang berkerudung miring, dengan helai rambut putih yang mengintip di sana sini, berdiri di sisi batu nisannya, lalu berjalan perlahan tertatih-tatih bertumpu dengan payung. Ia pandangi punggungnya yang melengkung itu, menjauh ketika adzan maghrib berkumandang.

Air mata jatuh membasahi pipinya. 


 

 

Komentar

  1. Dalam novel ini “Suara Menggemparkan” berisi seorang protagonis yang tidak disebutkan namanya ia mencoba mengadu nasib di ibu kota untuk menyambungkan kehidupannya. Ia bermodalkan uang pas-pas an untuk menjadikan sebuah rumah petak sebagai tempat tinggalnya di ibu kota tersebut. Rumah tersebut letaknya di suatu gang sempit berlatarbelakang suasana yang berisik ntah dari suara bengkel motor, suara bayi menangis yang tak ada hentinya, suara anak kecil yang berlarian kesana kemari bahkan terdengar suara sinetron televisi yang diputar dari tetangga sebelah rumah. Dari keadaan gang yang ditempati seorang protagonis tersebut ia mulai berfikir untuk menjadikan siapa yang paling hidup diantara gang itu.


    Meskipun judul buku terkesan mudah dipahami yang diibaratkan hanya dengan satu kali perjalanan naik taksi, namun sebenarnya juga tidak semudah ini. Dalam buku itu seorang protagonis tetapi hatinya tidak protagonis karena ia ingin menjadikan gang yang ditinggali di ibu kota itu untuk beradu nasib melanjutkan hidupnya dengan modal uang pas-pas an. Lalu, bahasa yang dibawakan pada buku ini sedikit asing atau tidak familiar.
    .
    Buku ini mampu memberikan gambaran mengenai kehidupan seorang protagonis meskipun namanya tidak disebutkan tetapi sang pembaca bisa langsung mengetahui bagaimana watak dan suasana dalam cerita tersebut. Pembaca juga bisa mendapatkan amanat setelah membaca buku itu, karena “tidak semua orang protagonis mempunyai hati yang baik”. Novel ini tidak membosankan untuk dibaca.

    Supaya cerita novel tersebut lebih menarik lagi untuk dibaca sebaiknya ending pada cerita tersebut bisa dibuat happy ending, kalimat yang digunakan diperbaiki agar tidak jenuh untuk membacanya. Dan buku ini disarankan untuk orang dewasa karena dalam buku itu termuat banyak sekali amanat atau yang bisa diambil.

    Oleh : Rania Devi Vianitasari/18

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MANOWA DAN PELABUHAN BARUNYA

Hiruk Pikuk Keseharian Lupus

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin